Better You

7 Cara Ikhlas Memaafkan Orang Lain

  by: Alexander Kusumapradja       16/6/2018
  • Ladies, Hari Raya Idul Fitri sudah memasuki hari kedua. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu tradisi paling penting yang kita lakukan di hari nan fitri ini adalah meminta sekaligus memberi maaf atas semua kesalahan lisan dan tindakan yang sengaja atau tidak pernah kita lakukan pada orang-orang di sekitar kita. Namun, apa benar kita selama ini telah sungguh-sungguh tulus melakukannya dan tak hanya sebatas kebiasaan saja? Sebagai manusia dengan ego masing-masing, baik meminta maupun memberi maaf ternyata memang tidak semudah yang kita kira.

    Emosi negatif yang muncul dari pengalaman tidak menyenangkan seperti patah hati, dibohongi, ditolak, dicemooh, diperlakukan tidak adil bila dibiarkan menumpuk bisa menjadi dendam dan racun yang akan menyakiti diri kita sendiri. Salah satu cara terpenting untuk menghindarinya adalah dengan memaafkan orang tersebut, meskipun kita tahu memaafkan bukan berarti melupakan. Walaupun sudah merasa bisa memaafkan, kenangan menyakitkan yang diperbuat orang tersebut masih terus menempel di benakmu. Bisa jadi hal itu karena kamu sebetulnya belum ikhlas. Tak jarang, sebelum memaafkan orang lain, kita justru perlu memaafkan diri sendiri terlebih dahulu. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kita pikirkan dan coba untuk belajar memaafkan dengan ikhlas:




    1. Kenali emosimu

    Saat kamu merasa sakit hati atas tindakan orang lain, biarkan dirimu merasakan emosi yang muncul. Kenali emosi yang muncul di dirimu, entah itu marah, sedih, kecewa, atau emosi lainnya. Embrace your emotion tapi juga jangan terbawa emosi dengan langsung bereaksi atau mengekspresikannya dengan gegabah. Ambil napas dalam-dalam agar tubuhmu tidak menegang dan menjaga kepalamu tetap dingin. Wajar saja bila pikiranmu masih berkecamuk dengan emosi tersebut, tapi ingat: berpikir untuk balas dendam dan ganti menyakiti orang tersebut hanya akan menyakiti dirimu sendiri juga. Seperti lingkaran setan, tidak akan ada yang diuntungkan dengan saling balas menyakiti.

    2. Berempati dan menempatkan diri di posisi orang lain

    Kebanyakan orang tidak akan dengan sengaja ingin menyakiti orang lain. Biasanya mereka yang melakukan hal tersebut dengan sengaja justru mereka yang sadar atau tidak juga terluka dan menyimpan dendam di diri mereka. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah menyadari sisi manusiawi mereka instead of menganggap mereka sebagai monster atau penjahat. Alih-alih fokus pada perbuatan mereka yang menurutmu negatif, coba cari tahu alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Kita semua pernah melakukan kesalahan, dan seringkali kita tak sadar telah melakukannya.



    3. Menyadari bahwa kita tidak bisa mengatur orang lain

    Salah satu alasan kita sulit memaafkan orang lain adalah karena kita berharap orang tersebut bertindak sesuai harapan kita. Misalnya, kamu berharap orang tersebut yang meminta maaf lebih dulu. Faktanya, kita tidak bisa mengatur tindakan orang lain. Yang bisa kita kontrol adalah tindakan dan reaksi kita sendiri. Kita tidak bisa mencegah orang menyakiti kita, namun kita bisa memilih apakah kita akan tersinggung atas hal itu atau tidak. Pilihan sebetulnya ada di tangan kita.




    4. Jangan terperangkap masa lalu

    Pikiran kita suka memutar kembali kenangan menyakitkan. Bila kita hanya fokus pada hal tersebut, hal itu secara psikologis disebut rumination, yaitu pikiran-pikiran yang muncul tentang suatu kejadian di masa lalu yang tidak mengenakkan dan bisa mengarah pada depresi, kecemasan, dan ketakutan. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Menyimpan dendam berarti terpenjara dalam masa lalu dan yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa hal itu sudah berlalu dan kita telah melewatinya. Bila kita menyadari hal tersebut, rasa ikhlas bisa muncul dengan lebih mudah.


    5. Jangan terobsesi

    Terkadang keengganan untuk memaafkan justru berasal dari keengganan kita untuk lepas dari sakit hati. Misalnya, kamu terus membayangkan skenario paling tepat untuk membalas dendam pada orang tersebut atau secara obsesif mengamati kegiatan mereka di media sosial. Ada bagian dalam diri kita yang justru menikmati semua perasaan negatif tersebut dan tak mau melepaskannya. Bila kamu menemukan dirimu berada dalam posisi tersebut, pikirkan apakah tindakan tersebut bermanfaat bagimu atau tidak. Jika hal tersebut hanya menyita pikiranmu, coba lepaskan dan kembali fokus untuk kebahagiaan hidupmu sendiri.

    6. Memaafkan adalah proses

    Terkadang kita sakit hati terlalu dalam hingga rasanya mustahil melupakan dan memaafkan hal tersebut. Namun, kita harus ingat bahwa hal itu memang butuh waktu dan proses. Kita merasa kita telah siap untuk move on, namun ternyata sakit hati itu masih timbul. It’s OK. Itu adalah bagian dari hidup yang tak bisa hilang dalam sekejap. Yang bisa kita lakukan adalah mengenali rasa sakit tersebut, berkaca pada pengalaman dan mental diri sendiri, dan mencoba memaafkan orang yang telah menyakiti kita.

    7. Belajar dari pengalaman

    Memaafkan adalah proses memberi. Terutama bila orang tersebut memang benar-benar meminta maaf padamu, sebetulnya tidak ada alasan untuk membuat mereka terus merasa bersalah. Dan ingat, memberi juga berarti menerima sesuatu. Jika kamu bisa memberi maaf, kamu pun akan mendapat pelajaran berharga dari pengalaman tersebut yang akan membuka perspektif baru dalam hidup.

    (Image: langstrup©123RF.com)