Better You

5 Proses dalam Seni Memaafkan untuk Kesehatan Mental

  by: Givania Diwiya Citta       5/6/2019
  • Terkadang berujar “I forgive you” tak berarti kamu benar-benar bisa merelakan segala kejanggalan yang mengusik. Memaafkan nyatanya merupakan sebuah proses, dan butuh beberapa tahapan untuk meraih state of forgiveness yang mampu memberikan manfaat layak untuk kesehatan mental.


    Terlalu banyak daftar mengganjal yang harus dimaafkan dan yang mesti direlakan demi bisa melanjutkan hidup dengan lebih relaks. Seperti memaafkan rekan kerja yang menyalin ide kamu dan mendapatkan akreditasi atasnya, memaafkan pengendara lain yang membuat kamu terlibat dalam sebuah accident berantai, memaafkan pertengkaran antar sesama saudara, memaafkan kebohongan pasangan atau sahabat, bahkan memaafkan diri sendiri terhadap segala kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukan.




    Dan terkadang saat bibir mengucapkan penerimaan atas kata maaf, kata hati belum berjalan selaras dengan yang dituturkan. Lantas, metode forgive and (or) forget menjadi opsi yang tersedia untuk dijalani. Atau mungkin tanpa sadar… mencoba sudah memaafkan padahal yang dilakukan adalah berusaha melupakannya.


    Maka dari itu, mungkin saat mengunjungi suatu destinasi, ada rasa tidak nyaman yang membuat kamu ingin segera pergi dari sana. Atau saat mendengar beberapa kata spesifik dalam sebuah perbincangan dengan the girls atau saat business meeting – yang membuat kamu mengkorelasikan memori tersebut dengan perasaan sensitif. Even if it reminds you of an unfortunate events that has happened a decade ago. Nyatanya, seni memaafkan belumlah tercapai saat kamu belum meraih penyelesaian atau berdamai dengannya, alias dengan para unfinished business.



    Resolving the Unfinished

    Frase unfinished business digunakan para terapis untuk menggambarkan kenangan dari masa lalu serta emosi yang dikandungnya, yang saat itu dihindari atau ditekan agar tidak muncul. Meski terjadi di masa lampau, dan ekspektasi kamu unfinished business ini akan tamat dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, namun tidak demikian. Semua yang tidak tuntas justru akan menempel dan terasosiasi dengan rasa sedih, marah, takut, gelisah, hingga trust issue, dalam cara kita menjalani hidup di masa kini. Dari mana akarnya? Salah satunya dari keluputan kita dalam memaafkan dan berdamai dengan masalah di masa lalu.


    Semakin lama kita tidak memaafkan ketidaknyamanan yang terjadi – meski berlangsung di luar kesadaran – maka akan semakin sulit untuk menerima hal yang terjadi dalam hidup. Ingat bagaimana Mitch (Albom) butuh medium profesor Morrie dan waktu yang super lama, hanya untuk berdamai dengan pilihan kariernya dan – hingga akhirnya menyentuh dasar permasalahan hidupnya – untuk berdamai dengan penyakit yang diderita sang adik dalam buku memoar Tuesdays with Morrie?


    Apapun yang mengganjal dalam perjalanan hidup, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menerima, memaafkan, berdamai dengannya, dan mengakui bahwa ‘flaw’ tersebut sebagai bagian dari diri kita. Meski flaw itu adalah hasil dari manifestasi masalah interpersonal, atau dampak dari hubungan disfungsional kita dengan individu yang lain. Institusi akademi kesehatan non-profit basis Minessota, Mayo Clinic, melansir pernyataan bahwa memaafkan memiliki kekuatan untuk mereduksi stres dan kegelisahan, memperkuat sistem imun, meminimalisir gejala depresi, merendahkan tensi darah, bahkan meningkatkan kesehatan jantung. Lebih dari itu, memaafkan mampu memicu motivasi kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup – bahkan ilmu sains menyetujui ini – karena membuat kita melihat ‘tebing’ menjadi tidak se-curam itu, seperti hasil studi yang dilansir Social Psychological & Personality Science.




    The Map towards Healing Power

    Kini saatnya posisikan diri menjadi murid alih-alih menjadi korban dari hal-hal unfotunate yang kamu terima. Lalu mari mulai ikuti arahan ini, meski artinya kamu harus mengorek masalah yang ada di masa lalu untuk menuntaskannya, sekali dan selamanya.





    1. Ekspresikan perasaan jika kamu memang butuh untuk berbicara intens dengan seseorang yang menyakiti kamu, baik itu pasangan, sahabat, lingkaran terdekat, atau mereka yang ada dalam hidup kamu. Ungkapkan dengan jujur tentang rasa kecewa dan sedih, namun lakukan dengan respek. Dengarkan apa yang jadi alasan perbuatannya, dan meski ada unsur defensive di dalamnya, namun hindari godaan untuk ‘mengoreksi’. Beranikan diri untuk diskusi sampai akarnya, hingga kedua belah pihak merasa lebih tenang, saling mengerti, dan ada harapan untuk berbaikan. Percayalah, terkadang momen ‘reset’ seperti halnya memulai segala suatu hubungan dari nol, akan menghidupkan dialog relationship dan companionship yang layak diperjuangkan.



    2. Kenali kemarahan kamu. Lisa Bahar, seorang terapis dari Dialectical Behavior Therapy, berujar bahwa memaafkan hanyalah tentang rasa sudi versus kehendak keras. Untuk bisa memaafkan, kamu harus mau mengakui realita yang mengusik rasa marah atau sedih, dan mengakui bahwa kamu bereaksi tersakiti dan belum merelakannya. Dengan begitu, kamu mampu move on ke langkah selanjutnya untuk menerima situasi yang ada, sebagai salah satu perwujudan dari makna memaafkan. “Bukan berarti memvalidasi situasi buruk yang terjadi, tapi maksudnya adalah bersedia memutar pikiran untuk menerima apa yang terjadi, dan merelakannya agar bisa menurunkan kadar emosi yang intens,” kutip Lisa. Mungkin kamu tidak bisa lagi percaya terhadap satu teman seperti dulu, atau menerima kenyataan pahit bahwa yang pergi tidak mungkin kembali. Yes, itu menyakitkan, tapi menerima kenyataan pahit bisa menjadi bentuk detoks dalam meraih kedamaian hati.



    3. Lepaskan rasa ingin mengontrol, karena pada dasarnya, rasa marah muncul sebagai perwujudan dari keinginan untuk menguasai situasi. Bahkan keinginan ini bisa menahan kamu dari merelakan atau memaafkan suatu hal. Karena pada akhirnya, kita memang tidak bisa mengontrol perilaku orang kepada kita. Tapi reaksi kita terhadap situasi tersebut lah yang bisa kita kuasai. Semakin kamu menolak untuk melepas keinginan untuk mengontrol, maka semakin sulit untuk memaafkan. Tapi saat kamu memutuskan untuk melepaskan kehendak ini, ada kekuatan baru yang muncul di baliknya dalam manifestasi kesehatan dan kebahagiaan.



    4. Coba untuk berempati. Bahkan jika kamu tidak bisa mengerti mengapa ada seseorang yang bisa menyakiti kamu, atau orang lain. Tapi coba putar persepsi dan lihat dari posisinya, kamu bisa mengenali perasaan atau pemicu yang membuat perilaku buruk itu muncul. Tapi bukan berarti menjadikannya sebagai fantasi untuk balas dendam, ya. Meski teramat mengesalkan, namun empati akan membawa kamu semakin meraih seni memaafkan secara legit.



    5. Beri pujian untuk diri kamu. Ucapkan terima kasih pada diri sendiri bahwa setelah semua rasa sakit, kesal, kecewa, yang dihadapi, kamu masih lah diri kamu sendiri yang mampu kuat bertahan. Jika berhasil melakukannya, maka lanjutkan dengan menulis gratitude journal di setiap malam sebelum tidur. Tuliskan lima hal sesederhana apapun itu yang membuat kamu bersyukur sepanjang hari. Positivity will swarm around.


    (Image: Sam Manns on Unsplash, Giullia Bertelli on Unsplash, Becca Tapert on Unsplash. Artikel pernah dimuat di Majalah Cosmopolitan edisi Mei 2019 dengan judul "Sweet, Sweet Forgiveness")