Celebrity

Abimana Aryasatya Bicara Mengenai Gundala dan Menjadi Ayah

  by: Alvin Yoga       3/6/2019
  • Lama tak muncul di layar lebar, aktor kelahiran 24 Oktober 1982, Abimana Aryasatya, ternyata tengah sibuk mempersiapkan diri menjadi seorang superhero - atau patriot, sebutnya - Gundala, sang Putra Petir. Simak wawancara eksklusif Cosmo dengan pria yang mengaku penggemar berat Led Zeppelin ini.

     

    Cosmopolitan (C): Hai, apa kabar Abimana? Lama tak jumpa.



    Abimana (A): Hai, kabar baik tentunya. Sepertinya terakhir kali kita berjumpa sudah beberapa tahun yang lalu, ya.


    Kalau tak salah tiga tahun lalu. Terima kasih sudah mengingatnya. Belakangan ini kami dengar Anda terpilih memerankan karakter Gundala. Bagaimana ceritanya sampai Anda mendapatkan peran tersebut?

    (A): Ceritanya agak panjang, begini singkatnya. Awalnya saya ditelepon oleh Joko Anwar, sang sutradara Gundala, dan karena saat itu saya sedang sibuk dengan jadwal pekerjaan yang lain, maka tawarannya sempat saya tolak. Namun karena istri saya terus menerus membicarakan soal Gundala – hampir setiap malam! Saya curiga ia banyak mengobrol soal Gundala dengan Joko di belakang saya - maka ketika Joko menelepon saya lagi di waktu yang berbeda, saya mulai berpikir untuk mengambil tawarannya. Saya pun mengajak Joko bertemu, dari pertemuan tersebut saya ingin melihat: apakah obrolan kami "nyambung", karena jika ya, maka kemungkinan besar saya akan menerima tawarannya. Saya memang seperti itu, saya orang yang intuitif – saya bukan orang yang gemar berpikir panjang – jika obrolan kami "nyambung" dan saya nyaman dengannya, maka saya yakin kami bisa bekerja sama dengan baik. Pada saat itu intuisi saya berkata, ”Oke, ambil saja” - maka saya memutuskan untuk mengambil peran tersebut.


    Ini adalah peran superhero pertama Anda. Adakah kesulitan memainkan karakter tersebut?

    (A): Sebetulnya kami lebih suka menyebutnya dengan Patriot, bukan superhero. Patriot terdengar lebih lokal. Dan tak ada kesulitan ketika memerankan peran ini, karena Joko Anwar sendiri sudah sangat yakin dengan proyeknya. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengikuti petunjuknya saja.


    Baiklah. Patriot kalau begitu. Adakah sosok inspirasi ketika Anda memerankan tokoh patriot tersebut?

    (A): Mencari sosok inspirasi adalah big no-no untuk Joko Anwar, dan kebetulan saya pun memiliki pikiran yang sama. Saya tak pernah membaca atau menonton sesuatu, kemudian saya tiru. Well, sebetulnya tidak ada yang salah dengan meniru, karena hal tersebut adalah proses awal belajar. Tapi saya lebih memilih untuk mengkreasikan sesuatu. Apalagi konsep Joko adalah “meremajakan” Gundala dari yang dulu menjadi yang sekarang. Jadi alih-alih memberi referensi, Joko mengajak saya untuk duduk bersama dan mengobrol, membicarakan seperti apa sifat pahlawan ini sebenarnya.


    Apa hal yang paling menarik ketika memerankan sosok Gundala?

    (A): Yang menarik adalah ketika kami menyesuaikan karakter Gundala dengan keadaan di zaman modern ini – yang lebih banyak bersosialisasi menggunakan media sosial daripada bercakap secara langsung. Bisa dikatakan Gundala adalah cerminan manusia zaman sekarang – Anda, saya dan, semuanya, yang lebih suka berbicara atau chatting lewat media sosial dibanding mendengarkan. Satu lagi bagian yang menarik: Gundala adalah sosok “tamparan” bagi kita, hasil dari kebiasaan tersebut. Oh, dan jangan harap Gundala akan sekuat superhero yang pernah Anda tonton. Gundala dalam film ini bukan karakter manusia super dengan kemampuan di atas rata-rata yang tiba-tiba jadi super-kuat. Ia sama lemahnya dan sama manusiawinya seperti kita; punya rasa takut, tidak percaya diri, dan punya rasa sedih. Ah, tunggu sebentar, sepertinya saya mulai terlalu banyak memberikan spoiler, hahaha. Sebaiknya tidak saya lanjutkan.


    Baiklah. Kalau begitu, mari kita bahas hal lain. Ketika Anda masih kanak-kanak, adakah sosok superhero yang Anda idam-idamkan?

    (A): Anehnya, saya tidak suka membaca komik superhero ketika kecil. Saya lebih suka menonton konser musik. Bagi saya, tokoh superhero adalah Led Zeppelin, atau Freddie Mercury dengan band Queen-nya.


    Kalau begitu, pernahkah Anda bermimpi untuk menjadi aktor ketika masih kecil dulu?

    (A): Tidak. Ketika kecil saya justru ingin menjadi pilot atau pelaut. Menjadi seorang aktor tak pernah ada di pikiran saya, justru orang-orang di sekeliling saya yang mengarahkan supaya saya bisa menjadi aktor. Mereka yang mengajarkan dan membangkitkan semangat saya untuk mendapatkan pekerjaan yang sekarang. Saya sempat berusaha untuk tetap idealis dengan berkata bahwa, “Saya bukan orang yang bekerja di depan layar, saya orang yang bekerja di belakang layar.” Tapi ternyata saya ditakdirkan memang menjadi seperti ini. Sebetulnya saya percaya, bahwa pekerjaan – atau apapun itu – sebenarnya bukan kita yang memilih, tapi mereka yang memilih. Alam ini yang memilih kita akan menjadi apa.




    Kalau begitu, jika Anda bisa terlahir kembali, apakah Abimana akan kembali menjadi aktor?

    (A): Hmmm… Jika dipikir-pikir lagi, sebetulnya aktor adalah sebutan yang diberikan orang lain pada saya. Saya sendiri tak pernah berani menyebut diri saya aktor, atau aktor yang baik. Itu adalah penghargaan yang saya dapat dari masyarakat setelah sekian lama bekerja menjadi pekerja seni. Dan jika saya bisa terlahir kembali, saya rasa saya tetap akan melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan sekarang, walau hasilnya mungkin saja akan berbeda. Ya, inilah yang akan saya lakukan, menjadi seorang pekerja seni.


    Di luar menjadi seorang aktor, saat sedang senggang, apa yang Anda lakukan?

    (A): Jadi ayah untuk anak-anak saya, itu sudah jelas, atau jaga warung – istri saya punya usaha kopi dan snack bar kecil-kecilan – dan istirahat. Istirahat penting untuk saya. Saya punya energi besar, tapi “stok”-nya tidak sebanyak itu, jadi sekali energi saya habis, saya akan mudah lelah.


    Wah, kami tak tahu Anda ternyata punya usaha kopi.

    (A): Hehehe. Ada banyak hal yang sebenarnya orang lain tidak tahu soal diri saya. Satu, saya punya usaha kopi bersama sang istri. Dua, saya bukan tipe orang yang suka berbicara soal politik. Ajak saya ngobrol seputar sains dan seni – seputar Nicolas Tesla dan Andy Warhol - tapi jangan ajak saya bicara seputar Che Guevara, karena mungkin saya tak mengenal banyak hal soal dia. Tiga, saya lebih percaya pada intuisi dibanding nalar. Menurut saya, kata hati lebih penting dibanding terus menerus menggunakan logika. Empat, saya tidak beli baju Superman atau Gatot Kaca ketika kecil dulu, saya lebih suka membeli baju bergambar anak band. Led Zeppelin, ingat?


    Tentu. Terakhir, jika Anda bisa menjadi superhero, apa kekuatan yang ingin Anda dapatkan:

    (A): Saya ingin bisa terbang, supaya saya bisa pergi ke mana pun yang saya mau. Teleportasi lebih baik lagi, sih. Jadi tidak perlu banyak effort kalau saya ingin liburan. Hanya tinggal berkedip, kemudian sampai.


    Penulis: Alvin Yoga / FT

    Fotografer: Hadi Cahyono

    Digital Imaging: Anggana Maskoro

    Makeup Artist & Hairdo: Vani Sagita

    Stylist: Hendry Leo

    Wardrobe: Topman

    Lokasi: Arrack & Spice