Celebrity

Semua Yang Perlu Kamu Tahu Soal Kontroversi di Lagu Suga BTS

  by: Alexander Kusumapradja       1/6/2020
    • Suga BTS tersandung kontroversi karena menggunakan pidato Jim Jones di salah satu lagu di mixtape solo terbarunya.
    • Big Hit Entertainment sudah merilis penyataan resmi dan meminta maaf untuk isu yang termuat di lagu berjudul “What do you think?” tersebut.




    Pepatah “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpanya” adalah hal yang tepat untuk menggambarkan popularitas seseorang, terutama di dunia peridolan K-pop yang memang senantiasa diramaikan oleh berbagai kontroversi dan pro-kontra. Semakin populer seorang idol, setiap gerak-gerik, perkataan, dan karyanya akan semakin tajam diawasi baik oleh fans sendiri maupun para anti yang tampaknya memang memanfaatkan momen ketika idol tersebut melakukan blunder. Belum lagi ditambah cancel culture dan political correctness yang kini semakin menjadi pakem di media sosial.



    Salah satu idol yang kini sedang terjegal kontroversi di media sosial adalah Suga dari BTS yang dikritik karena menggunakan sample pidato salah satu tokoh sejarah kontroversial bernama Jim Jones dalam salah satu lagu di mixtape terbarunya. Dengan nama alias Agust D, Suga merilis mixtape solo berjudul “D-2” tanggal 22 Mei lalu yang berisi 10 lagu, termasuk title track berjudul “Daechwita”. Saat dirilis, mixtape ini langsung mendapat respons positif dari para fans BTS alias ARMY yang langsung menjadi Trending Topic di Twitter dan menjadi nomor satu di iTunes chart banyak negara di dunia serta sukses mengantarkan Suga menjadi artis solo Korea pertama yang masuk 10 besar di Chart Album Resmi di Inggris.


    Kontroversi bermula ketika ada netizen yang mengkritik salah satu lagu berjudul “What do you Think?” yang merupakan track ketiga di mixtape terbaru ini karena Suga menggunakan sample pidato Jim Jones di awal lagu tersebut. Masalahnya, Jim Jones adalah sosok pemimpin sekte asal Amerika yang bertanggung jawab atas peristiwa bunuh diri massal di bulan November 1978 yang mengakibatkan tewasnya sekitar 909 orang pengikutnya, di mana 304 di antaranya adalah anak-anak. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan “Jonestown Massacre” alias “Pembantaian Jonestown” dan menjadi salah satu tragedi kemanusiaan dengan korban jiwa terbanyak dalam sejarah Amerika.


    Tanggal 29 Mei kemarin, Suga pun sempat melakukan siaran V Live di mana ia mengungkap cerita di balik setiap lagu yang termuat di solo mixtape terbarunya. Untuk lagu “What do you think?”, Suga mendeskripsikannya sebagai lagu berisi kemarahannya terhadap para hater yang telah merendahkannya di masa lalu. Meskipun begitu, banyak yang menyayangkan kenapa Suga memakai orasi tokoh kontroversial tersebut karena bisa dianggap sebagai glorifikasi atau memberi spotlight kepada sosok pemimpin diktator yang tangannya berlumur darah. Pro-kontra pun muncul.


    Beberapa orang menganggap memakai pidato Jim Jones tidak ada bedanya dengan memakai pidato dari sosok-sosok pemimpin lalim dari sejarah lainnya seperti Adolf Hitler, Charles Manson, Mao Zedong, dan Osama Bin Laden yang dikenal sebagai pembunuh massal. Karena itu, rasanya tidak pantas artis dengan influens dan platform sebesar Suga untuk menggunakannya ke dalam lagu.



    Para ARMY pun tentu tak tinggal diam dan kemudian membela Suga. Ada yang berpendapat kalau tujuan Suga memasukkan pidato Jim Jones ke dalam lagunya bukan untuk menyanjung atau memberi panggung ke sosok tersebut, tapi justru sebagai diss atau ejekan karena Jim Jones dianggap sebagai sosok anti Korea. Ada teori yang bilang kalau Jim Jones dikenal sebagai sosok pro Korea Utara dan anti Korea Selatan. Dengan memakai pidatonya di lagu itu, Suga sebagai rapper Korea Selatan seolah mengacungkan jari tengah pada sosok Jim Jones yang anti Korsel. Namun, benarkah Jim Jones adalah sosok anti Korea?



    Well, faktanya Jim Jones pernah mengadopsi tiga anak keturunan Korea ke dalam keluarganya yang memang juga memiliki beberapa anak angkat dari berbagai latar etnis dan sebelumnya ketika masih aktif di gereja, Jim Jones dikenal sebagai sosok anti rasisme dan berhasil mendapat simpati dari komunitas kulit hitam di Amerika. Karena itu lah ia berhasil mengumpulkan ratusan pengikut dan mendirikan kota sendiri bernama Jonestown di sebuah hutan di Guyana, di mana tempat itu awalnya disebut sebagai surga tropis di mana semua orang dari warna kulit dan latar etnis apapun bisa hidup membaur dan punya perannya masing-masing di komunitas yang menganut paham sosialis. Jim Jones pun cukup vokal memprotes keterlibatan Amerika Serikat membela Korea Selatan dalam Perang Sipil Korea dan ia sendiri mendukung Korea Utara karena ia memang menganut paham sosialisme.


    Meskipun begitu, sosok Jim Jones sendiri tampaknya bukan sosok yang dikenal sebagai sosok anti Korea di Korea Selatan. Banyak netizen yang mengaku orang Korea membantah kalau Jim Jones punya pengaruh signifikan dalam sejarah Korea dan bahkan banyak orang Korea yang tak mengenal dirinya sebelum muncul kontroversi ini, karena itu pembelaan ARMY yang menyebut lagu ini sebagai diss untuk Jim Jones dianggap tidak beralasan.



    Dengan semakin merebaknya pro-kontra soal lagu itu, tanggal 31 Mei kemarin Big Hit pun merilis penyataan resmi yang berbunyi:




    Halo, ini Big Hit Entertainment. Ini adalah penyataan resmi kami terkait masalah di mixtape Suga BTS.

    Sample vokal pidato di bagian pembuka lagu “What Do You Think?” di mixtape tersebut dipilih tanpa ada maksud tertentu oleh produser yang mengerjakan lagu ini, yang tidak mengenal identitas dari si pembicara dan memakainya sebagai sample untuk membangun atmosfer di lagu ini.

    Setelah sample pidato itu dipilih, perusahaan telah melakukan proses internal dan prosedur untuk mengecek hal-hal kurang pantas dalam konten lagu itu. Namun, baik di proses pemilihan dan review, kami melakukan kesalahan karena tidak menyadari adanya ketidakpantasan dari konten itu dan memasukkan sample pidato itu ke dalam lagu.

    Big Hit Entertainment selalu melakukan proses review isu-isu sejarah, budaya, dan sosial untuk beragam konten yang ditujukan pada audiens global. Namun, kami juga menghadapi kenyataan bahwa kami juga punya keterbatasan untuk memahami dan menyikapi dengan tepat semua situasi yang mungkin muncul. Dalam kasus ini, kami tidak menyadari masalahnya lebih dulu dan menunjukkan ketidakpahaman kami tentang isu sosial dan sejarah yang bersangkutan. Kami memohon maaf pada mereka yang merasa tidak nyaman atau terluka karena hal ini.

    Big Hit Entertainment telah menghapus bagian dari lagu itu yang dipermasalahkkan dan merilis kembali versi yang sudah diedit.

    Sang artis (Suga) juga merasa malu dan bertanggungjawab untuk masalah yang muncul di bagian yang tak ia sadari ini.

    Big Hit Entertainment akan menggunakan insiden ini sebagai pembelajaran untuk proses produksi konten-konten selanjutnya.



    Dari pernyataan resmi Big Hit Entertainment tersebut kita bisa mengetahui bahwa tak ada maksud khusus tertentu untuk memakai pidato Jim Jones di lagu tersebut dan pemilihan pidato itu sebagai sample sebetulnya dilakukan oleh pihak produser lagu dan bukan oleh Suga sendiri. Meski demikian, banyak ARMY yang masih tak terima Suga diserang kritik karena hal ini dan menyebut bahwa banyak musisi lain yang menggunakan referensi Jim Jones di lagu mereka, termasuk Post Malone dan Lana Del Rey.



    Referensi Jim Jones dan Tragedi Jonestown sendiri memang bukan hal baru sebagai referensi di musik. Di tahun 2011, band indie Amerika bernama Cults pernah merilis musik video untuk lagu “Go Outside” yang menampilkan potongan footage Jim Jones dan penduduk Jamestown yang sudah diedit sehingga member band Cults yaitu Madeline Follin dan Brian Oblivion seolah menjadi bagian dari dokumenter tersebut. Namun, video ini tak menjadi kontroversi skala besar seperti yang dialami Suga. Kenapa? Alasan yang paling jelas adalah audiens dan platform.



    Cults merilis video ini di awal karier mereka sehingga masih banyak yang belum mengenal mereka, sementara Suga adalah bagian dari BTS, salah satu grup K-Pop terbesar dan paling populer di dunia saat ini jadi tak heran bila kontroversi yang Suga alami lebih ramai dibicarakan karena eksposurnya juga lebih luas. Namun alasan lainnya adalah, sutradara dari video musik Cults tersebut yang bernama Isaiah Seret sebelum merilis video tersebut telah menunjukkan preview-nya dan meminta izin kepada penyintas Tragedi Jonestown dan dibantu oleh ahil sejarah yang memang benar-benar memahami soal sejarah Jim Jones dan Jonestown. Jadi video musik Cults walaupun bisa dibilang kontroversial namun dibuat dengan proses dan niat yang serius dan tak hanya untuk estetika belaka.


    Tanpa berniat menyalahkan atau membenarkan, pemakaian sosok sejarah terutama yang kontroversial ke dalam sebuah karya memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak blunder. Langkah Big Hit yang sudah berani mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kontroversi ini adalah hal yang patut diacungi jempol karena tak jarang ada perusahaan yang lebih memilih diam saja dan menunggu kontroversi itu reda dengan sendirinya tanpa memberi pernyataan resmi.


    Dari kontroversi ini semua pihak bisa belajar. Baik dari pihak label, artisnya, maupun para penggemar. Tidak semua kritikan kepada seorang idol adalah serangan personal pada idol tersebut dan usaha untuk menjatuhkan namanya. Idol juga manusia yang bisa melakukan kesalahan tanpa ia sadari namun bukan berarti bisa langsung di-cancel tanpa diberi kesempatan. Bila pihak label dan artisnya saja sudah mengungkapkan penyesalan dan berjanji untuk lebih hati-hati ke depannya, mungkin ini saatnya bagi para fans untuk belajar menerima sudut pandang lain tanpa terbakar emosi dan membela idol mereka dengan membabi buta. Setuju?


    (Alex.K/Image: courtesy of Big Hit Entertainment)