Lifestyle

Ini Alasan Slogan All Lives Matter Sebaiknya Tak Digunakan

  by: Alexander Kusumapradja       4/6/2020
    • Slogan “All Lives Matter” tercetus sebagai kritik dan perlawanan terhadap gerakan “Black Lives Matter”.
    • Billie Eilish menjelaskan dengan gamblang kenapa istilah “All Lives Matter” sebaiknya tidak dipakai melalui postingan Instagram yang berapi-api.




    Dipicu oleh kematian pria kulit hitam bernama George Flyod akibat kebrutalan polisi Minneapolis minggu lalu, Amerika Serikat saat ini sedang membara dengan aksi-aksi protes yang mengusung slogan Black Lives Matter (BLM). Slogan tersebut pertama kali mencuat dalam bentuk tagar media sosial di tahun 2013 sebagai reaksi atas persidangan kasus George Zimmerman yang menembak mati seorang remaja kulit hitam bernama Trayvon Martin.


    Slogan Black Lives Matter pada dasarnya adalah sebuah kampanye menentang kekerasan, diskriminasi,dan rasisme terhadap warga kulit hitam yang masih berlangsung secara sistematis di Amerika Serikat sampai hari ini di mana warga kulit hitam diyakini lebih riskan kehilangan nyawa akibat kebrutalan polisi, mengalami ketidakadilan di mata hukum, dan mengalami diskriminasi dibanding warna kulit dan ras lainnya sehingga seolah nyawa mereka tak berharga. Dalam berbagai kasus yang menyusul kemudian, slogan yang dicetuskan oleh tiga orang wanita kulit hitam bernama Alicia Garza, Patrisse Cullors, dan Opal Tometi tersebut pun makin populer digunakan dan dikenal dalam berbagai aksi protes nyata dan tak hanya menjadi tagar di internet saja. 


    Di tengah riuhnya awareness soal Black Lives Matter yang sedang menjadi topik utama di berita dan media sosial minggu ini, diskusi terkait BLM pun tak hanya panas di Amerika Serikat saja, namun juga di berbagai belahan dunia lainnya, thanks to social media, termasuk di Indonesia. Banyak pengguna media sosial Indonesia yang ikut menyampaikan pendapat atau pesan mereka terkait aksi di Amerika Serikat di akun medsos masing-masing terlepas dari apapun intensinya, ternasuk beberapa public figure dan influencer.


    Salah satu sosok influencer yang ikut berkomentar adalah Jerome Polin, seorang YouTuber yang dikenal karena vlog tentang kehidupannya sebagai mahasiswa di Jepang. Tanggal 1 Juni lalu, Jerome sempat mengirim tweet berbunyi “All lives matter” di akun Twitternya @JeromePolin. Tak butuh waktu lama, tweet tersebut mendapat kecaman dari banyak pihak yang menganggap slogan All Lives Matter sebaiknya tidak digunakan dan akhirnya Jerome memutuskan menghapus tweet tersebut dan menulis tweet baru di bawah ini:



    Lho, kenapa? Apa salahnya menulis “All Lives Matter” yang secara harfiah berarti “Semua Nyawa Berharga”? Bukannya memang benar ya? Well, secara logika kalimat itu memang benar dan tak ada salahnya, namun ternyata makna yang melekat di slogan “All Lives Matter” tidak senaif itu.


    Banyak orang yang menggunakan slogan “All Lives Matter” karena mereka belum mengetahui makna di balik slogan tersebut dan salah kaprah menganggap “All Lives Matter” adalah bentuk dukungan positif dan universal terhadap seluruh umat manusia, terlepas dari warna kulit dan ras. Kita semua tentu setuju bahwa semua nyawa berharga, namun “All Lives Matter” sebetulnya adalah slogan problematik yang bertujuan mengalihkan perhatian dan mengecilkan gerakan Black Lives Matter yang sedang diperjuangkan sekarang.


    Slogan “All Lives Matter” sejatinya terlontar sebagai respons ketika gerakan Black Lives Matter makin menarik perhatian di tingkat nasional. Slogan ini dipopulerkan oleh banyak politisi dari kalangan Republikan, termasuk Presiden Donald Trump yang pernah berkata bahwa Black Lives Matter justru adalah istilah yang rasis dan memecah-belah persatuan. Sebagian orang menggunakan slogan “All Lives Matter” dengan pemahaman bahwa slogan ini lebih inklusif dibanding slogan “Black Lives Matter” yang secara spesifik memang mengacu ke komunitas kulit hitam. Maksud tersebut, walaupun mungkin tidak salah dan tidak berniat buruk namun pada akhirnya diasosiasikan sebagai kritik atau perlawanan terhadap gerakan Black Lives Matter.


    Profesor David Theo Goldberg yang dikenal sebagai peneliti di teori ras kritis menyebut “All Lives Matter” sebagai pandangan yang mengandung penyangkalan, denial, dan ketidakpedulian terhadap isu yang coba diperjuangkan gerakan BLM. Para pencetus BLM sendiri telah merespons kritik yang menyebut gerakan mereka hanya eksklusif untuk kulit hitam dengan berkata, “#BlackLivesMatter bukan berarti hidup orang non-kulit hitam tidak berharga—maksud slogan ini adalah nyawa kulit hitam, yang sering dianggap tak berharga dalam masyarakat yang mengusung supremasi kulit hitam, adalah hal penting bagi keadilan kita semua.”





    Terkait debat antara Black Lives Matter dan All Lives Matter, mantan presiden AS Brack Obama juga pernah berkata, “Saya rasa alasan menggunakan istilah Black Lives Matter bukan berarti mereka menganggap nyawa orang selain kulit hitam tak berharga… alih-alih itu, yang coba mereka sampaikan adalah adanya masalah spesifik yang terjadi di komunitas African American yang tidak dihadapi oleh komunitas lain. Itu adalah isu utama yang harus kita perhatikan.”


    Semakin ke sini, istilah “All Lives Matter” seolah menjadi slogan pasif-agresif yang digunakan untuk orang yang tak setuju dengan Black Lives Matter namun tidak berani untuk mengungkapkan slogan lain yang lebih gamblang seperti “Blue Lives Matter” yang merupakan slogan pro-kepolisian maupun “White Lives Matter” yang digunakan oleh golongan alt-right yang dominan kulit putih dan mendukung slogan Make America Great Again (MAGA) yang dikampanyekan oleh Presiden Donald Trump. Namun, banyak juga orang yang menggunakan istilah “All Lives Matter” karena mereka memang masih clueless dan belum mengetahui alasan kenapa slogan tersebut dianggap problematik, termasuk beberapa selebriti seperti Jennifer Lopez dan Fetty Wap. Rapper yang terkenal dengan lagu “Trap Queen” tersebut pernah mengirim tweet berisi tagar All Lives Matter namun ia kemudian menghapusnya dan meminta maaf sembari mengungkapkan bahwa ia tak sepenuhnya memahami makna di balik slogan tersebut.



    Salah satu selebriti dunia yang baru-baru ini vokal menyuarakan salah kaprah tentang All Lives Matter adalah Billie Eilish. Melalui postingan Instagram, penyanyi berusia 18 tahun tersebut menulis: “Saya sudah mencoba menghabiskan minggu ini untuk mencari cara menyampaikan hal ini dengan cara halus. Saya punya platform besar dan saya mencoba dengan keras untuk tetap sopan dan sabar memikirkan ulang apa yang ingin saya sampaikan… Tapi holy f------ s--- saya akan bicara apa adanya. Jika saya mendengar sekali lagi saja orang kulit putih yang bilang 'aLL liVeS maTtEr' saya akan kehilangan kesabaran. Bisa tidak kamu diam? Tidak ada yang bilang bahwa hidupmu tidak berharga. Tidak ada yang bilang kalau hidupmu tidak susah,” tulisnya.



    Ia pun menjelaskan masalah soal “All Lives Matter” dengan perumpamaan berikut: “Kalau seorang temanmu terluka di lengannya, apakah kamu akan menunggu untuk memberi plester ke semua temanmu karena semua lengan berharga? TIDAK. Kamu akan membantu temanmu yang sedang terluka karena dia yang membutuhkannya, karena dia berdarah. Kalau sebuah rumah terbakar dan ada orang yang terjebak di dalamnya, apakah kamu akan meminta pemadam kebakaran untuk menyiram semua rumah juga karena semua rumah berharga? Tidak! Karena mereka tidak butuh bantuan. Kamu semua punya privilege entah kamu suka atau tidak. Masyarakat memberimu privilege hanya karena kamu berkulit putih. Kamu memang masih bisa miskin dan kesulitan, tapi tetap warna kulitmu memberimu privilege lebih dari yang kamu sadari.”


    “Kalau memang semua nyawa berharga, kenapa cuma orang kulit hitam yang bisa terbunuh karena mereka terlahir dengan warna kulit hitam?” tanyanya. “Kenapa para imigran dipersekusi? Kenapa orang kulit putih diberikan kesempatan yang tak diberikan pada ras lain… Itu yang disebut White Privilege,” sambungnya.


    Billie menuntaskan postingan itu dengan menekankan pentingnya Black Lives Matter: “Slogan #blacklivesmatter bukan berarti nyawa ras lain tak berharga. Slogan ini bertujuan menarik perhatian ke fakta bahwa masyarakat masih menganggap nyawa kulit hitam tidak berharga!”


    Saat artikel ini ditulis, postingan Billie tersebut sudah menembus 6 juta likes, termasuk komentar dukungan dari banyak figur terkenal lainnya, dari mulai Natalie Portman yang memberikan emoji hati, Tess Holliday, Jordin Sparks, Ty Dolla Sign, dan masih banyak lagi.


    (Alex.K/Image: Julian Wan on Unsplash)