Lifestyle

Seperti Apa Pernikahan Setelah Masa Pandemi?

  by: Givania Diwiya Citta       20/6/2020
    • Setelah Covid-19 merebak di Indonesia, momen pernikahan pun terkena dampaknya.
    • Dengan adanya regulasi PSBB, rencana pernikahan pun banyak yang ditunda hingga diatur ulang.


    Mungkin momen pernikahan menjadi hari magis yang telah dinantikan bagi beberapa banyak orang. Mulai dari keseruan merencanakan setiap detailnya – pilihan bunga, gaun, foto-foto referensi dekorasi cantik dari Pinterest, menu hidangan, dan tabungan yang sudah disisihkan – semua demi hari besar ini.




    Namun di tahun 2020, banyak para bride-to-be yang tampaknya terpaksa belum bertemu dengan hari pernikahannya. Karena yang hadir justru virus Corona.


    Kita pun sempat mengalami masa PSBB ketat sejak bulan Maret yang menandakan dilarangnya acara-acara sosial atau berkumpul. Salah satunya, pernikahan. Kemudian yang kita tahu, ada banyak yang menunda atau mengatur ulang tanggal resepsi mereka – yang mungkin baru bisa dilangsungkan setelah dunia tak lagi memberlakukan lockdown.


    Seberapa jauh pernikahan terkena dampaknya?

    Menurut Bridebook, 64% pernikahan di tahun 2020 telah terdampak langsung oleh virus Corona, artinya mayoritas dari mereka yang telah menanti hari pernikahan harus menundanya.



    Banyak pasangan yang terpaksa harus mengambil keputusan antara benar-benar membatalkan resepsi atau bertaruh menjadwalkan ulang ke tanggal baru – yang mungkin biaya pernikahannya belum terbayar lunas. Seperti Ratih, 28, dari Jakarta, yang telah melaksanakan upacara pernikahan di KUA pada bulan April, namun harus menunda resepsi pernikahannya dua kali. “Kami memindahkan resepsi kami dari April ke bulan Juni, lalu kami harus menunda lagi sampai bulan Desember,” ujarnya pada Cosmo. “Bahkan setelah dimundurkan sampai akhir tahun pun, saya masih belum sepenuhnya yakin apakah resepsi itu sudah bisa terlaksana nantinya.”


    Ada banyak juga contoh pernikahan yang dihadiri para tamu secara virtual via Zoom, terutama saat menyaksikan para mempelai melakukan prosesi sesuai agamanya. Bahkan tren yang terjadi sekarang, seperti di New York, ada yang ingin menggaungkan bahwa digital wedding seharusnya sah hukumnya.


    Jadi, apakah saya bisa menikah di tahun ini?

    Dengan ukuran PSBB yang perlahan dilonggarkan, akan seperti apa momen pernikahan bagi mereka yang berencana menikah sebelum tahun 2020 usai?


    Pemerintah Indonesia telah perlahan mulai membuka kembali tempat-tempat ibadah dengan pembatasan kuota 50% serta tempat kegiatan sosial dan budaya sejak bulan Juli. Jadi, kemungkinan ukuran pesta pernikahan dalam skala kecil bisa digelar, dengan ketentuan pembatasan sebanyak 20% tamu dari kapasitas tempat, baik pelaksanaan di tempat ibadah atau di gedung pernikahan. Dan jika sebelumnya pelaksanaan akad nikah di KUA atau di rumah hanya boleh dihadiri maksimal 10 orang, kini pelaksanaan di tempat ibadah atau di gedung pernikahan boleh hingga maksimal 30 orang. Tentunya tetap dengan konsep socially-distanced, ya.



    Zoë Binning, konsultan bisnis pernikahan, berpendapat bahwa momen pernikahan di sepanjang tahun 2020 kemungkinan besar haruslah digelar secara low-key. “Saya sejujurnya tak yakin jika kita bisa menggelar pesta pernikahan berskala besar di sisa tahun ini,” ujarnya pada Cosmo. “Saya membayangkan konsep social distancing tetaplah akan diaplikasikan hingga akhir tahun, tapi meski begitu, rasanya dengan 20 atau 30 tamu maksimal tampaknya masih bisa dilangsungkan.”


    Sementara Rianna Elizabeth, wedding planner dan co-host dari podcast The Wedding People, mengatakan, “Yang menjadi tantangan adalah mengarahkan para klien tentang, ‘OKE, kita bisa menggelar pernikahan kamu tapi acara ini tak akan sama dengan yang kamu awalnya rencanakan’. Menjelaskan hal itu pada klien jauh lebih sulit ketimbang menyarankan pada mereka untuk menunda pernikahan hingga setahun ke depan.”


    Lalu, seperti apa pernikahan di tahun 2021 dan seterusnya?

    Dengan 25% pernikahan telah ditunda hingga ke akhir tahun 2020, lalu 44% pernikahan telah dijadwalkan ulang ke tahun 2021 – maka 2021 akan menjadi tahun yang sangat sibuk bagi bisnis pernikahan dan bagi semua para bride-to-be. Dengan ketidakpastian akan seperti apa dampak jangka panjang dari pandemi ini, pemahaman kita tentang seperti apa pernikahan setelah dunia menghentikan lockdown masihlah belum jelas. Tapi apa yang bisa kita tahu sejauh ini?



    Ceremony

    Semua ahli dari Cosmo setuju bahwa kemungkinan besar pernikahan akan banyak muncul di penghujung akhir tahun berkat virus Corona. Jadi, coba siapkan inbox kamu siapa tahu di akhir tahun kamu dibanjiri oleh undangan pernikahan, karena kemungkinan di akhir tahun pembatasan acara sosial akan kian longgar nantinya.




    Lalu dengan riset yang menyebutkan bahwa virus Corona lebih menurun jika berada di luar ruangan, Zoë pun berpendapat bahwa akan semakin banyak pasangan yang memilih pernikahan outdoor. Ia memprediksi bahwa para pengantin baru mungkin akan lebih memilih melakukan prosesi akad atau pemberkatan di KUA terlebih dahulu, lalu baru merayakan pesta kecilnya yang berkonsep socially-distanced setelahnya, bersama dengan keluarga dan teman terdekat saja.



    Reception

    Menurut Rebecca Brennan-Brown, wedding planner dan co-host dari podcast The Wedding People, ia juga memprediksi bahwa resepsi akan tampak sedikit berbeda. Yaitu bahwa venue akan diisi oleh meja panjang alih-alih meja bundar tradisional, dan berbagai spot untuk membersihkan tangan akan menjadi “standar wajib” saat acara.


    Tradisi bersalam-salaman secara jarak dekat juga Cosmo prediksi akan pudar, namun tentunya proses bertukar ucapan selamat tetap bisa dilakukan dengan minimal jarak satu meter. Lalu, berkirim undangan fisik mungkin juga akan berkurang berkat adanya kebiasaan baru untuk meminimalisir kontak langsung antar individu. Kamu bisa memaksimalkan platform digital seperti email sampai media sosial untuk mengirim undangan secara personal. Atau mungkin, kamu jadi lebih kreatif untuk menciptakan website sendiri khusus untuk hari pernikahanmu dan semua yang tamu butuh tahu tentang pernikahanmu yang legendaris itu!


    Sementara itu, Nikki Taylor, pemilik dari Taylored Events penyedia jasa pesta, berpendapat bahwa photo booth hanya akan menjadi dongeng. “Inti dari photo booth adalah bergerumul di satu spot, lalu memakai props bergantian… Saya tak bisa bayangkan aktivitas ini akan bisa dilakukan lagi.” Ini artinya, pada fotografer pernikahan ditantang untuk lebih kreatif saat menangkap momen-momen seru dalam hari besar, mulai dari Photoshop (itu tetap penting, lho!) sampai menangkap ekspresi-ekspresi para tamu dari kejauhan.



    Catering

    Cosmo memprediksi bahwa menu prasmanan kemungkinan besar akan menghilang. Menu a la carte justru akan menjadi pilihan utama, dan bahkan, menu makanan sehat bisa saja muncul dalam salah satu pilihannya. Lalu untuk setting tamu dengan nomor kursi dan meja, kita bisa bilang selamat tinggal pada sharing platters, karena kata Rebecca: “Kamu tak akan lagi bisa berbagi alat makan yang sama kembali.”


    Kemudian, setting sit-down meals mungkin akan semakin wajar bagi budaya kita, dan staf catering mungkin juga semakin diperlengkapi sarung tangan serta masker – namun mereka pasti tetap menyediakan seragam yang stylish agar tak memberi kesan ‘mengintimidasi’, tambah Rianna. “Orang-orang akan jadi semakin kreatif.”


    Dan untuk tradisi bersulang champagne, kemungkinan besar juga kita harus mempertimbangkan ulang untuk menghadirkan alkohol dalam pesta pernikahan. Karena jika tipsy, maka konsep social distancing bisa tak teraplikasikan. Meski begitu, para ahli juga memprediksi bahwa alkohol ringan mungkin akan naik permintaannya di pesta pernikahan.


    Lalu, bagi pasangan yang justru semakin senang dengan konsep pernikahan intim dan low-key (atau bahkan pesta digital), maka kalian tak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk menggelarnya. Tapi bagi pasangan yang masih mendamba pesta berskala besar, serta bagi mereka yang sudah mencurahkan tenaga, hati, dan pikiran untuk hari spesial yang akan membuat para tamunya terkagum-kagum, maka kemungkinannya kalian harus menunggu waktu lebih lama untuk menggelarnya.



    Tapi tak ada yang perlu dilabeli negatif, kok, karena menurut Zoë, “Saya percaya bahwa kondisi pandemi ini akan membuat mereka memikirkan ulang apa prioritas mereka tentang mengapa mereka menikah,” ujarnya. Dan meski perlu diakui bahwa faktor Instagrammable menjadi bagian besar dari sebuah perencanaan pesta pernikahan, namun Zoë memprediksi bahwa persepsi ini akan berubah setelah pandemi: “Saya rasa ini akan membuat para pasangan memikirkan kembali tentang pengeluaran mereka, dan mereka bisa berfokus kepada hal yang benar-benar penting saja.”


    Amen to that!


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / FT / Images: Emma Bauso from Pexels)