Lifestyle

UOB YOLO Card Berikan Bekal Entrepreneur lewat YOLOPRENEUR

  by: Alvin Yoga       17/6/2021
  • Jelas sekali bahwa pandemi ini telah menjadi suatu tantangan tersendiri bagi kaum Milenial dan Gen-Z—generasi muda yang kini harus beradaptasi di tengah keadaan yang serba tidak menentu. Menurut ASEAN Youth Survey yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) terhadap 68.574 anak muda berumur 16 sampai 35 tahun di enam negara ASEAN—termasuk Indonesia—pada Juli 2020 lalu, pandemi ini memberikan dampak yang lebih dari sekadar nyata pada cara kaum muda bekerja dan memulai usaha. Jika dilihat dari segi positifnya, cara kita bertahan menghadapi "ujian-ujian hidup" selama pandemi ini ternyata membuat kita lebih terbuka terhadap perubahan dan membuat kita lebih kreatif.

    Ya, 5 dari 10 orang yang mengikuti survey tersebut mengaku bahwa mereka kini lebih fleksibel dan lebih siap menghadapi pandemi, 41% berhasil mempelajari keahlian baru, 38% belajar untuk berpikir lebih kreatif, dan 31% persen generasi muda berhasil menemukan model bisnis baru untuk meningkatkan penjualan. Tak hanya itu, jika dilihat dari segi bisnis, terdapat kenaikan yang signifikan terhadap bisnis daring dan juga e-payment. 33% entrepreneur yang mengandalkan teknologi e-commerce kini lebih aktif melakukan penjualan—bahkan 1 dari 4 orang wirausaha tersebut baru menggunakan e-commerce untuk pertama kalinya di masa pandemi.

    Sayangnya, di sisi lain, generasi muda yang memiliki keinginan untuk membangun bisnis juga menghadapi kesulitan di masa pandemi. 19% responden dari survey tersebut mengatakan bahwa mereka menghadapi kesulitan keuangan dan membutuhkan dukungan finansial untuk memulai atau menjalankan bisnis mereka.



    Selaras dengan meningkatnya pemikiran kreatif serta kebutuhan generasi muda untuk mendapatkan dukungan finansial untuk membuka bisnis, Cosmopolitan Indonesia bersama dengan UOB YOLO Card by Bank UOB Indonesia mengajak para entrepreneur muda untuk mengikuti kompetisi bertajuk "YOLOPRENEUR". Sesuai dengan tagline-nya, "Make Your Dream Come True", Cosmo dan UOB YOLO Card mengajak pebisnis muda Indonesia untuk berani mewujudkan mimpi mereka lewat kompetisi ini. Dengan hadiah utama berupa modal usaha sebesar Rp30.000.000,-, wawancara eksklusif di Hard Rock FM, serta dukungan promosi dan publikasi dari Cosmopolitan Indonesia, puluhan wirausahawan muda pun mendaftarkan diri mereka dalam kompetisi "YOLOPRENEUR" ini.

    Selain mengadakan kompetisi, Cosmopolitan Indonesia bersama dengan UOB YOLO Card by Bank UOB Indonesia juga mengajak para entrepreneur muda dan penggiat bisnis untuk berbincang bersama dalam sebuah webinar bertajuk "Kiat Menjadi Entrepreneur Muda yang Sukses". Dalam acara virtual tersebut, Cosmopolitan Indonesia dan UOB YOLO Card mengundang co-founder EATLAH, Michael Chrisyanto, juga founder Calla the Label, Yeri Afriyani, serta Vinni Singadiwirya, founder Export Hall, untuk memberikan pembekalan dan membagikan ilmu-ilmu seputar entrepreneur bagi para pebisnis muda agar mereka bisa terus menggerakan roda perekonomian lokal di tengah pandemi ini. Penasaran seperti apa kompetisi dan webinar tersebut? Simak!



    Kompetisi "YOLOPRENEUR"

    "YOLOPRENEUR" merupakan sebuah kompetisi digital hasil kerjasama antara Cosmopolitan Indonesia dan UOB YOLO Card by Bank UOB Indonesia yang ditujukan bagi para calon entrepreneur muda. Berhadiahkan modal usaha senilai Rp30.000.000,-, pemenang dapat menggunakannya untuk mewujudkan bisnis impiannya. Bagi kamu yang belum tahu, kartu kredit UOB YOLO Card merupakan kartu kredit dari Bank UOB Indonesia yang dirancang khusus untuk generasi milenial yang dikenal dinamis dan super aktif. Melalui fitur-fitur yang cool, kamu bisa buat hidupmu seseru yang kamu mau lewat kartu kredit ini!



    Program kompetisi "YOLOPRENEUR" dimulai dengan mengumpulkan sebanyak mungkin entrepreneur muda dari seluruh Indonesia yang ingin mendapatkan bantuan modal usaha. Inilah sebabnya proses registrasi dibuka selama dua bulan penuh, mulai dari 25 Januari 2021 sampai dengan 31 Maret 2021. Bagi para peserta yang ingin mengikuti kompetisi ini, syaratnya mudah, para peserta cukup mengunggah ide bisnis impian mereka di Instagram, dan dari seluruh peserta yang mendaftarkan diri, Cosmo dan tim dari UOB YOLO Card akan memilih 15 peserta untuk lanjut ke tahap berikutnya.

    Pada 6 April 2021, Cosmo mengumumkan 15 ide usaha yang paling menarik, dan para peserta yang lolos ke tahap berikutnya kami hubungi untuk mengirimkan proposal business plan mereka. Dari seluruh rancangan bisnis yang dikirimkan, Cosmo dan tim dari UOB YOLO Card kemudian kembali memilih lima peserta terbaik untuk maju ke tahap semi final.

    Pada akhir April 2021, Cosmo mengumumkan lima peserta dengan rencana bisnis terbaik untuk lanjut ke sesi penjurian, dan masing-masing peserta kemudian mengirimkan mockup produk mereka untuk dinilai oleh para juri. Sesi penjurian akhir kemudian dilakukan pada tanggal 29 Mei 2021 kemarin, di mana kelima peserta diberikan kesempatan lebih lanjut untuk mempresentasikan produk mereka, serta menjawab pertanyaan sehubungan dengan business plan mereka dari para juri.

    Dalam proses penjurian akhir, tim juri sendiri terdiri dari Ibu Martina Danuningrat, Vice President Marketing Communication Head for CPP UOB Indonesia, Ibu Milka Tivani, CPP Product Loyalty Head UOB Indonesia, serta Ibu Vinni Singadiwirya, founder dari Export Hall. Ada beberapa ospek penilaian yang menjadi tolak ukur tim juri dalam kompetisi "YOLOPRENEUR" ini, di antaranya adalah orisinalitas konsep dan ide, kreativitas, serta poin sustainable.

    And finally, pada 31 Mei 2021 kemarin, pemenang kompetisi "YOLOPRENEUR" ini pun diumumkan, dengan Muller Ceramic oleh Frans Muller sebagai pemenangnya. Muller Ceramic sendiri merupakan usaha kerajinan pot tanaman yang menggunakan keramik sebagai bahan dasar pembuatannya, dan Frans selaku founder kerap mengikuti beragam workshop dan expo untuk mempromosikan hasil usahanya. Frans juga mengaku bahwa membuat pot keramik awalnya hanyalah sebuah hobi, yang pada akhirnya ia kembangkan menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Congratulations Muller Ceramic!



    Pembekalan Usaha Bagi Para Entrepreneur Muda

    Selain mengadakan kompetisi, Cosmopolitan Indonesia bersama dengan UOB YOLO Card by Bank UOB Indonesia juga mengadakan sebuah webinar bertajuk "Kiat Menjadi Entrepreneur Muda yang Sukses" pada 29 Mei 2021 kemarin. Dalam acara virtual tersebut hadir Martina Danuningrat, Vice President Marketing Communication Head for CPP UOB Indonesia, serta Milka Tivani, CPP Product Loyalty Head UOB Indonesia. Selain itu, hadir pula co-founder EATLAH, Michael Chrisyanto, juga founder Calla the Label, Yeri Afriyani, serta founder Export Hall, Vinni Singadiwirya, untuk memberikan pembekalan dan membagikan ilmu-ilmu seputar entrepreneur bagi para pebisnis muda.

    "Bekerja sama dengan MRA Media, UOB YOLO Card by Bank UOB Indonesia ingin membantu para entrepreneur muda untuk membangun bisnisnya," ujar Milka Tivani saat membuka sesi webinar. "Tak hanya memberikan modal lewat kompetisi 'YOLOPRENEUR', kami juga ingin membantu entrepreneur muda dalam mencapai kesuksesan dalam berbisnis dan mendukung generasi muda untuk tetap maju dengan memberikan pembekalan langsung dari para pebisnis sukses."

    "Kalau saja kompetisi seperti ini sudah ada sejak dulu, pasti akan lebih mudah bagi saya untuk memulai usaha," ujar Yeri Afriyani. "Kalian beruntung sekali sekarang ini ada kompetisi seperti 'YOLOPRENEUR' yang bisa membantu kalian membangun usaha," lanjutnya. Sebagai founder Calla the Label, Yeri mengaku bahwa memulai usaha bukanlah hal yang mudah. Ia mengalami banyak "jatuh-bangun" sebelum bisa sesukses sekarang.

    Ketika ditanya mengenai bagaimana hingga akhirnya bisnisnya mendapatkan perhatian masyarakat, Yeri mengaku bahwa ia memanfaatkan kehadiran media sosial ketika membangun usahanya pada 2017 silam. "Saya tahu bahwa produk yang saya tawarkan sedikit berbeda dari produk lain yang biasa dijual. Maksud saya, siapa sih, yang ingin menggunakan baju bertema confetti pada saat itu? Hahaha." Untungnya, kehadiran tagar OOTD dan media sosial seperti Instagram membantu Yeri dalam mengembangkan usaha dan memasarkan produknya. "Pada saat itu media sosial sedang ramai-ramainya, dan semua orang sedang senang sekali menggunakan tagar di Instagram. Saya pun memanfaatkan hal tersebut untuk mengenalkan produk saya." Hasilnya? Dalam waktu empat tahun, kini ia memiliki komunitas yang loyal, yakni Calla Squad, serta lebih dari 200 ribu followers di Instagram.



    "Seperti Yeri, saya juga mengaku bahwa membangun bisnis itu tidak mudah," ucap Michael, co-founder dari EATLAH. "Sebelum menjadi brand internasional seperti sekarang, saya harus banyak belajar," lanjutnya. "Seperti Yeri, bisnis saya juga dimulai pada tahun 2017 silam. Saat itu bisnis online service mulai tumbuh, seperti Go-Food misalnya. Hal ini saya manfaatkan untuk perkembangan bisnis saya."

    Selain harus memiliki target yang jelas, saat ditanya mengenai apa hal yang penting dalam membangun sebuah bisnis, Michael menjawab, "Harus ada karakter. Kamu tak bisa menjual sebuah produk jika produk tersebut tidak memiliki karakter," sarannya. "Ada banyak sekali produk makanan cepat saji di luar sana, lalu apa yang bisa membedakan produk saya dari mereka? Inilah yang kemudian saya cari untuk menjadi karakter saya," lanjut Michael. "Pada saat itu, tidak banyak produk makanan cepat saji yang menggunakan bahan ramah lingkungan sebagai packaging-nya, di sisi lain saya memiliki seorang rekan yang menawarkan untuk menggunakan produk kertas box ramah lingkungan miliknya menjadi wadah makanan saya. Saya pun menggunakan kesempatan tersebut untuk bisnis saya," jelasnya.


    Langkah Awal Berbisnis: Mencari DNA & Strategi Marketing yang Tepat

    "Saya setuju dengan Michael, menurut saya karakter sebuah brand itu penting sekali. Kamu harus menciptakan 'DNA' brand-mu sendiri. Semisal, sedari awal saya sudah memutuskan bahwa DNA saya adalah pakaian ready-to-wear dengan motif yang playful, dikhususkan untuk traveling meski juga bisa digunakan dalam keseharian untuk bekerja atau bersantai di rumah. That's it. DNA inilah yang terus saya pakai sampai sekarang."

    Bagi Vinni Singadiwirya, memiliki DNA dan karakter dalam produk yang dijual atau ditawarkan memang super-penting. "Dan selain itu, kamu juga harus mencari tahu, bagaimana strategi marketing dan cara berjualan yang tepat untuk produkmu. Faktor ini bisa berpengaruh terhadap angka penjualan kamu nantinya," ucapnya. Lalu, apakah berkolaborasi dengan KOL adalah strategi marketing yang penting?

    "Untuk banyak kesempatan, yes. Tapi bukan berarti kamu harus selalu menggunakan KOL untuk setiap produk baru yang kamu tawarkan, ya. Selain KOL, kamu juga bisa mengandalkan review dan komentar dari pembeli. Sebisa mungkin berusahalah untuk mendekatkan diri dengan para pembeli melalui cara membalas komentar mereka dan menghargai review mereka. Dengan cara ini mereka akan merasa lebih 'dekat' dengan brand dan lebih loyal. Pada akhirnya, para customer-ku inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari lahirnya komunitas Calla Squad, yang membantu usaha ini terus maju," ujar Yeri. "Dengan tren FOMO yang mengakar sekarang ini, unggahan dari satu customer bisa mendatangkan satu customer baru," lanjutnya.

    "Selain itu, pahami bahwa sebuah bisnis itu tidak bisa bergerak sendirian, kamu akan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Se-la-lu. Networking merupakan kunci untuk bisa mempopulerkan bisnis. Teman-temanmu adalah support system yang kamu butuhkan karena merekalah yang akan membantu memasarkan produkmu," saran Yeri. 


    Pentingnya Networking dan Berinovasi dalam Berbisnis

    Michael pun mengangguk mendengar hal tersebut. "Aku sependapat dengan Yeri. Networking itu penting banget. Kamu engga akan pernah bisa menggerakkan bisnismu sendirian. Saya sendiri pernah bekerja sama dengan Muklay (Muchlis Fachri), seorang seniman, yang jika dipikir-pikir lagi sebenarnya bisnis karya seni agak kurang nyambung dengan bisnis F&B. Namun kolaborasi ini ternyata berhasil, lho," ucap Michael. "Di masa pandemi ini, berkolaborasilah sebanyak mungkin, bersolidaritas itu penting!" tambahnya. "Sebagai manusia kita terbiasa untuk berkompetisi, sejak kecil kita diajarkan untuk 'ayo, kamu bisa jadi nomor satu' dan sebagainya. Namun pandemi ini menyadarkan saya sebagai pebisnis bahwa kami harus bekerja sama dan menyingkirkan rasa ingin bersaing. Mengapa? Karena kompetisi akan selalu ada. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa bersama-sama maju lewat sebuah inovasi."

    Bicara soal inovasi, manakah yang lebih sulit, konsistensi dalam berbisnis atau inovasi? "Jauh lebih sulit konsistensi. Bukan berarti berinovasi itu mudah ya, tapi mencoba hal baru itu lebih mudah dilakukan," jawab Yeri. "Nah, begitu inovasi tersebut berhasil, menjaga kesuksesannya yang sulit."

    "Betul. Konsistensi-lah yang membuat kita terus maju. Bisnis apapun yang kamu jalankan, selama kamu konsisten dan engga mudah menyerah, pasti bisa berhasil," tambah Vinni. "And remember: You can put your dreams as high as possible, tapi jangan pernah lupa 'dapur'-mu di belakang," lanjutnya. "Bagaimanapun, 'dapur' itulah yang menjadikanmu bisa sesukses sekarang."

    "Konsistensi itu sulit karena kamu butuh banyak semangat dan sehat secara mental, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini," timpal Michael, yang membuat seluruh pembicara menganggukkan kepala. "Kamu harus waras sepenuhnya. Kamu harus sadar bahwa menjadi entrepreneur bukan cuma sekadar mengejar cuan cuan cuan, karena bisnis ini bukan cuma soal dirimu sendiri, tapi juga banyak orang. Apalagi jika dalam menjalankan bisnis kamu mendapatkan bantuan orang lain, seperti karyawan. Kamu harus ikut menjaga hidup mereka, tanggung jawabmu sebagai seorang pemimpin adalah melihat ke bawah, melihat ke belakang, dan baru dari situ melihat ke depan."

    "Aku suka sekali dengan yang dikatakan Michael tadi: Kamu harus waras. Pandemi ini memang membuka banyak kemungkinan, engga ada yang engga bisa kita lakukan. Kolaborasi sana sini dengan pihak sana sini bisa kita lakukan. This pandemic has unlocked our potentials. Tapi ingat, jangan halu. Kita harus tetap waras. Mengikuti tren itu memang penting, tapi usahakan untuk sebisa mungkin sesuai dengan DNA kita," tambah Yeri.


    Kunci Sukses Berbisnis: Berani Berusaha

    Salah satu pertanyaan terbesar yang mungkin sering berada di pikiran kita ketika akan membangun bisnis adalah: Bagaimana jika nanti bisnis ini gagal? Bagaimana caranya agar saya berani mengambil langkah maju? "Dicoba saja. Percaya, deh. Jangan banyak pertimbangan, lebih baik dicoba dibanding kamu hanya duduk saja menjadi penonton. Kamu harus mengubah pemikiranmu: Aku pasti bisa," ujar Vinni. "Dalam setiap usaha, pasti ada saja kesulitannya. Yang penting, kamu harus tetap ingat bahwa engga ada hal yang engga mungkin selama kamu konsisten berusaha. Engga ada yang engga mungkin selain jilat sikut," tambah Michael. Komentar terakhirnya mengundang tawa dari setiap orang, yang kontan langsung mencoba untuk menjilat sikut masing-masing.

    "Nah, kalau soal kegagalan, saranku cuma satu: Jangan berani minta sukses kalau kamu belum siap menghadapi setiap masalah yang akan muncul. Kegagalan dalam berbisnis itu normal, kok. Siap minta hujan? Kamu juga harus siap becek-becekan," jawab Vinni. "Betul sekali. Aku suka banget kutipan dari Mba Vinni. Siap minta hujan berarti siap becek-becekan. Kalau boleh menambahkan, menurutku sih, jangan cepat-cepat minta usahamu besar. Engga perlu buru-buru. Hadapi prosesnya, jalani semuanya dengan usaha keras, dan setiap ada masalah selesaikan dengan kepala dingin," tambah Yeri.

    "Betul, jangan langsung sukses. Bahkan mi instan saja engga instan, kan? Ada proses pembuatannya dulu," tutup Vinni dalam sesi pembekalan entrepreneur pada hari itu.

    Terima kasih bagi para pembicara yang sudah hadir dalam webinar tersebut. Until next time!

    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmo)