Lifestyle

Ini 5 Peserta Terbaik Kompetisi "YOLOPRENEUR" dari UOB YOLO Card

  by: Alvin Yoga       16/6/2021
  • Cosmopolitan Indonesia bersama dengan UOB YOLO Card by Bank UOB Indonesia sukses mengadakan sebuah kompetisi digital bertajuk "YOLOPRENEUR" pada Januari hingga Mei 2021 kemarin. Sesuai dengan tagline-nya, "Make Your Dream Come True", Cosmo dan UOB YOLO Card berhasil mengajak para entrepreneur muda Indonesia untuk berani mewujudkan mimpi mereka lewat kompetisi ini. Dengan hadiah utama berupa modal usaha sebesar Rp30.000.000,-, puluhan wirausahawan muda pun mendaftarkan diri mereka dalam kompetisi "YOLOPRENEUR" ini.

    Program kompetisi "YOLOPRENEUR" sendiri dimulai pada Januari lalu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin pebisnis muda dari seluruh Indonesia yang ingin mendapatkan bantuan modal usaha. Dan setelah proses penjurian yang ketat, dipilihlah lima peserta dengan produk dan business plan terbaik. Tim juri dari Cosmopolitan Indonesia dan Bank UOB Indonesia melihat bahwa kelima peserta tersebut memiliki orisinalitas konsep dan ide, kreativitas, serta poin sustainable dalam produknya.

    Penasaran siapa saja kelima peserta YOLOPRENEUR tersebut? Simak lengkapnya di bawah ini:






    1. Muller Ceramic


    Dibangun oleh Frans Muller pada awal tahun 2021, Muller Ceramic merupakan bisnis pot tanaman berbahan dasar keramik dengan visual yang unik. Ide untuk membangun usaha ini sendiri berawal dari kegemaran Frans terhadap tanaman hias succulent sejak 2018 silam. Bagi seorang penggemar tanaman hias, menurutnya sulit sekali menemukan pot tanaman yang dapat menampilkan bentuk unik dari tanaman tersebut. Frans kemudian menemukan bahwa pot keramik merupakan jawaban yang ia cari-cari untuk tanaman yang ia miliki. Sayangnya, pot keramik masih belum banyak dijual di Indonesia, dan kebanyakan penggemar pot keramik harus mendatangkan barang tersebut dari Jepang, Thailand dan Hong Kong. Tantangan lainnya, ia sulit menemukan ukuran dan bentuk pot yang sesuai dengan tanaman yang ia miliki.



    Dari sinilah ia mulai menaruh ketertarikan untuk mempelajari seni keramik dan mengikuti berbagai kelas pembuatan keramik. Awal tahun lalu, Frans pun memutuskan untuk membuat sendiri pot-pot keramik bagi tanaman-tanaman hiasnya, dan di awal 2021 ini, ia resmi membuka Muller Ceramic sebagai bisnis pribadinya. Menggunakan bahan alami yaitu tanah liat dari Sukabumi, Frans mengandalkan pengetahuan yang ia kumpulkan untuk membuat dan memasarkan pot-pot keramiknya seorang diri. Dengan menyisipkan karakter khas Muller Ceramic pada pot-pot yang ia miliki—mulai dari bentuk hingga warna—bisnis Frans pun kini mulai mendapatkan perhatian dari para penggemar pot keramik hias. Bagi Frans, bisnis yang ia lakukan, yaitu memasarkan keramik Indonesia, merupakan hal yang bisa ia lakukan sebagai generasi muda untuk memamerkan karya anak bangsa.


    2. Happy Kit by Hyperjoyed


    Berangkat dari keinginan untuk membagikan senyum kebahagiaan serta membantu para perempuan muda dalam menghadapi isu kesehatan mental yang rentan terjadi di masa pandemi, Hyperjoyed berinisiasi untuk memproduksi Happy Kit, sebuah kotak kecil berisikan beragam merchandise dengan afirmasi positif bagi mereka yang menerimanya. Sang founder sendiri, Ibu Evi, adalah seorang pegawai yang bekerja di Basarnas, yang sering sekali melihat para perempuan muda harus menghadapi berbagai peristiwa buruk di usia mereka yang masih dini. Bermula dari pengalamannya dalam membantu anak-anak muda tersebut, ia pun memutuskan untuk ikut meneruskan pesan positif tersebut lewat Happy Kit.

    Menurut survey yang dilakukan oleh Pew Research Center, di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini, gangguan kecemasan atau anxiety serta depresi di kalangan perempuan memang jauh lebih rentan terjadi dibandingkan pada kaum pria. Inilah mengapa sebagai sesama perempuan, Hyperjoyed yang didirikan oleh Ibu Evi ingin membantu para perempuan muda dalam menghadapi hal tersebut. Meski saat ini Happy Kit masih dalam tahap development, namun Hyperjoyed telah memutuskan beberapa merchandise dengan selipan pesan positif yang diharapkan bisa membantu para perempuan dalam keseharian mereka. Beberapa merchandise tersebut antara lain journal book, pillow cushion, mouse pad, tote bag, mug, serta T-shirt. Semoga keinginan positif ini bisa membantu para perempuan dalam menjalani keseharian. Can't wait to see the results!


    3. Canwaste




    Founder Canwaste, Andika, adalah seorang seniman sekaligus penggemar grafiti asal Jawa Tengah. Dalam melakukan hobinya, Andika sering sekali menggunakan cat semprot atau spray paint dalam membuat grafiti. Setelah beberapa lama menekuni hobi tersebut, Andika kemudian menyadari bahwa spray paint yang ia gunakan ternyata mayoritas menjadi sampah kaleng yang menumpuk dan berkarat. Andika sempat berusaha untuk mendaur ulang sampah tersebut lewat bank sampah. Namun sayang, berdasarkan pengalamannya, ia menemukan bahwa beberapa jenis kaleng sering ditolak oleh bank sampah, seperti kaleng pengharum ruangan, kaleng hairspray, kaleng pembasmi serangga serta kaleng cat semprot yang ia gunakan. Padahal, sampah-sampah kaleng tersebut merupakan golongan B3, yang artinya berbahaya apabila dibuang sembarangan. Khawatir bahwa hobinya turut memberi pengaruh buruk pada lingkungan, ia pun bertekad untuk mengolah kaleng cat semprot yang ia gunakan menjadi barang yang memiliki daya guna kembali demi mengurangi penumpukan sampah kaleng.

    Proses recycle sampah kaleng tersebut dimulai dengan membersihkan kaleng hingga layak pakai, kemudian kaleng akan dilukis dan bisa juga ditambahkan hiasan berbagai pernak-pernik seperti tali, pita, dan aksesori lainnya agar memiliki nilai estetika. Dalam proses pengerjaannya, Andika juga mengajak beberapa seniman lokal untuk ikut ambil andil dalam proses daur ulang kaleng. Hasilnya, kaleng-kaleng tersebut dapat menjadi tempat pensil, vas bunga, aksesori hiasan rumah, pot tanaman, dan banyak lainnya. 

    Lewat bisnis ini, Andika berharap dapat mengurangi jumlah sampah kaleng, membantu proses daur ulang sampah kaleng, serta memberdayakan seniman-seniman lokal lewat sebuah kegiatan positif. 


    4. Aavaran


    Dara, sang founder, mendirikan bisnis buku jurnal dan notebook, Aavaran, di mana dalam proses pembuatannya ia bekerja sama dengan para seniman lokal di Jawa Tengah. Di antara sekian banyak varian produk yang ia tawarkan, salah satu yang paling diminati adalah cover coloring notebook, di mana sang pembeli dapat mewarnai sendiri halaman sampul dari buku jurnal yang mereka beli. Menurut Dara, varian cover coloring notebook menjadi produk yang paling menarik karena buku tersebut secara eksplisit menunjukkan karakter unik dari pemiliknya. Sebagai suatu barang yang cukup personal, setiap orang pasti ingin memiliki buku jurnal yang menunjukkan karakter mereka masing-masing. Berangkat dari hal tersebut, ia pun menghadirkan paket buku jurnal lengkap dengan satu set alat lukis. Dengan sampul berbahan kanvas polos, para pembeli dapat menggunakan karya seni hasil tangan mereka sendiri, atau memesan desain custom sesuai keinginan untuk gambar sampulnya.

    Selain produk cover coloring notebook, Aavaran juga menjual notebook dengan sampul hasil kolaborasi dengan anak-anak yatim piatu dan disabilitas. Dengan gambar sampul yang naif, unik, dan penuh warna, produk ini juga sangat diminati oleh para pembeli, apalagi hasil penjualannya pun nanti akan disumbangkan bagi anak-anak yatim piatu dan disabilitas. Dengan membangun bisnis ini, Dara berharap dapat membantu para seniman lokal, anak-anak yatim piatu, dan juga disabilitas di Jawa Tengah untuk terus berkarya.


    5. La Komple


    Berdiri sejak tahun 2017, La Komple menawarkan ragam produk aksesori handmade, dimana beberapa bahannya mengandalkan bahan-bahan daur ulang. Beberapa bahan yang mereka gunakan termasuk botol plastik kemasan air minum serta carikan kain dan sampah plastik lainnya yang menurut La Komple mudah untuk di-recycle. Selain menggunakan bahan daur ulang yang ramah lingkungan, sisi unik lain dari La Komple adalah para pembeli dapat mendesain sendiri serta memilih sendiri pernak-pernik apa saja yang mereka inginkan untuk aksesori yang akan mereka beli, yang membuat produk miliknya menjadi lebih personal bagi para konsumen. Selain menjual aksesori, Anna, sang founder La Komple, juga sering mengadakan kelas pembuatan aksesori untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada mereka yang berminat untuk berkreasi membuat aksesori sendiri. 


    (Alvin Yoga / Image: Dok. Cosmo)