Celebrity

Inspiring! Andra Alodita & Ayla Dimitri Bicara Kekuatan Perempuan

  by: Givania Diwiya Citta       15/6/2021
  • Perempuan – topik yang tak akan bosan-bosannya Cosmo bahas – selalu punya aspek yang bisa didiskusikan. Mulai dari kekuatan perempuan yang sesungguhnya, keunggulannya, hingga warisan nilai-nilai yang menjadi sumber inspirasi untuk dianut oleh generasi penerus. Begitu pula obrolan Cosmo bersama dua perempuan modern inspiratif Andra Alodita dan Ayla Dimitri. Keduanya menceritakan tentang perjalanan menjadi perempuan versi terbaik masing-masing, hingga sosok-sosok perempuan yang mampu menginspirasi mereka. We’re inspired!


    Hai Ayla, Andra! Bisakah kalian bagikan tips bagaimana cara kalian tetap happy, positif, kreatif, dan produktif di antara tantangan fisik dan mental dari dampak pandemi? Omong-omong, kondisi pandemi telah kita lalui selama lebih dari setahun ini, lho. 

    AYLA (AY): Saat awal-awal masa pandemi, sudah bisa dipastikan kita semua merasakan dampaknya. Apalagi ketika kita tak bisa bepergian dan bereksplorasi, padahal hasil pengalaman dari eksplorasi tersebut bisa menjadi makanan bagi jiwa kita. Seperti saya yang mencoba memperkaya diri dengan traveling, namun tiba-tiba saya harus tinggal diam di satu tempat. Itulah keterbatasan yang harus saya hadapi, hingga rasa stres dan kegelisahan pun muncul berbarengan dengan ketidakpastian situasi. Tapi lagi-lagi, jika kita ingin melihat sisi terangnya – meski mudah dikatakan tapi sulit untuk dilakukan – saya mencoba merasakan segala kesedihan yang hadir lalu mengganti energi tersebut untuk membuat diri saya produktif. Konsep melakukan yang terbaik dalam keterbatasan adalah yang saya coba lakukan lagi ketika masa pandemi. Meski awalnya saya merasa tak bisa melakukan apapun di rumah, namun saat bisa mengambil waktu untuk mengkaji hal-hal dengan pikiran jernih, ternyata ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan di satu tempat. Akhirnya saya bisa mengulang untuk mengenali kemampuan diri. Semisal, jika sebelumnya saya berpikir tak bisa masak, ternyata saya bisa! Atau, ternyata saya bisa juga berdiam di rumah! Keterbatasan tersebut justru empower saya untuk melakukan lebih. Karena, semua masalah pasti datang dengan solusi. Jadi, ketika kita terhubung kembali dengan diri sendiri, maka keterbatasan menjadi ruang untuk mengembangkan diri. Menurut saya, pandemi yang kita lalui ini adalah tempat untuk mengenal diri sendiri. 



    ANDRA (AN): If you can’t go outside, go inside. Itulah yang saya pelajari sepanjang pandemi. Selama ini, saya selalu mencari kebahagiaan di luar – baik di luar diri saya, di luar rumah, di luar Indonesia. Ternyata, semua jawaban yang saya butuhkan ada di dalam diri sendiri. Satu hal lagi, yang menyelamatkan saya saat pandemi adalah sebuah spiritual awakening. Meski sudah beberapa kali terjadi sebelumnya, namun panggilan yang ini lebih kuat. Saya sering gelisah tentang mengapa saya ada di dunia ini, apa tujuan saya hidup. Ternyata dari segala pertanyaan dan gelombang emosi yang datang itu – dan agar saya tidak tenggelam di dalamnya – yang menyelamatkan saya adalah rutinitas yang sudah saya bentuk sejak bertahun-tahun. Beberapa tahun kemarin, saya menggunakan Google Calendar untuk tahu cara produktif agar setelah bangun pagi tahu apa yang harus dikerjakan dalam daftar. Karena saat saya mengalami mental breakdown, saya tahu apa yang harus dilakukan setiap harinya, mulai dari jalan pagi, membuat sarapan, baca buku, hingga menulis jurnal. Meski tampaknya membosankan, namun rutinitas itulah yang menyelamatkan saya dari mental breakdown, apalagi di masa-masa yang tak pasti. 



    "Selama ini, saya selalu mencari kebahagiaan di luar – baik di luar diri saya, di luar rumah, di luar Indonesia. Ternyata, semua jawaban yang saya butuhkan ada di dalam diri sendiri." -Andra Alodita


    Jadi seluruhnya kembali lagi ke diri sendiri, selayaknya self-love adalah akar agar kita bisa kuat menghadapi semua tantangan. Aksi self-love apa saja yang biasa kalian lakukan?

    AN: Saya pernah membuat campaign ‘iseng-iseng’ di media sosial, yaitu “pejuang me time”. Ini terinspirasi dari cerita saya sendiri, yaitu saat sebagai ibu, saya kerap lupa melakukan me time. Ini pasti relate dengan para ibu di luar sana. Anak kerap tidur bersama saya dan mengikuti jam tidur saya, bisa jam 10 atau 9 malam. Akhirnya saya tak punya me time, hingga saya burn out. Saya pun membuat rutinitas dan menetapkan jam boundaries dengan anak. Semisal ia harus tidur jam setengah 8 malam, karena saya akan me time dan bermeditasi. Dan saat weekend, itu pun adalah waktu saya bersama suami, saya pasti bilang pada anak saya bahwa ini adalah adult time, waktunya orang dewasa. Kami mau nonton Netflix, kami mau catch up sebagai couple, dan saya juga mau catch up dengan diri sendiri. Saya pun selalu bilang pada suami bahwa ada beberapa waktu tertentu saya perlu sendirian, jalan seorang diri, menyetir sendiri, karena itu me time milik saya. Self care itulah yang saya benar-benar perjuangkan. Saya juga bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk eksplorasi dan terus belajar, jadi saya terus melakukan itu sebagai rasa cinta terhadap diri sendiri. Tapi saya juga tidak pernah melupakan bahwa saya punya keluarga, suami, dan anak. Saya tidak meninggalkan peran sebagai ibu, sebagai istri, sebagai pasangan, dan sebagai anak untuk orang tua sekaligus mertua.

    AY: The first thing for my go-to-activity for self-love is... memberi waktu untuk diri sendiri melakukan apapun yang seorang Ayla suka. Karena dengan melakukan apa yang saya suka, saya bisa terhubung kembali dengan diri sendiri. Salah satunya seperti bepergian ke alam outdoor, itu menjadi wujud saya merawat diri sekaligus memberikan waktu untuk diri saya terhubung dengan alam. Itu sangat bisa menyeimbangkan energi saya. Kedua, saya memang sempat mengalami mental breakdown, bahkan saya masih melakukan terapi hingga kini. Yang saya temukan, self-love ternyata mengajak saya untuk bicara dengan diri sendiri, untuk menyadari apa yang dibutuhkan diri. Jika kita terlalu sibuk, kita kerap lupa dengan apa yang kita sungguh rasakan. Emosi apa saja yang hadir, atau rasa apa saja yang belum sempat terproses. Saya akhirnya belajar untuk memberi diri waktu dalam merasakan semua emosi, sedih, marah, kecewa. Bukan untuk menyiksa diri, tapi justru untuk mengizinkan diri ini merasakan apa yang seharusnya tak saya tolak. Justru kita akan menyiksa diri jika kita memilih untuk tidak merasakan apa yang harus kita rasakan, semisal kita pura-pura tak sakit hati atau kita pura-pura tak marah, kita pura-pura tak sedih, itu justru menyiksa diri. Jadi, saat saya ingin menangis, maka saya akan menangis. That’s my self-love, that’s how I heal myself too. Selain itu, untuk merasa lebih baik, saya juga ingin memberi kebaikan pada orang lain. Dengan memberi kebaikan pada orang lain, sebagian dari diri saya merasa pulih. Karena kita bisa menemukan tujuan hidup, dan ketika kita menemukannya, maka kita akan menjadi diri sendiri nan utuh. Dengan kita mencintai diri kita, maka kita bisa mencintai orang lain lebih baik lagi. 



    Cosmo couldn’t agree more. Apakah kalian punya tips untuk sesama perempuan agar melakukan aksi-aksi kecil yang bisa membantu membuat environment di dunia nyata maupun digital jadi lebih positif untuk kita semua, terutama perempuan? 

    AN: Kalau saya perhatikan, sesama perempuan itu masih sulit untuk saling memuji. Bukan yang hanya basa-basi, namun yang tulus seperti bisa look eye-to-eye dan bilang, “Ayla, kamu hari ini cantik banget!” dan menjelaskan mengapa, semisal saya suka cara berpakaiannya, atau bahwa mood dirinya hari ini sedang bersinar. Rasanya akan menyenangkan, karena saya bisa ikut merasa baik pada diri sendiri, sebab saya bisa apresiasi perempuan lain yang hadir di depan saya.

    AY: Selain itu, sesederhana untuk tidak perlu saling menjatuhkan, jika saling memuji itu masih sulit. Saya berharap, semakin kita menyayangi diri, semakin kita mengenali diri, semoga itu membuat kita meminimalisir rasa untuk menjatuhkan orang lain. Jika kita sudah bisa menyerang orang lain, mungkin artinya ada sesuatu hal yang salah dalam diri kita. Karena ketika kita melakukan hal negatif pada orang lain, seharusnya kita berkaca lagi, what’s wrong with me? Again, give yourself time.





    Apa yang kalian syukuri dari menjadi seorang perempuan di era modern? 

    AY: Banyak! Kita sudah punya banyak ruang untuk berkarya, untuk bersuara, dan kita punya ruang untuk lebih pintar. Terutama di Indonesia dengan keberagamannya. Meski berbeda-beda, tapi kita bersatu. Apalagi sebagai perempuan, kita bisa mendatangkan kehidupan sebagai seorang ibu. Seperti Andra, ia memajukan kehidupan menjadi ibu, menjadi istri, menjadi queen of the house, perempuan karier, sangat hebat. 

    AN: Sekarang yang saya lihat adalah kesetaraan. Saya merasa ada kesetaraan di dalam rumah, dalam keluarga saya, kami sama-sama setara. Mungkin dulu seorang ibu harus menjadi ibu rumah tangga, tapi saya justru punya ruang untuk berkarier, berkreasi, belajar tanpa ada batasan dari keluarga maupun pasangan. Suami saya pun tak merasa tertindas, jadi bisa dibilang saya sangat beruntung menjadi perempuan di era modern. Tapi perempuan-perempuan hebat mungkin tak bisa seperti sekarang tanpa peran lelaki yang hebat juga, lho. Selain karena perempuan sudah hebat, tapi di balik itu, banyak juga lelaki hebat seperti figur ayah ataupun suami yang mendukung kita untuk maju.


    "Perempuan itu kuat ketika bisa tahu apa yang ia mau, ia pun mau mewujudkannya, dan ia bisa meyakinkan bukan hanya dirinya saja, melainkan pada orang sekitarnya juga bahwa ia mampu." -Ayla Dimitri


    Bagaimana cara kalian mendeskripsikan kekuatan seorang perempuan yang sesungguhnya?

    AY: Ketika ia tahu apa yang ia mau. Terkadang ada nilai-nilai yang terbentuk dari sebuah kebudayaan bahwa perempuan harus jadi hal-hal tertentu. Tapi perempuan itu kuat ketika bisa tahu apa yang ia mau, ia pun mau mewujudkannya, dan ia bisa meyakinkan bukan hanya dirinya saja, melainkan pada orang sekitarnya juga bahwa ia mampu.

    AN: Jika bisa menyambungkan, perempuan itu kuat ketika ia memperjuangkan haknya sebagai perempuan. Saya pun selalu amaze tentang bagaimana perempuan bisa hamil dan melahirkan. Itulah keuntungan serta kehebatan perempuan, bisa dititipkan makhluk lain.

    AY: Betul, dan perempuan yang hebat itu adalah yang bisa menjadi segalanya yang dibutuhkan oleh dunia ini. Saya jadi teringat almarhum nenek, menurut saya ia perempuan yang sangat hebat, ia bisa mengurus rumah, juga bisa mengurus keluarga besarnya. Ia ingat semua orang, semua cerita, ia bekerja juga aktif berorganisasi, ia merawat semua cucunya mulai dari mengajari memasak, menjahit, menabung, bermain layangan, membacakan dongeng, meninabobokan cucunya, belum lagi setiap pagi ia menyiapkan makanan yang masing-masing kami suka.

    AN: Nurturing...

    AY: Sangat! Ia mengajarkan nilai kekeluargaan, pekerja keras, menjadi ibu, menjadi nenek. Bahkan, ia masih bisa memposisikan kakek sebagai the king of the house, tapi ia juga mengimbangi posisi kakek tanpa mengintimidasi.

    AN: Saya jadi ingin menambahkan, perempuan pun kuat ketika ia juga punya nilai yang ia pegang, seperti kekeluargaan, cinta kasih, kedamaian, kejujuran.

    AY: Itulah mengapa perempuan sangat hebat dan kuat, nature saja diberi julukan mother nature! We are that strong!


    (Givania Diwiya / FT / Images: Dok. Instagram.com/ayladimitri; Dok. Instagram.com/alodita / Layout: Rhani Shakurani)