Better You

Alasan Di Balik Terjadinya Perasaan Impostor Syndrome

  by: Redaksi       23/6/2021
  • Kalau kamu pernah merasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu atau meragukan dirimu di tempat kerja, maka kamu tidak sendirian. Banyak orang mengalami perasaan tersebut, kekhawatiran jika suatu saat mereka akan diberi predikat “penipu” meski kenyataannya berkata lain. Fenomena ini sering dirasakan oleh para high-achievers dan dikenal sebagai impostor syndrome. “Orang dengan impostor syndrome merasa seperti seorang penipu, seperti hanya berpura-pura dapat melakukan sesuatu, dan mereka takut orang lain akan menyadari hal ini,” jelas Andy Moinsky, penulis buku Reach: A New Strategy to Help You Step Outside Your Comfort Zone, Rise to the Challenge, and Build Confidence.

    “Yang menarik lagi adalah, sering kali perasaan ini dialami oleh orang-orang high-achievers yang kurang percaya diri dengan kemampuan mereka.” Bahkan Meryl Streep, aktris dengan nominasi Academy Awards terbanyak, pernah mengalami sindrom ini. Di sebuah kesempatan ia pernah berkata, “Kamu berpikir, ‘Mengapa ada orang yang mau melihat saya di film?’ dan saya juga tidak bisa berakting dengan baik, jadi untuk apa saya melakukan ini?” Tetapi bahkan setelah menerima 30 nominasi Golden Globe, perasaan seperti seorang "penyamar" tidak hilang dari pikiran Meryl Streep dan, meskipun selalu menerima respon yang baik akan aktingnya, ia masih merasa tidak melakukan pekerjaannya dengan baik. Hal ini pun banyak dialami oleh perempuan-perempuan sukses.

    Rebecca*, 32, adalah seorang pengajar di sebuah universitas terbaik di Inggris dan ia juga sering meragukan dirinya sendiri. “Pada dasarnya, saya selalu percaya bahwa hasil pekerjaan saya buruk dan cepat atau lambat orang lain akan menyadari hal ini,” jelasnya. “Baru-baru ini saya menerbitkan sebuah buku dan sepanjang proses penulisan manuskrip itu saya percaya tulisan saya tidak bagus.” Dan seperti penderita impostor syndrome lainnya, Rebecca menemukan dirinya selalu mencari-cari alasan mengenai keberhasilannya.





    “Saya yakin mereka berpikir bahwa saya memiliki kemampuan yang tidak saya punya, dan mereka akan kecewa.”


    “Saya selalu memiliki alasan mengapa saya bisa sukses meskipun pekerjaan saya tidak begitu bagus, mungkin orang yang menilai karya saya tidak begitu fokus saat membacanya atau mereka bukan spesialis di bidang saya,” tuturnya. “Dan di pekerjaan terakhir pun saya meyakini bahwa mereka pikir saya memiliki kemampuan yang tidak saya punya dan mereka akan merasa kecewa ketika mereka mempekerjakan saya.”

    Banyak orang yang mengalami impostor syndrome, tetapi para ahli telah lama menemukan bukti bahwa perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk merasakan hal ini. Sebuah penelitian terbaru menemukan sepertiga dari kalangan milenial meragukan diri sendiri di tempat kerja, 40 persen diantaranya adalah perempuan yang merasa terintimidasi oleh senior mereka sedangkan hanya 22 persen pria merasakan hal yang sama. Pada tahun 2011, Institute of Leadership and Management melakukan survei ke para manajer terkait kepercayaan diri terhadap pekerjaan mereka. Dari survei ini diketahui setengah dari responden perempuan merasa tidak percaya diri sedangkan hanya kurang dari sepertiga pria merasakan hal ini.

    Dr. Valerie Young, yang telah banyak menulis tentang topik ini, mengatakan bahwa kecenderungan pada perempuan untuk mengalami impostor syndrome sebagian besar dikarenakan masih adanya stereotip seksis terhadap perempuan di tempat kerja. “Secara sadar atau tidak, perempuan tahu bahwa mereka sedang dinilai dengan standar yang berbeda,” jelasnya. Selain itu, perempuan juga memiliki kecenderungan untuk menyalahkan diri mereka sendiri atas kegagalan yang terjadi dan mengatakan keberuntungan sebagai alasan mereka sukses.

    “Penelitian mengatakan bahwa perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk menginternalisasi kesalahan, kegagalan, dan kritik, sedangkan laki-laki lebih cenderung mengeksternalisasi perasaan ini,” Kata Young. “Dalam kata lain, ketika perempuan melakukan kesalahan atau tidak bekerja secara maksimal, seperti misalkan gagal lulus ujian, ia akan menyalahkan diri sendiri dan melihat kegagalan itu sebagai bukti ketidakmampuan dirinya terhadap suatu subjek.”

    Impostor Syndrome juga dapat menyerang perempuan dengan lebih intens di pekerjaan tertentu, terutama dalam bidang yang tidak banyak digeluti oleh perempuan. "Semakin banyak orang yang terlihat mirip denganmu di situasi tertentu – di kelas, di sebuah rapat, suatu lapangan pekerjaan, di tingkat eksekutif kantor – maka kamu akan semakin percaya diri," ujar Young. "Kapan pun kamu masuk ke dalam sebuah kelompok yang memiliki stereotip atas kompetensi, kamu jadi lebih rentan terhadap perasaan impostor."

    Perasaan seperti ini dapat menahan potensi seorang wanita di tempat kerjanya. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat lebih sedikit perempuan yang mendaftar ke suatu pekerjaan ketika mereka tidak memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan dibanding pria, yang mana para ahli percaya hal ini dikarenakan adanya kesenjangan dalam kepercayaan diri.

    Bagi Claire*, seorang manajer pemasaran berumur 32 tahun, perasaan seolah-olah sedang "diawasi" meningkatkan rasa takutnya untuk berbicara di depan publik. Meski telah memaparkan ide-idenya di berbagai rapat dan mengetahui bahwa kesuksesan yang dialami adalah berkat kerja keras dan pengetahuannya, Claire masih meyakini bahwa akan ada orang lain yang melakukan pekerjaannya dengan lebih baik. “Hanya dengan diundang ke acara-acara penting saja seharusnya sudah memberi saya sebuah validasi, tetapi saya melihat acara ini sebagai sebuah perkumpulan orang-orang berbakat yang, entah bagaimana caranya, saya berhasil masuk. Pikiran seperti ini tidak membantu rasa takut saya untuk berbicara di depan umum.”

    "Saya paham ada banyak perempuan yang mengalami kesulitan karena tidak dianggap serius ketika mereka berbicara, entah dalam sebuah acara stand-up comedy, politik, keuangan, atau sebagainya, jadi kami harus dua kali lebih baik agar bisa dianggap setidaknya setengah kali lebih serius layaknya para pria. Mengetahui hal ini, dan ditambah dengan keraguan diri, membuat kami mendapat kombinasi yang toksik."


    “Banyak wanita yang merasa kesulitan untuk dianggap serius ketika sedang berbicara, jadi kami harus dua kali lebih baik untuk dianggap setidaknya setengah kali lebih serius seperti laki-laki.”


    Lalu, apa cara terbaik untuk menjaga diri sendiri agar tidak terkena impostor syndrome? Untuk Rebecca, berbicara ke senior di kantor tentang kekhawatirannya dalam suasana santai sangat membantu. Menurut Young, “Langkah pertama adalah untuk meninggalkan rasa malu terhadap perasaanmu dan membicarakannya. Lain kali, kalau kamu merasa seperti sedang menipu dirimu, ingatkan diri sendiri bahwa terdapat 70 persen orang yang merasakan hal ini, dan banyak di antara mereka yang merupakan aktor pemenang penghargaan, penulis terkenal, dan CEO perusahaan besar.”

    Kedua, sangat penting untuk mengingat bahwa orang yang tidak merasakan impostor syndrome bukan berarti memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang merasakannya. “Perbedaan antara dua orang tersebut adalah orang yang tidak merasa seperti impostor memiliki kekhawatiran lain,” tambahnya. Selain itu, kamu juga dapat melatih diri untuk “membentuk ulang” pikiranmu. “Semisal, jika biasanya saat diberikan sebuah proyek besar kamu berpikir ‘Oh, tidak, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan,’ ubahlah pikiran tersebut menjadi ‘Wow, saya akan banyak belajar dari tugas ini’.”

    Hal terakhir yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah, tidak peduli bagaimana perasaanmu, kamu harus tetap menyelesaikan perjalananmu. “Apa yang diinginkan oleh individu dengan impostor syndrome adalah untuk merasa percaya diri 24/7,” jelas Young. “Tapi bukan begitu cara kepercayaan diri bekerja.” Satu hal yang harus selalu diingat adalah: Bahkan orang yang terlihat sangat bertalenta pun terkadang tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jadi, jangan khawatir dan percayalah akan dirimu!


    *Nama telah diganti.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Nabila Nida Rafida / VA / Image: Dok. Leon on Unsplash)