Lifestyle

10 Rekomendasi Film untuk Menghadapi Quarter Life Crisis

  by: Redaksi       29/6/2021
  • Konsep quarter life crisis bukanlah hal baru untuk didengar. Sudah lama istilah ini dipakai untuk mendeskripsikan sebuah periode dalam hidup seseorang, biasanya pada pertengahan umur 20-an sampai awal umur 30-an, yang merasa belum mencapai titik tujuan yang mereka mau, tidak mengembangkan potensinya dengan baik, atau merasa tertinggal dari orang lain.

    Sebuah penelitian dilakukan oleh Dr. Oliver Robinson, seorang psikolog dari University of Greenwich, mengatakan bahwa dari 1.100 partisipan, sekitar 86 persen mengaku bahwa mereka merasa tertekan atas hubungan percintaan, karir, dan kondisi keuangan mereka sebelum mencapai umur 30 tahun. Tetapi, periode quarter life crisis tidak hanya mendatangkan stres, lho. Menurut Robinson, periode ini juga dapat menjadi pengalaman pembelajaran yang positif karena kamu akan bergerak dari merasa terjebak hingga akhirnya membangun fondasi baru, dan yang lebih kuat, dalam hidupmu.

    Oke, oke, mungkin untuk kamu yang sedang mengalami krisis ini merasa pernyataan di atas hanya omong kosong belaka. Tapi kenyataannya, banyak juga yang membuktikan kebenaran dari pernyataan itu. Tidak percaya? Cosmo sudah membuat daftar 10 rekomendasi film tentang quarter life crisis yang (semoga saja) dapat memberimu harapan baru dan melewati periode penuh tekanan ini dengan lebih baik. Pssst, kabarnya beberapa film di bawah ini ada yang berdasarkan kisah nyata, lho!




    Breakfast At Tiffany’s (1961)


    “You call yourself a free spirit, a ‘wild thing,’ and you’re terrified somebody’s gonna stick you in a cage. Well baby, you’re already in that cage. You built it yourself.”



    Film klasik satu ini mengikuti kehidupan Holly Golightly, seorang gadis umur 20-an yang sedang berusaha untuk sukses di New York. Meski memiliki kecintaan akan kemewahan dan, tentu saja, produk Tiffany’s, ia menemukan dirinya kesulitan untuk membiayai hidup, mencari cinta, dan menemukan tempat yang menggambarkan dirinya.


    The Graduate (1967)


    “It’s like I was playing some kind of game, but the rules don’t make any sense to me. They’re being made up by all the wrong people.”


    Kamu sudah lulus dari universitas, now what? Dikenal sebagai salah satu film pertama yang menggambarkan quarter life crisis, “The Graduate” menceritakan tentang Benjamin Braddock, sarjana baru yang kembali ke kampung halamannya tanpa memiliki rencana untuk masa depannya. Dalam film ini, ia berusaha memendam kegelisahan dan rasa takutnya dengan menjadi selingkuhan istri tetangganya


    Good Will Hunting (1997)


    “You’ll have bad times, but it’ll always wake you up to the good stuff you weren’t paying attention to.”


    Film ini dibintangi oleh Matt Damon dan Robin Williams dan menceritakan kisah Will Hunting, seorang jenius matematika yang bekerja sebagai pembersih gedung di MIT. Melalui persahabatan dengan terapisnya, ia berhasil menerima masa lalunya yang penuh dengan kekerasan dan rasa sakit. Film ini cocok untuk kamu yang sedang merasa undervalued dan merasa dikalahkan oleh masa lalumu.


    Lola Versus (2012)


    “Everyone always says, ‘to love someone else, you have to learn how to love yourself.’ I don't know, after this year I don't think that's true. I think to love yourself, you have to learn how to love other people.”


    Jika film-film sebelumnya banyak bercerita tentang pendewasaan diri dalam meniti karir, “Lola Versus” membawa sisi lain dari quarter life crisis: Percintaan. Dicampakkan tiga minggu sebelum pernikahannya, dan dengan ulang tahunnya yang ke-30 tepat di depan mata, Lola memikirkan kembali pendekatannya selama ini dalam percintaan dan pertemanan


    Frances, Ha (2013)


    “I have so much to do. I think I’ll probably read Proust … Because sometimes it’s good to do what you’re supposed to do when you’re supposed to do it.”


    Mengisahkan perempuan bernama Frances Halladay, seorang penari yang berusaha menemukan jalan hidupnya, baik dalam karir maupun percintaan. Awal mula krisis dirasakan oleh Frances ketika sahabatnya pindah ke wilayah elit idamannya. Film ini sangat bagus dalam menggambarkan kehidupan kalangan young adult yang penuh ketidakpastian, perubahan, dan rentan dengan kegelisahan.


    Adult World (2013)


    “This is just so not how my life was supposed to turn out.”


    Menceritakan kehidupan Amy, seorang pelajar idealis yang ingin menjadi seorang penyair terkenal dan mendapat persetujuan dosennya yang terkenal sembari bekerja di toko buku dewasa untuk membiayai hidupnya. Film ini menggambarkan bagaimana kegagalan dapat membentuk kepribadian seseorang.


    In A World (2013)


    “I'm not going to have an argument about whether we're having a goddamn argument or not, right?”


    Merasa sulit untuk didengar, mendapat pengakuan, dan fit in dalam sebuah kelompok? Kamu harus menonton film satu ini. Film ini mengikuti kisah hidup Carol, seorang pelatih vokal perempuan yang memperjuangkan tempatnya di industri yang terdominasi oleh laki-laki. Untuk membuat dirinya dikenal di dunia voice-over, Carol harus melawan banyak laki-laki lain, termasuk diantaranya adalh sang ayah yang dikenal sebagai salah satu legenda industri.


    About Alex (2014)


    “The only thing I hate more than the present is nostalgia for the past.”


    Setelah Alex melakukan percobaan bunuh diri, teman-temannya dari masa kuliah pun berkumpul sepanjang akhir pekan untuk memastikan Alex tidak berusaha melakukannya lagi. Siapa sangka, ternyata mereka tidak hanya mengetahui permasalahan hidup Alex tetapi banyak permasalahan hidup mereka yang terungkap. Pembelajaran utama dari film ini: Kamu tidak sendirian.


    Whiplash (2014)


    “There are no two words in the english language more harmful than ‘good job.'”


    Andrew adalah seorang lelaki muda yang ingin menjadi drummer terbaik sepanjang masa. Untuk mewujudkannya, ia berlatih secara intens dengan guru musiknya yang tegas dan keras secara psikologis. Quarter life crisis dalam film ini digambarkan oleh biaya yang harus ditanggung dari pilihan, ego, dan upayanya untuk membuktikan diri.




    The Devil Wears Prada (2016)


    “Everybody wants to be us.”


    Siapa yang tidak tahu film ini? Film yang kabarnya terinspirasi dari pengalaman sang penulis ini menceritakan tentang Andy, seorang jurnalis muda yang bekerja sebagai asisten seorang editor majalah fesyen terkenal. Permasalahannya? Andy tidak tahu apapun tentang fesyen! Film ini memberi ilustrasi pendewasaan diri seseorang dengan baik dan bagaimana beradaptasi dengan kejadian tidak disangka dalam hidup.


    (Nabila Nida Rafida / Image: Dok. Outnow.ch)