Celebrity

Exclusive Interview: Syifa Hadju dan Perjalanan Self-Love

  by: Nadhifa Arundati       13/6/2022
    • Mengulik soal work-life balance, self-love, hingga relationship, siapa sangka kalau perempuan kelahiran 2000 ini sudah memiliki mindset yang matang ketika berbicara soal kompleksitas kehidupan.


    Mengenakan mini dress eksentrik berwarna pink, diiringi oleh penampilan bak Barbie girl, Syifa duduk dengan anggun, dan selalu menjawab pertanyaan dari Cosmo secara mantap. OK, beberapa dari kita mungkin sudah familier dengan kehadiran Syifa saat ia masih berusia empat belas tahun sewaktu berperan di sinetron ‘Bintang di Langit’. “Dulu saat saya mencoba ikut proses casting itu penuh dengan effort karena zaman belum secanggih sekarang,” tuturnya. Proses casting pertama Syifa masih sangat membekas hingga saat ini, “setelah selesai casting, saya mendapat respons yang cukup membingungkan, mereka bilang acting dan wajah saya cukup bagus, tetapi tetap saja saya digantung antara diterima atau tidak.”




    Dengan banyaknya badai yang ia terjang, kini Syifa berhasil membuktikan kalau dirinya tak hanya menggapai bintang di langit, but she’s become that ‘star’! Banyak fans yang sudah mulai penasaran dengan kesibukan Syifa—belakang ini ia tak sering tampak di sinetron layar kaca, “belakangan ini saya lebih berfokus pada beberapa proyek saja, salah satunya rencana merilis single duet bersama Arsy Widianto, jadi tunggu saja, ya!” ungkap Syifa tanpa ingin memberikan banyak spoiler.


    Kalau berbicara soal burn out, untungnya hal tersebut tidak membentur kehidupan Syifa—ia tahu kapan waktu yang tepat untuk bekerja dan beristirahat (note this to yourself, babes). “Ini menjadi alasan mengapa saat ini saya belum berani mengambil proyek sinetron, supaya saya bisa memanfaatkan waktu libur yang efektif,” ucapnya. “Saya sangat aware dengan jadwal kerja, dan saya perlahan semakin sadar kalau work-life balance itu sangat penting. Setelah bekerja keras, we need reward as well,” jawab Syifa yang mengklaim dirinya sebagai introvert, karena lebih memilih untuk menghabiskan waktu liburan di rumah bersama kucing-kucing menggemaskannya.

    Pada dasarnya Syifa hanya ingin hidup secara normal—ia tahu betul sebagai seorang selebriti, tak akan jauh dari rumor yang beredar perihal kehidupan pribadinya, “banyak orang menganggap saya tipikal orang yang tertutup, karena tentu saja saya hanya ingin menjaga privasi saya. And this is who I am.” Ah, tetap saja kita masih bisa menemukan banyak hate comment yang dilontarkan oleh publik kepada Syifa (to all of them: get a life!). “Saya pribadi jarang sekali membaca hate comment, karena masih banyak kegiatan lain yang bisa menumbuhkan pikiran positif. Tetapi ada kalanya juga kita tak bisa larut dalam kediaman, at some moment, we need to speak up for ourselves,” jawab Syifa dengan nada yang penuh semangat. Gurl, we are one hundred percent agree!


    Mau bagaimana pun manusia akan selalu terluput dalam lubang ketidakpercayaan diri. Kalau dilihat-lihat, kehidupan Syifa itu ibarat paket komplit—karier yang sukses, down to earth, dan berani untuk stand up—dan kata ‘insecure’ mungkin tidak lekat dalam dirinya. But well, kenyataan ternyata tidak mengiyakan asumsi ini.

    Insecurity adalah hal yang tentunya tidak bisa dihilangkan dari semua orang. Dengan adanya faktor pencapaian dan harapan orang yang selalu berbeda-beda.” Syifa menambahkan, “satu hal yang saat ini masih membuat saya merasa insecure; I often feel that I’m not good enough, tetapi saya bersyukur, karena sekarang saya sudah berada diproses untuk lebih menerima diri sendiri, dan mulai percaya kalau overthinking itu tak akan memberikan solusi, we need to let it go, pikiran-pikiran negatif. Ada satu kutipan yang saya pegang hingga saat ini; “belum tentu yang Anda nilai baik itu akan baik buat Anda dan yang Anda pikir hal itu buruk akan buruk bagi Anda.””

    “Belum tentu yang Anda nilai baik itu akan baik buat Anda, dan yang Anda pikir hal itu buruk akan buruk bagi Anda.” –Syifa Hadju

    Ketika itu pula kita akan sadar, bahwa proses penerimaan diri tak hanya hadir dari diri sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, pernyataan ini tak bisa diganggung gugat, karena sejatinya kita tak akan pernah bisa berdiri seorang tanpa bantuan dari fondasi lain—the so called support system. “Sudah pasti keluarga selalu menjadi pendukung nomor satu, selain itu saya merasa bersyukur juga punya sahabat yang bisa saya percaya. Saya lebih memilih pertemanan small circle yang di mana membuat saya merasa nyaman saat bersama mereka, shout out to you guys, you know who you are!” sahut Syifa.


    Perjalanan hidup terus bergilir, proses pendewasaan semakin membuat Syifa belajar banyak hal tentang bagaimana ia harus menghargai diri sendiri dan juga orang lain. Yes, you need to love yourself first before you love someone else. Bagi Syifa, self-love tak hanya semata-mata menerima diri sendiri secara apa adanya, ada irisan makna lain yang Syifa serap dan terapkan sampai saat ini. “Dari tahun ke tahun self-love itu akan selalu ada, dan kita tidak bisa memaksa orang untuk melakukannya, because we never know what they’ve been through. Karena bukan ucapan orang lain yang harus kita pikiran, it’s about you versus you. Di saat kita sudah berhasil melawan pikiran buruk dari diri kita sendiri, di situ pula kita bisa memulai untuk menghargai dan mencintai diri sendiri. It doesn’t matter what people say, jalani saja prosesnya secara perlahan.”

    Mulai dari titik tersebut, Syifa memberanikan diri untuk mulai melibatkan seseorang hadir di dalam kehidupannya—by having a long-term partner. Ia menekankan kalau hidup itu penuh dengan pembelajaran, salah satunya perihal komitmen hubungan. Secara terang-terangan Syifa mengatakan, “saya selalu belajar dari pengalaman hubungan di masa lalu dan mencoba untuk tidak mengulangi hal yang sama.”

    “Menurut saya, hubungan itu harus berjalan dua arah. Saya akui kalau kita tak akan mampu memiliki pasangan yang sempurna, namun kita juga harus mempertimbangkan value yang dimiliki oleh si dia, apakah Anda bisa menoleransi kekurangan yang dimilikinya atau tidak,” jawabnya. “Pasangan saya itu cenderung cuek, tetapi saya tak pernah mempermasalahkan hal ini, kami tetap berusaha untuk menjaga komunikasi. Saya tahu kalau hidup itu tak melulu harus bersinggungan dengan pasangan, kita juga punya kehidupan sendiri, sangat penting ketika kita berusaha untuk saling menghargai satu sama lain.”



    Perbincangan harmonis bersama Syifa membuat kita terbelalak akan prinsip dan pemahaman yang Syifa tegakkan. Syifa memang masih berusia dua puluh satu tahun—masih jauh lah untuk bersinggungan dengan fase mid-life crisis—tetapi kita sadar bahwa pendewasaan tak berangkat dari usia, melainkan berasal dari bekal pembelajaran hidup yang kita petik setiap harinya.


    Photographer: Hadi Cahyono

    Fashion Stylist: Dheniel Algamar

    Asst. Fashion Stylist: Margaretha Ayudityas

    Digital Imaging: Ragamanyu  Herlambang

    Text: Nadhifa Arundati

    Makeup: Ryan Ogilvy

    Hair: Firda Jean

    Wadrobe: Sean Sheila, Laurencia Irena, H&M

    Accessories: House of Jealouxy, H&M

    Layout Photo: Rhani Shakurani