Celebrity

Cantika Abigail: Kekhawatiran Bentuk Tubuh Berasal dari Diri Sediri

  by: Nadhifa Arundati       10/6/2022
  • Menjadi momen paling menyenangkan ketika Cosmo berbincang perihal body image bersama Cantika Abigail – musisi yang ketika bernyanyi bisa membuat siapa saja ikut terbawa oleh suaranya yang merdu. And fortunately, sekarang kita bisa mendengar suaranya program siaran Breakfast Club Cosmopolitan Radio!

    Sebagai penyanyi sekaligus penyiar, Cantika bercerita bahwa tak mudah bagi dirinya untuk tetap stay at the present. Meski memiliki reputasi sebagai seorang selebriti yang hidupnya tampak berjalan mulus layaknya porcelain, she is still a human after all. Melalui sosial media, Cantika pernah mengungkap kondisi penyakit psoriasi yang diidapnya lebih dari 10 tahun dan menganggu kepercayaan dirinya.




    "Ada hari saya bisa menerima, ada hari saya benci banget ngelihat keadaan tubuh dan kulit saya di cermin. Tapi saya selalu belajar mengenali apa yang bikin hati kita bahagia dan damai, hold on to it, karena buat saya, itu obat paling manjur,” ungkapnya.

    Cosmo pun mengajak Cantika berbincang mengenai body image, karena kita tahu bahwa menerima kondisi tubuh dan mencintai diri sendiri adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang. Let’s go dive deeper into it.

    Seperti apa pandangan kamu tentang body image?

    Body image itu satu hal yang seharusnya tidak ada tolak ukurannya, meaning; they should have no standard. Bahkan kadang kondisi kesehatan orang itu bisa kita lihat dari visualnya, semisalkan seseorang yang bentuk tubuhnya kurus atau sebaliknya, kita tak bisa meduga-duga apakah mereka dalam kondisi sehat atau tidak. Jadi menurut saya body image adalah suatu hal yang tak ada kotaknya.

    Menurutmu, apa yang memengaruhi body image di era ini?

    Akses sekarang yang jauh lebih mudah. Kita sekarang lebih sering menghabiskan waktu bersama handphone. Exposure yang kita lihat dari media sosial alhasil menjadi pengaruh besar – di satu sisi baik, namun di satu sisi buruk karena kita punya kecenderungan untuk ‘membandingkan’ diri kita dengan orang lain. Khususnya di dunia hiburan, ya. Kalau penyanyi itu jarang sekali hanya dinilai dari kemampuan suara, menjadi seseorang yang ‘eye-pleasing’ justru akan menjadi suatu penilaian yang.. terkadang jauh lebih penting.

    Saya dulu punya pengalaman yang serupa, apalagi sewaktu saya masih berada dalam grup musik, kami sempat memutuskan untuk menunjukkan karakter masing-masing, dan ternyata bagi para penonton dan beberapa pihak lain pertujukan kami dinilai kurang eye-pleasing. Sedangkan saya ingin merasa nyaman dengan apa yang saya representasikan. Realitanya masih banyak orang memang sulit untuk menerima hal itu. Padahal manusia sewajarnya selalu berubah bentuknya, seiring dengan perjalanan waktu.

    Mengapa body image masih menjadi isu yang dikhawatirkan oleh Gen-Z?

    Saya punya adik Gen-Z, dan mereka itu cepat sekali matang, ya! Terkadang apa yang kita konsumsi secara tak sadar membentuk pola pikir kita dan akhirnya membangun prioritas hidup kita. Sekarang ini banyak sekali brand yang membangun awareness tentang body tetapi hanya untuk kepentingan marketing yang kemudian memberikan informasi misleading. Jadi kenapa hal ini cukup mengkhawatirkan para Gen Z, karena beberapa hal yang ditampilkan mungkin tidak sesuai dengan realita dan pola pikir yang seharusnya benar-benar kita bangun. 

    Should we redefine or improve our body image?

    Hmm, redefining menjadi langkah yang ‘abu-abu’ untuk dilakukan. Menurut saya, balik lagi ke pada diri kita sendiri – coba didiskuksan dengan diri sendiri, apa yang sebenarnya kita perlukan either it’s redefining or improving, atau bisa juga kamu diskusikan dengan teman yang kamu percaya. Menurut saya improving menjadi dampak yang baik, ketika kita merasa kondisi tubuh menurun, kita dapat berpikir, ‘apa ya yang harus saya lakukan untuk membangun kembali kondisi tubuh?’ Lalu kita bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang mengembalikan kondisi tubuh yang sehat.

    But also, society matters. Terkadang meski kita sudah berusaha untuk improve tubuh kita, tetapi selalu ada saja komentar yang kurang enak entah dari keluarga atau pun teman. Tetapi personally, jika komentar itu hadir dari keluarga yang biasanya hanya dibalut sebagai sekadar ‘basa-basi’ saya masih bisa mewajarkan karena memang belum tentu tujuannya itu untuk merendahkan. Namun balik lagi, lingkungan yang positif akan menumbuhkan pola pikir yang positif pula.

    Bagaimana pendapatmu tentang perawatan kecantikan, surgery, atau diet yang bertujuan untuk menciptakan body image sesuai keinginan. Is that toxic or part of self love?

    Dari semua keputusan yang diambil, penting banget bagi mereka untuk akhirnya bisa menerima diri sendiri (self-acceptance). Setiap proses dilalui oleh masing-masing orang, dan kita tak pernah tau kadar kesulitannya. Saya tidak memiliki kuasa untuk menghakimi keputusan mereka jika memang hal itu membuat mereka merasa lebih nyaman dengan diri mereka sendiri. Siapa pun tidak berhak untuk menilainya toxic, karena kita tak pernah tahu perjalanan yang mereka tempuh.

    Bagi saya, manusia memang tak pernah puas, dan kalau berbicara soal surgery, jika seseorang melakukannya secara tepat dan tujuannya memang baik, then I guess it’s not the problem, yang menjadi masalah ketika kita sudah mulai terobsesi untuk melakukannya hanya karena ingin diterima oleh orang lain atau bahkan sampai menyiksa diri.

    Have you ever feel pressured with your own body?

    It’s an on and off feeling. Untuk menurunkan berat badan sendiri saja terkadang hal ini menghantui pikiran saya, “kenapa sulit sekali, ya?” Dan karena saya punya kondisi auto imun akibat penyakit kulit psoriasis sejak tahun 2011 – bahkan saya tak tahu kapan penyakit ini akan kambuh – menjadi titik kesulitan saya dalam proses penerimaan diri.

    Ketika saya merasa stres, salah satu jalan yang saya tempuh yakni dengan melampiaskan emosi saya dengan diri saya sendiri (I’m a Cancer, anyway). Kalau saya sedang ingin menangis, saya luapkan di dalam kamar dan bisa menangis seharian – habiskan semua emosi – di sisi lain, saya merasa bisa kembali bangkit lagi setelah melakukan hal ini. Sejujurnya saya bersyukur, karena kondisi auto imun saya dapat menjadi ‘alarm’ bagi tubuh saya untuk tidak oveproductive.

    Inner circle also helps a lot. Setelah saya melewati masa-masa terberat, saya memberanikan diri untuk bercerita ke teman terdekat, lalu perlahan saya mulai berani untuk speak up ke banyak orang. Rasanya itu seperti ‘membuang’ beban-beban yang selama ini hanya saya pikul sendiri, it’s a blessed. Banyak dukungan dan kisah-kisah lain dari para pengidap psoriasis – and then I realized, kalau saya pun juga bisa kok sekuat mereka, I do believe that.

    "You are your hardest critic.” Setuju tidak dengan kalimat ini?

    Yes, I’m a hardest critic. Padahal kalau dipikir-pikir, omongan orang kadang tidak seberapa, tetapi kita menumbuhkan lebih banyak kekhawatiran akan kondisi dan bentuk tubuh kita sendiri, maka rasa insecure jadi semakin berkembang.

    Hal-hal apa saja yang kamu lakukan untuk membangun hubungan yang sehat dengan tubuhmu sendiri?

    So how can I cope with it? Well, dengan cara sering bercermin dan menatap tubuh saya sendiri (psst, while naked!), sembari menatap dan menyadari kalau tubuh saya ternyata tidak seburuk itu, lho! Lalu saya bisa kembali memotivasi diri, jika ada satu part tubuh yang menurut saya kurang baik, saya bisa berpikir, apa olahraga yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan bentuk dan kondisi tubuh saya. Tetapi ketika saya merasa tubuh saya kurang membaik karena makanan yang saya konsumsi, salah satu hack yang saya terapkan bagi diri sendiri: cari menu makanan sehat yang menjadi favorit kita, so no pressure and yes we can still enjoy it.

    Key to gain body acceptance; just do your best, and expect nothing. Sama halnya dengan musik, ketika kita membuat suatu karya dengan tulus, maka sebuah penghargaan menjadi bonus bagi kita." - Cantika Abigail


    Saat ini saya sedang membaca buku ‘Think Like A Monk’ karya Jay Shetty. Buku ini menjadi ‘alat’ pengembangan diri di mana saya sadar bahwa suatu pikiran atau perasaan itu tidak ada yang permamen – instead of saying “I am sad” you can replace it with “I am feeling sad”, karena sejatinya perasaan itu akan datang dan pergi, it won’t lasts forever.

    Kapan atau bagaimana kamu akhirnya merasa fullfill dengan dirimu sendiri?

    I’m finally feeling myself again when I’m at the beach, khususnya di Bali! Saya sangat menikmati waktu di pantai sendirian, diiringi dengan suara ombak, mempermudah saya untuk berbincang secara ‘dalam’ dengan diri saya sendiri. I can be my own true self.

    True or false: menemukan titik confidence, menerima dan mencintai diri sendiri itu hanya kedok agar terlihat bahagia.

    It can do both. Orang-orang yang mencari pekerjaan di sosial media memang melakukan branding bagi dirinya sendiri untuk bisa terlihat bahagia. But it can be false, karena ketika seseorang sudah menemukan titik rasa percaya diri, mereka sudah tak perlu lagi berlindung di balik ‘kedok’, because again, self-love comes from ourselves. 





    (Nadhifa Arundati / KA / Image: Dok. Instagram @abigailcantika)