Celebrity

Cath Halim Bicara Soal Eating Disorder dan Body Acceptance

  by: Nadhifa Arundati       16/6/2022
  • Apa hal yang terlintas dalam pikiranmu jika membahas tentang eating disorder? Seseorang yang berusaha diet untuk menurunkan berat badan? Nope. Eating disorder adalah kondisi psikologis yang memengaruhi pola makan seseorang. Sayangnya, isu kesehatan mental ini masih belum dipahami oleh banyak orang, bahkan dianggap sebagai hal yang tabu—and yes, they often blame the victim.

    Kali ini Cosmo berbincang dengan Cath Halim, seorang body positivity influencer yang bercerita banyak soal eating disorder—kondisi yang sempat memengaruhi pandangan Cath bahwa body image yang dianggap cantik haruslah kurus. Cerita Cath mengenai pengalamannya ini pun membukakan pintu baru menuju pemahaman yang lebih dalam seputar eating disorder, body acceptance, and everything in between.





    Seperti apa pandangan kamu tentang body image?

    Let me tell you my story first. Beberapa tahun saya sembuh dari eating disorder, pandangan tentang ‘body image’ pun ikut terbawa arus perubahan. Dulu di saat saya masih muda saya merasa body image yang tepat ialah; badan harus berbentung langsing, tinggi—ibaratnya seperti anggota Blackpink. Setelah saya mengalami gangguan pola makan, saya baru belajar bahwa bentuk tubuh itu sangat beragam.


    Pandangan saya tentang body image pada akhirnya tidak seminim dulu, sekarang ini (thank God) saya bisa lebih berpikir secara inklusif dan diverse. Setelah cukup lama tinggal di Indonesia saya pun sadar bahwa bentuk tubuh perempuan Indonesia juga beragam kok—dan mereka dapat terlihat cantik in their own way.

    Sejak kecil saya didoktrin bahwa “cantik itu adalah kurus”—melihat representasi dari televisi, internet, pemahaman seperti; jika kita ingin dianggap cantik, maka kita harus memiliki titik standar, the so called beauty standart.

    Ini menjadi salah satu awal mula mengapa saya bisa mengalami gangguan makan atau eating disorder, ditambah dengan pengetahuan saya terhadap nutrisi dan sistem diet yang dulunya masih sangat limited. Saya masih belum tahu kalau saya ingin memiliki tubuh yang ideal dan kurus tak perlu melakukan diet ketat yang sampai mengancam risiko kesehatan. Well, kalau dijabarkan, terlalu banyak faktor yang membuat saya mengidap eating disorder, but one thing for sure, media social is the main problem of it.


    Menurutmu, apa yang memengaruhi body image di era ini?

    Representasi bentuk tubuh. Waktu saya kecil, referensi bentuk tubuh yang saya lihat itu sangat terbatas – yang saya lihat hanya tubuh ideal, model-worthy, so representation matters.


    Mengapa body image masih menjadi isu yang dikhawatirkan gen-Z?

    Balik lagi, media sosial adalah masalah utamanya. Dulu konsumsi internet belum begitu masif seperti sekarang—berbeda dengan para gen-Z yang saat ini sangat mudah untuk mengakses Instagram, TikTok, dan platform lainnya. Informasi yang mereka dapatkan juga semakin cepat, contohnya seperti informasi dari budaya barat yang pada akhirnya membentuk pola pikir generasi saat ini.

    Apalagi media sosial itu bebas aturan (you can do whatever you want) sehingga para pengguna bisa bebas mengakses apa saja. Berbeda dengan televisi yang masih ‘dipagarkan’ oleh beberapa aturan. Dengan begitu, cara pandang dan handling kita terhadap media sosial juga harus lebih diperhatikan. Apapun yang mereka lihat di media sosial, mereka anggap itu semua nyata. If I use expensive bags, so it means I’m rich, and so on. Padahal kita bisa dengan gampangnya memanipulasi itu semua.


    Apa pendapatmu mengenai kampanye body positivity yang sekarang ramai di media sosial?

    Ada pro’s and con’s-nya sih. Sekarang ini saya tinggal di Indonesia yang jujur saya, pehamanan tentang eating disorder itu masih cukup rendah. Bahkan beberapa dokter yang sempat menangani masalah eating disorder masih menganggap bahwa eating disorder itu hanya ada satu jenis, yakni anorexia. Semuanya masih dianggap tabu—padahal eating disorder itu bukan hanya perkara fisik, tetapi juga mental.

    But luckily, media sosial justru menjadi penyelamat saya di situasi seperti ini, saya bisa bertemu dengan komunitas baru yang tentunya membahas tentang permasalahan eating disorder, dengan berdiskusi dan berbagi ilmu, it was actually fun! Bagaimana kita akhirnya bisa recover dari eating disorder berkat bantuan dari teman-teman di luar sana. And I guess this is the positive side.

    Kita harus pintar memilah informasi. Itu-lah mengapa pentingnya fact check, karena semua orang di media sosial bisa menaruh informasinya di sana tanpa diketahui benar atau tidaknya. Penelitian atau pengetahuan kan selalu berkembang, sama saja seperti research journal yang selalu ada disclaimer bahwa penelitian ini akan terus improved. Jadi intinya, kita harus tetap berpikir kritis.


    Should we redifine body images or should we improve our body?

    It depends on you. Kalau berpatok dari pandangan orang itu tak bakal ada habisnya—coba kamu refleksikan dari diri sendiri, apa pandangan yang kamu inginkan terhadap tubuhmu? Kedua hal tersebut (redefining or improving) menurut saya tidak begitu penting, karena yang terpending adalah bagaimana kita bisa menerima bahwa body types itu beragam, that’s it.

    But for me personally, saya lebih memilih redefining, karena sejak kecil, pada umumnya orang tua kita memberikan pehamanan yang keliru terhadap body image. So we need to redefine our body better.

    Bagaimana pendapatmu tentang perawatan kecantikan, surgery, atau diet yang bertujuan untuk menciptakan body image sesuai keinginan. Is that toxic or part of self love?

    This is a very interesting question, karena saya pun berencana untuk melakukan operasi kecantikan, I want to get eyelids! Sebagai body positivity influencer, saya tetap ingin mengubah sesuatu yang berkaitan dengan bentuk tubuh saya. Karena ketika kita ingin melakukan sesuatu atas dorongan dari diri sendiri tanpa menyakiti orang lain, then why not? Saya selalu mengatakan hal ini kepada followers saya di Instagram, to be who you want to be. Mau kamu operasi hidung, botox, just do it. Selama hal itu untuk diri kamu sendiri, bukan orang lain.


    Have you feel pressured about your body?

    Tentu pernah, ketika saya berada di titik terendah; yakni saat mengalami eating disorder. Saya menangis setiap hari, but you know what? Life goes on, jadi jalani saja. Hal yang saat ini saya lakukan adalah shifting perspective, dengan mempelajari hal-hal baru dari therapist dan nutritionist, layaknya seperti menyerap ilmu baru yang pada akhirnya mengubah pandangan kita terhadap diri kita sendiri.


    You are your hardest critic.” Setuju ga dengan kalimat ini? Pernah ada pengalaman terkait ini?

    Yes, but I think the hardest critic is people around you. Saya merasa the hardest critic dalam hidup datang dari orang tua saya. Dari dulu orang tua saya menanami pikiran bahwa saya itu gendut, dan jika ingin menjadi perempuan yang cantik saya harus kurus. At the end, saya sadar bahwa diri saya sendiri yang bisa memberikan semangat So you are your best cheerleader.

    At the end, saya sadar bahwa diri saya sendiri yang bisa memberikan semangat So you are your best cheerleader. - Cath Halim

    Hal-hal apa saja yang kamu lakukan untuk membangun hubungan yang sehat dengan tubuhmu sendiri?

    Dengan terus belajar, do research. Saya sering baca jurnal-jurnal penelitian dengan body images dan body positivity ini yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Selain research, kita juga bisa mempelajari dan mencoba berbagai macam treatment, salah satunya treatment eating disorder dari para ahli. Terakhir, learn to listen to your body. Terkadang kita harus menjauhi social media untuk mencapai ini.


    Kapan atau bagaimana kamu akhirnya merasa fullfill dengan dirimu sendiri?

    I’m finally myself again when I’m out from my eating disorder. Eating disorder benar-benar menjadi lowest point saya, dan saat ini saya merasa sudah menjadi diri sendiri ketika saya sudah tidak melakukan diet yang berlebihan lagi, Saya bisa makan apapun yang saya mau and of course, loving myself more.

    I also feel like myself again when I understand and can speak up about the matters. Akhirnya! Saya senang sekali karena bisa menceritakan masalah ini. Ditambah lagi saya punya community yang juga menghadapi masalah yang sama. Hal ini pun akhirnya membuat mendorong mereka untuk ikut speak up di komunitas ini.


    Last. true or false: menemukan titik confidence, menerima, dan mencintai diri sendiri itu hanya kedok agar terlihat bahagia.

    False. Menurut saya, self-love adalah sebuah bentuk untuk spreading happiness. Tapi balik lagi, social media is a lie. We cannot define whether something was true or not just based on the social media.





    (Nadhifa Arundati / KA / Image: Dok Instagram @cathhalim)