Better You

5 Tips & Trick untuk Memaafkan Orang Lain

  by: Redaksi       23/6/2022
  • Memaafkan orang lain bukanlah suatu hal yang mudah, karena untuk benar-benar memaafkan seseorang, ada banyak emosi yang harus kita kesampingkan terlebih dahulu, seperti ego dan amarah. Oleh karena itu, banyak dari kita meninggalkan sebuah konflik tanpa sepenuhnya memaafkan pihak yang bersangkutan, dan hal ini dapat berujung ke penumpukan perasaan dan terbentuknya dendam, which is not good for you, dear!

    Dengan ini, alangkah baiknya apabila kita belajar tips and tricks bagaimana caranya kita bisa memaafkan orang lain dengan lebih baik. Kali ini, Cosmo akan membahas beberapa tips yang dilansir dari buku ‘Rewire Your Mind: Discover the Science + Practice of Mindfulness’ oleh Shauna Shapiro.

    1. Acceptance / Penerimaan

    Terkadang menerima sebuah kejadian dapat terasa seperti sebuah kekalahan atau kemunduran diri, apalagi jika kita telah tersakiti oleh keadaan tersebut. Tapi sebenarnya yang perlu kamu tahu, penerimaan merupakan kesempatan untuk kamu mengubah pandangan terhadap situasi tersebut. Dengan menerima keadaan, kamu dapat lebih terbuka terhadap perubahan yang pasti akan datang untuk mengangkat rasa sakit tersebut, karena sebenarnya rasa sakit itu datang dari resistensi kita terhadap perubahan. Dengan itu, untuk benar-benar memaafkan, kamu harus menerima masa lalu dan apa yang telah terjadi. Bukan berarti kamu harus menyukainya, tapi kamu bisa mencoba untuk mengerti bahwa hal itu sudah terjadi dan waktu tidak dapat diputar ulang. Pengertian ini akan membantu kamu agar dapat membuka hatimu untuk memaafkan orang lain. Seperti yang dinyatakan dari buku, “Learn to separate the pain that is inevitable from the suffering that is optional” (Shapiro, 2020).




    2. Emotional Regulation / Regulasi Emosi




    Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengatasi dan mengelola emosi diri sendiri agar tidak melampaui batas. Kemampuan kamu untuk meregulasi emosi dapat membantumu menghadapi ketegangan atau masalah yang cukup signifikan dalam hidup. Penelitian telah menunjukkan bahwa emosi negatif yang kamu rasakan tidak akan bisa dipendam untuk waktu yang lama tanpa merusak keseharian kamu. Justru, akan lebih baik jika kamu menyadari dan mengenali emosi kamu. Kemampuan meregulasi emosi dapat membantu kamu belajar dan mengidentifikasi pesan kamu. Hal ini sangat penting dalam proses memaafkan orang lain, karena dengan menyadari rasa sakit, marah dan kesedihan yang sedang kamu hadapi, akan memberikan validasi yang mungkin kamu cari seputar perasaanmu. Dengan mengizinkan dirimu untuk merasakan semua perasaan negatif yang terpendam, ini akan membantu kamu untuk membangun respons menenangkan diri yang lebih baik.


    3. Shifting Perspectives / Mengubah Perspektif


    Mengubah perspektif adalah upaya untuk melihat dan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dari biasanya. Cara ini dapat membantu kamu untuk berhenti sejenak dan mengobservasi perasaan, pemikiran, dan sensasi yang mungkin sedang kamu rasakan. Dengan menjadi seorang pengamat terhadap diri kita sendiri, dapat memberikan psychological distancing yang kita perlukan untuk terus bergerak ke depan. Tips yang dapat membantu kamu mengubah perspektif dengan lebih mudah adalah untuk melakukan beberapa Mindfulness Practices seperti latihan pernapasan atau meditasi.


    4. Empathy & Compassion / Empati & Kasih Sayang



    Rasa empati dan kasih sayang bisa menjadi teman baikmu dalam proses memaafkan seseorang, karena kedua perasaan ini membantu kamu untuk melihat situasi dari perspektif orang lain dan merasakan apa yang mungkin sedang mereka rasakan di situasi tersebut. Terkadang saat kita sedang terjerat sebuah konflik, dapat menjadi sangat sulit bagi kita untuk mengerti perasaan orang lain. Namun tanpa kita ketahui, sebenarnya perilaku seperti itu dapat mendorong kita untuk jatuh ke dalam pola pemikiran yang toxic untuk diri kita secara jangka panjang. Melatih rasa empati kamu dapat membantu kamu mengerti rasa sakit yang dilalui oleh orang lain, sedangkan kasih sayang mendorong kamu untuk mengambil aksi yang diperlukan untuk mengurangi rasa sakit tersebut, dan salah satunya adalah dengan memaafkan.


    5. Radical Responsibility / Tanggung Jawab Radikal



    Saat kita sedang melalui sebuah konflik, seringkali respons utama yang kita lakukan terhadap masalah tersebut adalah untuk lari dan menjauh dari masalah tersebut. Namun reaksi ini muncul karena ketakutan kita untuk menanggung tanggung jawab yang kita miliki, hingga hal ini dapat membebani mental kita ke depannya. Daripada bereaksi seperti ini, akan lebih baik apabila kita menggunakan metode Radical Responsibility yang dapat membantu kita untuk lebih bertanggung jawab atas perilaku, perasaan, tindakan, dan pikiran kita. Dengan mengenali perilaku diri kita yang mungkin toxic atau tidak sehat untuk lingkungan sekitar dan diri kita sendiri, kita dapat mulai memikirkan aksi selanjutnya yang harus diambil untuk menghindari perilaku ini terulang lagi.

    (Ameina Dewi/ Images by Freepik @garetsvisual, @freepik, @diana.grytsku, @rawpixel.com dan @benzoix// Layout: Rhani Shakurani)