Celebrity

Ian Hugen: Proses Self-Love Tersulit Adalah Mengaku ke Diri Sendiri

  by: Nadhifa Arundati       22/6/2022
  • Kalau mengikuti akun sosial media Ian Hugen, kamu pasti menemukan banyak inspirasi dari karya tulisannya yang berkaitan dengan ilmu kehidupan, especially self-love. Sebagai seorang transpuan, Ian melewati berbagai macam proses yang dapat dikatakan sulit, apalagi proses yang berhubungan dengan penerimaan sosial. Tapi pertanyaanya, mana yang lebih penting: social acceptance atau self acceptance?

    Bicara soal self-love dan proses penerimaan diri, Ian Hugen menganggap bahwa kedua hal ini dapat menjadi ‘pisau bermata dua’—jika kita menerapkannya dengan cara yang positif maka menjadi hal yang baik, namun ketika kita melakukannya dengan cara yang tak sehat, well.. you already know the answer.

    Ada banyak sekali—yang sampai-sampai tak bisa dijelaskan hanya dalam satu kalimat—tentang bagaimana Ian Hugen mampu menemukan cara untuk berdamai dengan dirinya sendiri, dan proses came out sebagai seorang transgender.






    1. Seperti apa pandangan kamu tentang body image?

    Menurut saya, body image itu adalah cerminan diri, it’s the way you see yourself, the way you setting your standards, goals, sesuatu yang kamu tetapkan untuk diri kamu sendiri.



    2. Menurutmu, apa yang memengaruhi body image di era ini?

    Sangat jelas bahwa body image saat ini sangat beragam. Kalau di zaman dulu kita hanya bisa melihat representasi body image hanya dari televisI saja, tetapi sekarang sudah ada media sosial di mana kita bisa mengenal sosok yang kita lihat secara nyata dan ‘dekat’—termasuk smallest detail, ya, seperti sehari-hari kita melihat Instastory saja.


    Namun kalau berbicara tentang publik figure yang kin dijadikan sebagai role model…bagi saya hal ini punya dampak baik dan buruknya, or well, it could be both. Ketika kita menjadikannya suatu motivasi untuk terus maju, then it’s good for you, tetapi akan menjadi toxic kalau kamu sudah mulai comparing ourselves. Padahal apa yang kita lihat di media sosial itu belum tentu sesuai dengan rahasia dapurnya, kita tak akan pernah tahu kenyataan yang sebenarnya.


    3. Mengapa body image masih menjadi isu yang dikhawatirkan gen-Z?

    Menurut saya ini bisa menjadi pisau bermata dua sih. Mungkin dulu, cantik itu ada standarnya; harus kurus, putih, tinggi, berambut panjang. Namun tampaknya sekarang kita patut berterima kasih pada generasi Z karena mereka sudah lebih aspiratif, menjunjung tinggi perbedaan dan juga self love. Apapun yang kita lakukan dan kita senangi, mereka kemas sebagai self love. Tetapi pemahaman self-love ini menjadi buruk ketika mereka menyalahartikannya. So, self-love is a good thing, for sure, tetapi kembali lagi bagaimana kita melihatnya.


    Body positivity bukan berarti kita bisa semena-mena pada diri kita, it is about the way we see it. Saya pernah kok berada di masa-masa You Only Lived Once atau ‘YOLO’ thing—saya mereasa bisa melakukan apapun yang penting have fun! Hingga akhirnya saya mencelikkan mata saya dan menyadari bahwa; apa yang saya konsumsi bukanlah wujud rasa cinta terhadap diri sendiri, tetapi justru aksi yang merusak diri. Dulu saya setiap malam minum alkohol secara berkala, berpikir kalau ini tuh self love (because I do what I love to do), tetapi kesehatan kita nyatanya terganggu. Lalu ketika saya mulai berolahraga, otomatis fisk lebih terasa bugar, kesehatan mental terjaga, and so, itu-lah yang dinamakan self-love.


    4. Should we redefine body images or should we improve the body?

    Mencintai diri sendiri itu punya definisinya masing-masing. Both are fine, whatever makes you happy. Kalau saya pribadi saat ini sedang berada di fase improving myself.


    5. Bagaimana pendapatmu tentang perawatan kecantikan, surgery, atau diet yang bertujuan untuk menciptakan body image sesuai keinginan. Is that toxic or part of self love?

    Everyone has their own definition, saya takut pertanyaan ini akan menjadi boomerang bagi diri saya sendiri, khususnya sebagai seorang transpuan. Ucapan seperti “katanya lo sayang sama diri lo tapi kenapa lo mengubah diri lo sendiri?” jadi bagi saya, sulit untuk membuat orang sepenuhnya paham atas apa yang kita inginkan. Well, self-love is kinda complicated dan definisinya memang berbeda-beda.


    6. Have you feel pressured about the body image?

    Perlu banget di-highlight kalau wawancara ini akhirnya rilis di artikel! Self-love is a life-time learning process. Bukan berarti kalau kita sudah mencapai di titik self-love, kita dilarang untuk menangis atau merasa tidak percaya diri, atau bahkan dituntut untuk terus terlihat bahagia. Mau seperti apapun wujud dan kondisi seseorang, mereka pasti selalu punya kok sisi insecure, because we are just a human after all. Tiap hari pasti punya perasaan yang berbeda—satu hari kita merasa kok kayaknya yang kurang dari diri kita but hey, it is totally just fine! yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melewati, menjalani dan merasakan prosesnya selama kita masih diberikan kesempatan untuk bernapas. That is the self-love that we were talking about.




    "Self-love is a life-time learning process. Bukan berarti kalau kita sudah mencapai di titik self-love, kita dilarang untuk menangis atau merasa tidak percaya diri, atau bahkan dituntut untuk terus terlihat bahagia." -Ian Hugen-


    7.  “You are your hardest critic.” Setuju kah dengan kalimat ini?

    Saya selalu membandingkan bentuk tubuh dengan diri saya sendiri. Contoh; I have body goal, dan saya merasa tubuh saya yang dulu itu lebih ideal dibanding bentuk tubuh saya saat ini, Menurut saya tak apa kalau kamu menjadikannya sebagai acuan asalkan hal itu membuatmu semangat. So I think it is fine if your hardest critic is yourself or not, selama kita melihatnya dari sudut pandang yang positif.


    8. Hal-hal apa saja yang kamu lakukan untuk membangun hubungan yang sehat dengan tubuhmu sendiri?

    Dengan menerima situasi, mengendalikan elemen, dan menggandeng semuanya layaknya kekuatan yang dimiliki oleh Avatar! Selain itu juga kamu juga harus memahami that you could be your best best friend or your worst enemy. Misalnya seperti saya yang memiliki certain body goals, tetapi jika kita menyikapi keinginan kita dengan cara berdamai dengan diri sendiri, maka perlahan hal tersebut dapat membangun hubungankan hubungan yang sehat terhadap tubuh dan pikiran kita, dan saya percaya kok kalau semesta pasti akan mendukung.


    9. Kapan atau bagaimana kamu akhirnya merasa fullfill dengan dirimu sendiri?

    I’m finally myself again when I came out to myself. Came out terberat adalah ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Ketika kita berbicara ke cermin “Ian lo itu gay!” proses di mana akhirnya saya bisa mengakuinya itu sangat rsulit. Selama ini saya berpikir kalau saya adalah sosok figur ‘tanda akhir zaman’—saya pasti masuk neraka kalau menentang keadaan, dan saat itu saya merasa hidup di dalam situasi denial.


    Ada satu kejadian yang sungguh memorable! Pertama kali saya menggunakan heels itu di tahun 2017. Mungkin sekarang laki-laki menggunakan heels sudah mulai terbiasa karena fashion yang semakin progresif, tetapi dulu di 2017 itu kan berbeda, masih tergolong tabu. Pada saat itu saya memantapkan diri untuk turun melalui lift dan masuk ke lobby apartment menggunakan heels perdana..,saat itu saya seperti ditatap sebagai seseorang yang menjijikan, tetapi di saat itu pula saya bangga, karena tandanya saya sudah mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Dan sekarang juga sudah mulai banyak, orang-orang di luar sana yang berani untuk came out, mengekspresikan diri mereka yang sebenarnya, which is totally great.


    10.  Last. true or false: menemukan titik confidence, menerima, dan mencintai diri sendiri itu hanya kedok agar terlihat bahagia.

    I guess it's part of the sugarcoating, dan menurut saya tak masalah selama “you do you”. Balik lagi, kita tak pernah tahu kebenaran yang ditampilkan di media sosial. Karena di saat kita sudah berada di titik confidence, pasti ada saja yang membenci, tetapi ada juga yang memberikan kita semangat atau kasih sayang.


    Saya ingin menyampaikan kepada mereka di luar sana; yang masih terkucilkan, merasa sendiri, saya ingin kalian sadar bahwa saya juga pernah berada di posisi itu—tetapi sekarang, saya, seorang Ian Hugen, yang dulunya bukan siapa-siapa namun kini bisa menjadi contoh bagi kalian, to turn on your lights!


    (Nadhifa Arundati / KA / Image: Dok. Instagram @ianhugen)