Celebrity

Omar Daniel: Passion dalam Film dan Pelajaran Menjadi Arjuna

  by: Givania Diwiya Citta       24/6/2022
  • Siapa yang sangka passion bisa muncul justru setelah ‘tercebur’ ke luar zona nyaman? Omar Daniel yang dulu tak pernah terlintas mimpi berprofesi menjadi aktor, kini tahu – bahkan punya visi panjang – untuk menjadi master dalam bidang yang ditekuninya. Get to know this young and agile ‘man on fire’, bb!


    Hai Omar! Apa kabar? Sedang sibuk apa akhir-akhir ini? 



    Baik dan sehat! Saya sedang shooting untuk web series, kurang lebih ada delapan episode. Nantikan, ya!



    Tentu! Anyway, Cosmo penasaran, apakah menjadi aktor adalah mimpi kamu sejak lama? 

    Sama sekali tidak. Saya bisa bilang bahwa saya ‘tercebur’ dan awalnya tak terlalu menikmatinya, karena saat itu saya ingin bekerja yang sesuai dengan jurusan kuliah, yaitu ilmu komunikasi dengan konsentrasi Public Relations. Bahkan saya sudah menggondrongkan rambut! Karena waktu itu saya merasa sedang dalam masa paling bebas untuk bereksplorasi gaya, karena punya ekspektasi akan potong rambut rapi ketika nantinya bekerja di perusahaan – yang harapannya – level internasional. 


    Lalu mengapa bisa tercebur? 

    Awalnya sederhana sekali, saya sedang mengantar keponakan untuk casting, kebetulan ia sudah sering tampil untuk iklan popok, susu, dan produk bayi lainnya. Casting director saat itu melihat saya, kemudian menawari untuk tampil dalam iklan. Akhirnya saya pun mencobanya, salah satunya adalah iklan provider. Mungkin dari situ, para produser melihat saya dan memberi beberapa penawaran. Padahal saya tidak punya dasar akting sama sekali, apalagi ketika SMA, saya pun tak punya pengalaman di teater, saya malah demam panggung, dan takut beraksi di depan kamera... Lalu ketika casting dan mendapat tawaran untuk bermain di film dan sinetron, saya masih belum nyaman menjalaninya. Bahkan saya yakin, pihak film pun belum nyaman terhadap saya karena saya tak punya pengalaman akting sama sekali, meski pihak sinetron mungkin masih bisa menerimanya karena dalam berakting di sinetron, saya bisa belajar sambil praktik.  



    Kemeja kuning, Room for Air.


    Ingatkah seperti apa rasanya pertama kali terjun ke industri kreatif ini?

    Kaget! Karena saat kuliah, saya adalah tipe mahasiswa yang sering pulang untuk hangout setelah kelas selesai. Namun tiba-tiba, saya harus bekerja tanpa hari libur. Waktu 24 jam rasanya sangat kurang, karena bangun pagi berangkat ke lokasi shooting, istirahat sebentar dan langsung lari ke kampus. Setelah selesai, kembali lagi ke lokasi shooting. Tak ada libur, dan saya stres. Sudah tak bisa lagi bikin janji untuk hangout bersama teman, orang-orang mulai mengenali media sosial saya, di jalanan mulai dikenali… saya merasa bahwa privacy mulai berkurang. Di semua awal itu, terasa berat untuk hidup di industri ini. 


    Apakah sekarang kamu bisa menikmatinya?

    Ya! Rasa berat itu hanya saya rasakan pada satu tahun pertama. Saya termasuk lamban beradaptasi. Masuk tahun kedua, saya sudah bisa lebih menerima keadaan. Saya mulai banyak belajar bahwa yang saya jalani sekarang adalah sebuah profesi, yang artinya saya tak bisa asal-asalan bekerja dengan kemampuan yang seadanya. Saya akhirnya mulai ikut banyak pelatihan, dan memutuskan untuk istirahat dulu dari sinetron. Saya sengaja mengambil waktu untuk belajar akting lebih dalam lagi, hingga kemudian pindah ke industri film. 


    Bagaimana cara kamu mengasah kemampuan dalam berakting?

    Saya mengikuti beberapa kelas para acting coach, juga saya belajar langsung dari para lawan main. Bahkan metode ini paling efektif, karena saya mempelajari akting dengan praktik sambil melihat dan mendengar langsung dari contoh, terutama dari para senior. Yang terpenting, tidak malu bertanya dan perbanyak latihan dari menonton beberapa referensi film.  


    Apa nasihat terbaik yang pernah kamu terima dalam mengarungi industri hiburan ini?

    Mereka selalu mengingatkan satu hal yang sama: Attitude. Apapun yang dijalani dan yang dikerjakan, attitude adalah nomor satu. Dan seberapa besar suatu proyek yang dilakukan, tetap utamakan diri sendiri terlebih dahulu. Karena kita tetap harus mengutamakan keamanan dan menyayangi diri saat bekerja, bukan totalitas dalam bekerja namun melakukannya semua seorang diri, padahal itu bisa menyebabkan risiko atau bahaya.  



    White sleveless top, Calvin Klein.


    Apa saja pertimbangan kamu ketika memutuskan untuk terlibat dalam suatu film? 

    Pertimbangan yang pertama bagi saya adalah karakternya, baru ceritanya, kemudian sutradara, lalu siapa lawan mainnya, dan tujuan filmnya. Bahkan saya pernah mengalami beberapa produksi di mana saya tak banyak berperan di dalamnya, namun saya merasa bahwa cerita ini punya pesan bagus, semisal tentang women empowerment, isu pelecehan seksual, ataupun mengangkat tema yang masih jarang dibicarakan. Meski hanya dapat peran untuk sekadar ‘lewat’ dalam satu atau dua adegan saja, tapi saya puas jika merasa bisa berkontribusi untuk menyebarkan pesan positif tersebut. 


    Bolehkah jelaskan lebih dalam tentang film Satria Dewa: Gatotkaca

    Film ini memang secara garis besar tidak menceritakan kisah Mahabarata, karena film ini dikemas semodern mungkin. Tujuannya adalah untuk menarik pasar generasi muda Indonesia agar mau belajar dengan cara yang sederhana. Dari segi nama, gaya bahasa, nama senjata, tidak dikemas secara perwayangan kolosal, melainkan disederhanakan agar mudah dicerna dan tidak membosankan bagi generasi muda. Ceritanya adalah tentang segerombolan anak muda dari garis keturunan Pandawa dan Kurawa yang melawan kejahatan. Bahkan, kejahatannya pun dibuat serealistis mungkin dengan zaman sekarang, lho, seperti korupsi.  


    Apakah kamu personal mempelajari kisah kuno tentang kesatria Pandawa?

    Ya! Saya adalah orang Solo, jadi sedari kecil, saya sering mendengar, melihat, dan tak terlalu asing dengan kisah Pandawa. Bahkan sampai sekarang, saya masih sering menonton wayang orang, seni tari, dan teater bertema perwayangan. Memang saya tak paham secara detail tentang silsilah ceritanya, saya hanya mengerti tokoh-tokohnya. Namun dengan adanya film ini, saya pun jadi belajar dari nol mengenai kisah Bhatarayuddha. 




    Lalu apa yang bisa kamu pelajari dari tokoh Arjuna yang kamu perankan?

    Arjuna adalah seorang pejuang tanpa pamrih. Entah ini positif atau negatif... namun kalau saya ditanya sebagai Omar, saya akan tetap menjawab untuk mencintai diri sendiri dulu, baru bisa mencintai orang lain. Tapi Arjuna, ia justru bisa mengorbankan dirinya demi orang lain. Itulah sisi positif Arjuna yang bisa saya pelajari.



    Sleveless top (black), celana, Jan Sober.


    Apa yang bisa kamu sampaikan mengenai film Satria Dewa: Arjuna mendatang?

    Saya cuma bisa bilang bahwa produksi akan dimulai pada akhir tahun ini… doakan lancar, ya!


    Karya layar lebar kamu kebanyakan dimulai kala pandemi, meski jauh sebelumnya kamu telah menggeluti dunia akting untuk layar kaca sebelum pandemi. Namun apa tantangan, keseruan, dan pembelajaran baru yang kamu dapatkan dari berkarya untuk film di tengah-tengah pandemi?

    Kendala utama shooting di tengah masa COVID-19 bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat shooting Satria Dewa: Gatot Kaca dimulai pada bulan Maret dan April, kami masih meraba virus apa yang sedang dihadapi, dan kami masih menyangka bahwa virus ini akan hilang dua atau tiga bulan saja (padahal kenyataannya…). Lalu di saat dunia sedang tegang dengan virus ini, justru saya harus berhadapan dengan banyak orang. Harus latihan workshop fighting, lepas masker, harus pergi ke gym namun banyak sasana yang tutup. Lalu yang tadinya berencana shooting di empat kota – mulai dari Bromo, Malang, Yogyakarta, Semarang – namun semuanya dibatalkan dan kami hanya shooting di Yogyakarta. Kami pun menerapkan sistem shooting dalam ‘bubble’, yaitu seluruh kru tinggal dalam karantina, dan kebanyakan hanya shooting di satu studio di Gamplong, Sleman. Jika harus shooting di suatu gang di Malioboro, wilayah tersebut akan disteril lengkap dengan izin pada warga, tes antigen, dan semua prosedur lainnya. Melelahkan, tak mudah, dan bikin was-was, namun ini adalah sejarah. Karena mungkin anak cucu saya kelak tak akan merasakan hal ini. Dan saya tetap bersyukur bisa survive hingga poin ini. Yang saya pelajari, pandemi tak menjadi halangan untuk berkarya.  


    Selama berkarier di industri film Indonesia, apa yang paling kamu syukuri dari berkarya beberapa tahun ini?

    Kebetulan saya masuk ke industri film saat pandemi. Jadi bisa dibilang, pandemic is a blessing in disguise, karena membuat saya bersyukur bahwa ketika ada banyak orang kesulitan bekerja saat pandemi, industri film ini justru tetap berjalan bahkan berkembang dengan adanya media serta platform baru. Dan saya juga bersyukur karena dengan berkontribusi dalam industri film, saya bisa ikut memberi pesan pada generasi muda Indonesia untuk lebih mengerti betapa banyaknya budaya yang kita punya dan yang belum kita ketahui – seperti dalam film Satria Dewa: Gatot Kaca, ternyata kita pun punya pahlawan super Indonesia yang bisa dibanggakan. Saya membayangkan anak-anak Indonesia tak lagi hanya punya mainan figur Superman atau Batman, namun punya figurine Gatot Kaca, Gundala, dan superhero Indonesia lainnya. Saya senang bisa jadi bagian dalam menyebarkan budaya ini, dan bahwa saya diberi kesempatan untuk memberi influence pada massa yang menonton film ini. Namun saya juga harus berhati-hati agar bisa memberi asupan yang positif, hingga contoh yang mereka serap pun adalah yang baik. 


    Apa yang biasanya kamu lakukan untuk relaksasi setelah seharian penuh bekerja?

    Saya selalu punya rutinitas untuk ‘off’ bekerja selama beberapa bulan. Semisal setelah melakukan beberapa proyek, saya akan ambil libur bekerja selama dua bulan penuh untuk traveling atau sekadar bersantai untuk relaksasi. Selama masa ‘off’, saya biasanya menghabiskan waktu untuk makan enak, menonton film, bertemu dengan teman-teman, karena bagi saya, hanya dari sekadar mengobrol saja sudah bisa menyalurkan emosi saya.  



    Kemeja (krem), celana, Jan Sober.


    Kini apakah kamu sedang dalam mode ‘off’ bekerja?

    Saya sedang berada di fase akhir dari mode ‘on’ bekerja! Jadi saya sudah punya rencana libur bekerja dari pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.


    Yay! Apa resolusi terdekat yang ingin kamu lakukan?

    Saya akan menemani keluarga untuk berlibur ke Turki, lalu saya juga punya rencana pergi ke Korea Selatan, dan ke Bali!


    PHOTOGRAPHER: Hadi Cahyono

    STYLIST/MANAGING EDITOR: Dheniel Algamar

    MAKEUP ARTIST: Chassey Julian

    HAIR STYLIST: Diva Rahmadhani

    DIGITAL IMAGING: Ragamanyu Herlambang 

    FASHION ASSISTANT: Ameina Dewi

    LOCATION: Mare Nostrum


    (Givania Diwiya / Layout: Severinus Dewantara)