Better You

Waktunya Berhati-hati dengan Topeng ‘Smiling Depression’

  by: Redaksi       23/6/2022
  • Cosmo babes, pernahkah kamu mendengar istilah ‘smiling depression’? Tentunya, kamu tahu apa yang dimaksud dengan depresi, sebagai salah satu gejala dari smiling depression ini.

    Depresi berhubungan dengan kesehatan mental seseorang, yang mengacu pada suasana hati atau keadaan emosional yang menekan seseorang sehingga mengakibatkan penurunan suasana hati atau semangat.

    Lantas, apa bedanya smiling depression dengan depresi biasa? Simak fakta-faktanya di bawah ini!





    1. Gejala lebih lanjut setelah depresi




    Seseorang yang mengalami depresi dapat ditunjukkan dari bagaimana mereka bertingkah laku. Dikutip dari jurnal The Behavior Analyst (2008), tingkah laku yang diketahui sebagai gejala dari depresi meliputi hilangnya minat dalam beraktivitas, perubahan pola tidur dan makan, meningkatnya intensitas perasaan bersalah dan putus asa, kelelahan, gelisah, sampai sulit berkonsentrasi.

    Meskipun depresi dijelaskan sebagai suatu kesedihan yang dialami oleh seseorang, gejala depresi yang dialami setiap orang pastilah berbeda-beda. Ada yang mengidap gejala yang ringan, ada juga pengidap gejala yang berat. Gejala-gejala tersebut harus tetap diperhatikan dan segera berkonsultasi dengan psikolog apabila terasa semakin parah.

    Jangan sampai gejala-gejala tersebut kamu tutupi dengan bersikap baik-baik saja. Nyatanya, manusia yang sehari-harinya tersenyum dan dapat melakukan pekerjaannya secara normal juga bisa saja mengidap depresi yang kerap disebut smiling depression.


    2. Depresi yang terlihat bahagia




    Smiling depression atau “masked depression” adalah keadaan di mana seseorang mungkin hidup dengan depresi yang tidak diketahui karena orang tersebut terlihat bahagia, bahkan sebagian dari mereka kehidupannya terlihat sempurna.

    Oleh karena itu, smiling depression adalah hal yang sulit diketahui lho, babes. Mengapa demikian? Pengidapnya menunjukkan perilakunya yang sangat biasa, dengan menjadi seseorang yang aktif, memiliki keluarga dan pergaulan sosial yang sehat dan seimbang, cenderung ceria, optimis, dan yang terpenting adalah mereka terlihat bahagia.


    3. Penyebab yang tidak jauh berbeda dengan depresi




    Dikutip dari Indian Journal of Community Health (2019), penyebab seseorang mengalami smiling depression ini memang tidak jauh berbeda dengan penyebab depresi itu sendiri. Smiling depression dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti perubahan yang besar pada hidup, seperti putusnya sebuah hubungan ataupun kegagalan dalam pekerjaan. Ekspektasi kita yang melampaui kenyataan juga dapat menjadi faktor pemicu depresi.


    4. Tingginya tekanan dari media sosial dapat menjadi penyebab utama




    Tekanan sosial juga dapat memengaruhi, dengan bagaimana kita hidup di antara stigma dan stereotip yang ada di tengah-tengah masyarakat, menjadikan kita “dibentuk” sesuai dengan stigma atau stereotip tersebut.

    Selain itu, adanya media sosial di masa sekarang ini turut menjadi faktor awal mulanya depresi dalam diri seseorang. Dengan adanya normalisasi dari tindakan-tindakan tersebut, seseorang menjadi lebih terbiasa untuk bersembunyi di balik topeng smiling depression.


    5. Smiling depression bukan penanda seseorang ahli memanajemen emosi di depan orang lain




    Smiling depression adalah salah satu bentuk perilaku manusia yang membuat kita sebagai insan manusia lainnya tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Di tengah situasi dunia yang berantakan dan kacau, kita banyak berhadapan dengan situasi di mana kita merasa sendiri, tanpa adanya dukungan keluarga, teman, atau hal-hal lainnya yang membuat kita bisa diserang oleh depresi.



    Menunjukkan gejala-gejala depresi dan tidak selalu berkata “aku baik-baik saja” bukan suatu pertanda bahwa seseorang itu lemah.


    6. Ingat, semua yang kamu rasakan itu valid




    Berpikir bahwa dunia ini lebih baik tanpa diri kita atau berpikir masih ada orang yang kondisinya lebih buruk dari kita juga adalah pemikiran yang seharusnya dihindari. Semua perasaan yang kamu rasakan itu valid, girls. Pada dasarnya, semua orang memang tengah menghadapi perangnya masing-masing, sehingga kita tidak bisa menilai orang dilihat dari luarnya saja.

    Dikutip Indian Journal of Psychiatry (2019), dalam smiling depression, kasus bunuh diri lebih tinggi dan lebih sulit untuk dicegah dikarenakan mereka memiliki energi dan motivasi yang cukup untuk melakukannya. Inilah yang membuat depresi jenis ini lebih berbahaya ketimbang depresi yang biasanya.

    Banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka tengah mengalami smiling depression, sehingga mereka tidak meminta pertolongan. Self-diagnose memang tidak baik untuk dilakukan, tetapi apabila kamu sudah mulai merasakan gejala-gejala yang berhubungan, maka tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri kepada ahli kesehatan mental.


    (Fishya Elvin/Images: Photo by Engin Akyurt on Pexels, Photo by Liza Summer on Pexels, Photo by Andrea Piacquadio on Pexels, Photo by RODNAE Productions on Pexels, Photo by Gerardo Cejas on Pexels, Photo by Ketut Subiyanto on Pexels, Photo by Matilda Wormwood on Pexels/Layout: Severinus Dewantara)