Better You

Jadi “Storyteller” Supaya Presentasi Berjalan Mulus

  by: Adya Azka       5/7/2015
  • Menurut buku Never Be Boring Again oleh Doug Stevenson, cara efektif untuk mencuri perhatian audiens Anda (baik saat presentasi atau memimpin meeting) adalah dengan menjadi seorang “storyteller” yang sumbernya dari pengalaman pribadi.  Find out why.

    Think like a screenwriter
    Tiap cerita secara umum dibagi jadi tiga tahap: the introduction, the journey, and the ending. Yang pasti tiap penulis naskah di manapun akan mengikuti progresi tersebut—dan Anda pun bisa menerapkannya sebelum melakukan presentasi! Berikut uraian lebih detail untuk Anda ikuti sebelum mempersiapkan materi: tentukan situasinya (atau konteks), perkenalkan “karakter”, mulai perjalanannya, berikan kendala, temukan solusi (atau ketiadaannnya), tuntaskan cerita, dan, terakhir, cuatkan poin dari perjalanan. Ready to start the journey?

    Act like a short filmmaker
    Yang berarti, well, pembukaan cerita Anda janganlah terlalu panjang. Ingat: Anda juga mesti punya disiplin waktu dan get to the point supaya presentasi atau meeting tidak bertele-tele. Anda tak mau kan sebelum bercerita mendengar seseorang menyeletuk, “Ugh, here we go again....” Anyway, menurut studi, orang akan cenderung mengingat sebuah cerita pendek (kurang lebih dua menit) yang disampaikan dengan baik daripada rangkaian slide sarat teks dan visual.



    Imagine You’re a Movie Star
    Yup, and your fans just can’t wait to hear you talk! Tapi...kalau Anda menyampaikan cerita secara verbatim, kaku, dan dengan suara yang monoton, males juga ya mendengarkan Anda—no matter how gorgeous you are! Para peneliti dari Inggris mengungkap fakta kalau suatu cerita personal akan 30% lebih memorable bila disampaikan lengkap dengan gaya tubuh dan gestur.



    Be a Mystery
    Atau lebih tepatnya...ikutilah struktur genre misteri. Ajaklah audiens untuk ikut berpikir dan untuk membantu mencari solusi. Berikanlah ruang dalam materi presentasi Anda supaya partisipan presentasi atau meeting bisa mengisinya dengan pemikiran mereka sendiri. Get them involve with the big picture! (Sahiri Loing / SW / Image: outnow.ch)