Career

Belajar Fearless dari CEO Zeno, Barby Siegel (part 1)

  by: Redaksi       31/7/2016
  • It was a bright day that day, dan Assistant Managing Editor Cosmo, Vidi Prima mendapat kesempatan istimewa untuk bertemu fearless woman di dunia public relations, Barby Siegel. Kepribadiannya yang ramah dan hangat membuat Editor Cosmo merasakan semangat dari CEO Zeno Global tersebut dalam mengejar kariernya. Berbincang di kantor Zeno Indonesia tanggal 21 Juli lalu, Barby berbagi banyak hal tentang wanita dalam berkarier, hingga apa arti “fearless” bagi dirinya dan Zeno.

    Cosmo (C): Fearless sepertinya jadi core yang sama bagi Zeno dan juga Cosmo. Tapi sebenarnya apa arti kata itu bagi Anda dan Zeno?

    Barby Siegel (BS):  Untuk kami di Zeno, fearless itu tentang menjadi seseorang yang tidak takut, yang berani mengungkapkan apa yang ada di pikirannya sehingga kami dapat membantu klien untuk melihat dengan cara berbeda dan keluar dari zona nyaman. Dengan begitu, ketika klien datang kepada kita, mereka tahu jika mereka akan mendapakan point of view yang berbeda.



    Fearless” sendiri seakan jadi lem yang merekatkan kami. Tapi Anda juga pasti selalu mendengar jika keberanian memberi orang kekuatan untuk bicara, tak peduli seberapa tinggi jabatannya. Dalam karier, mengejar apa yang Anda mau dan tidak takut mengungkapkan ketertarikan akan suatu hal, atau Anda ingin melakukan hal ini, atau "ini ide saya" adalah hal penting. Anda harus bisa menjadi  “pengacara” untuk karier sendiri.

    Kampanye "Fearless" Zeno di Chicago.

     

    C: Apa hal paling fearless yang pernah Anda lakukan?

    BS: Saya pikir hal paling berani yang pernah dilakukan dalam karier profesional adalah saat saya menjadi CEO untuk Zeno tujuh tahun lalu. Ketika Richard Edelman meminta untuk menjadi CEO, saya tak tahu sama sekali bagaimana cara menjadi sosok tersebut. Saat itu saya sedang bekerja di agensi lain dan memegang jabatan global, dan saya pikir itu cukup fearless untuk masuk ke dunia yang belum saya tahu, and figuring it out as I went along.

    C: Apa yang Anda lakukan untuk menghadapi hal yang sama sekali baru itu?

    BS: Saat mempersiapkan diri, saya berkata dalam hati, “Well maybe I’ll read some books.” Pastinya banyak buku yang bicara tentang kepemimpinan dan bagaimana cara memimpin sebuah organisasi, kan? Lalu saya pikir, “Tidak!” karena itu malah bisa membuat saya makin bingung. I need to be who I am, dan saya akan memiliki lembaran baru dengan menjadi bagian dari Zeno dengan mendengarkan, belajar, dan menjadi diri sendiri. Dan pada akhirnya, saya pun menciptakan gaya memimpin sendiri daripada mencoba menerapkan saran dari banyak orang

    C: Pengalaman pitching yang paling memorable

    BS: Di awal karier bergabung bersama Zeno, kami diundang pitching untuk proyek yang cukup besar dari Starbucks. Saya tahu saat itu jika kami memenangkannya, itu akan jadi moment yang penting. A big step. Dan saat itu kami juga berkompetisi melawan beberapa agensi besar yang sudah lebih dikenal saat itu. Tapi tim kecil kami tetap maju. Kami bekerja sangat keras dan menggunakan semua kecerdasan dan pengalaman yang kami miliki. Walaupun sebelum saya bergabung Zeno belum pernah diundang dalam pitching seperti itu, tapi kami akhirnya menang!

    C: Pernah berpikir untuk mundur ketika menghadapi lawan yang besar?

    BS: Saya pikir kasus Starbucks tadi bisa jadi contoh yang bagus. Kami bisa saja menghadapinya dengan dua cara: cara yang telah kami lakukan - dengan berbagai usaha keras dan berpikir jika kami bisa jadi lebih besar dan berpengalaman dari saat itu, atau kami bisa memilih untuk menjadi pecundang dan mengatakan jika kami tidak cukup baik. But instead we were just went for it.



    C: Masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki sebagai CEO?

    BS: Saya ingat hari itu tiba di sebuah kantor kecil di New York dan hanya ada 10 orang di sana. Sekarang, ada lebih dari 50 orang di kantor Zeno di New York. Tak ingat persisnya, tapi saya ingat ketika berjalan dan berusaha untuk mengenal orang-orang. Anda tak bisa kan datang di hari pertama dan mengatakan jika ingin langsung melakukan A, B, C. Dan setelah tujuh tahun berjalan pun, ketika saya masuk kantor, saya selalu berpikir untuk mendengarkan dan peka terhadap lingkungan sekitar.

    Saya sendiri tidak pernah memiliki rencana. Saya ingat pernah menemukan catatan lama beberapa waktu lalu dan ada beberapa catatan yang dulu ingin dilakukan. Tapi pada akhirnya yang saya lakukan adalah mendengar, belajar, dan mulai memasukkan pengalaman pada pekerjaan.

    Dan hal penting lain yang ingin saya katakan adalah tidak semua orang memiliki jawaban atas semua pertanyaan, termasuk saya. Sangat penting juga untuk tidak berpura-pura jika Anda memiliki semua jawaban. Tapi apa yang penting adalah jika Anda memiliki keinginan dan imajinasi untuk menyelesaikan masalah.

    C: Apakah Anda memang sudah melihat jika akan menjadi sesukses sekarang?

    BS: No, honestly no. Ketika kuliah, saya tahu jika ingin memiliki karier. Tapi ketika melihatke belakang, saya tidak pernah berangan-angan jika dalam 25 tahun ke depan akan memimpin sebuah agensi. Saya mulai dari biro iklan kecil, tapi selalu tahu jika ingin melakukan sesuatu yang besar. Lalu saya bekerja selama 11 tahun di Edelman, 8 tahun di Ogilvy dalam peran global. Hingga Richard Edelman meminta saya jadi CEO, pikiran itu pun baru terlintas. Orang-orang di sekitar justru sudah menduga jika saya akan menempati posisi itu, mengingat saya adalah tipe pekerja yang ambisius. But I think I just let my career take me dan melihat apa yang masa depan berikan pada saya. (Vidi Prima / VP / Image: doc. Cosmo, Zeno Global)

     

    Baca juga:

    5 Pelajaran Penting Bagi Businesswoman

    Film-Film yang Wajib Ditonton Wanita Karier

    Pelajaran Karier dari Layar Lebar

    7 Hal yang Dilakukan Para Wanita Sukses dalam Karier