Lifestyle

Viva La Donna: Perayaan Dari dan Untuk Para Wanita

  by: Alexander Kusumapradja       8/7/2018
  • Ladies, terutama kamu yang sudah berkecimpung di dunia karier, we’re all know that networking event adalah salah satu acara yang sayang untuk dilewatkan karena kamu bisa mendapat banyak kenalan dan relasi baru atau menemukan inspirasi sembari bersenang-senang bersama the girls. Sejauh ini, rata-rata networking event yang ada lebih didominasi oleh kaum pria, namun bagaimana bila ada networking event yang ditujukan dari dan bagi untuk wanita? Viva La Donna adalah jawabannya!


    Diadakan di The Pallas, SCBD, Jakarta pada hari Jumat (29/6) lalu, event yang diadakan oleh Mestizo ini adalah networking party dengan mengusung tagline “From and For The Ladies”. Saat Cosmo tiba di The Pallas pada pukul 6 petang sudah terlihat antrean yang cukup panjang untuk masuk ke dalam. And yes, 90% of them are ladies! Sembari menunggu sesi talk show dimulai, para hadirin pun menikmati sajian prasmanan yang telah disediakan di dalam Pallas. 




    Zivanna Letisha Siregar, Putri Indonesia 2008 yang kini berkarier sebagai TV anchor dan penulis, bertindak sebagai moderator malam itu. Dengan penuh semangat, ia mengundang tiga pembicara pertama untuk naik dan berbincang ke atas stage. Mereka adalah Maudy Ayunda, Nadia Saphira, dan Shinta Nurfauzia. Ketiganya menjadi perwakilan generasi milenial dengan pencapaian karier di usia mereka yang masih terbilang muda. Kita mengenal Maudy sebagai entertainer serba bisa yang tak hanya piawai dalam hal akting dan tarik suara tapi juga berkat komitmennya dalam dunia akademis. Begitupun dengan Nadia yang meninggalkan dunia entertainment demi fokus di bidang yang menjadi passion-nya, yaitu hukum, dengan berkarier sebagai pengacara. Sementara Shinta adalah co-founder dari Lemonilo, sebuah healthy lifestyle marketplace yang bermitra dengan UKM dari seluruh Indonesia. Secara kasual, mereka menceritakan kiprah mereka sebagai wanita generasi milenial yang berani mengejar impian dalam hal karier dan membawa perubahan bagi orang di sekitar mereka. 


    Di sesi selanjutnya, Zivanna mengundang tiga nama wanita inspiratif yang lebih senior untuk ikut bergabung ke panggung. Berturut-turut, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani, jurnalis kawakan Najwa Shihab, dan sutradara andal Nia Dinata muncul dan mendapat sambutan riuh dari semua yang datang. Ketiga wanita hebat ini adalah figur inspiratif bagi para wanita Indonesia masa kini, dan di hadapan penonton yang didominasi oleh wanita milenial, mereka pun membagikan pengalaman hidup, tip sukses, serta pesan inspiratif tentang kesetaraan gender, women empowerment, dan bagaimana cara mereka menyeimbangkan antara karier dan kehidupan personal. 


    Menjadi menteri, jurnalis, dan sutradara film adalah bidang yang sebelumnya dimonopoli kaum pria, namun ketiganya berhasil menjadi nama besar di bidang masing-masing. Ketiganya sepakat bahwa kesuksesan mereka berawal dari passion dan hobi yang mereka punya. Bu Sri misalnya, mengaku dari kecil suka membaca. Di masa kuliah, beliau hobi baca textbook terutama yang berbahasa Inggris karena di zaman itu akses informasi tak semudah sekarang yang bisa didapatkan di internet dengan cepat. Sementara Najwa, yang waktu SMA sempat mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat menyebut kebiasaan membaca sebagai bentuk investasi untuk diri sendiri. Begitupun dengan Teh Nia yang waktu kecil sempat tinggal di Arab di mana ia mengalami gegar budaya karena pola hidup yang tidak sebebas di Indonesia. Menonton film sebagai pelampiasan rasa bosannya lah yang kemudian memicu ketertarikannya pada dunia film dan menjadi sutradara. 


    Menyoal generasi wanita saat ini, Najwa merasa wanita harus saling mendukung dan bukannya saling menjatuhkan alias Queen Bee Syndrome di mana seorang wanita menganggap wanita lain sebagai saingan dan ingin menjadi yang paling dominan, in a wrong way. Selaras dengan hal tersebut, Bu Sri pun berpesan bagi anak muda untuk tidak terlalu terobsesi dengan diri sendiri karena akan membuat diri tidak berkembang. “It’s not about me, me, me! Do something beyond yourself!” cetus Bu Sri sambil menambahkan bahwa bila masalah generasi sebelumnya adalah pilihan yang sedikit, generasi sekarang justru dihadapkan dengan pilihan yang terlalu banyak sehingga kita harus lebih pintar memilih. Menurutnya, latihan untuk bisa menentukan pilihan dapat dimulai dengan cara yang sederhana. Beliau mengibaratkan bahwa kita semua punya waktu 24 jam sehari, namun akan dipakai untuk apa saja 24 jam tersebut? Untuk have fun saja kah? Atau untuk membangun diri?




    Najwa lantas menekankan pentingnya memiliki passion sejak dini. “Passion itu harus diusahakan, bukan yang tiba-tiba didapatkan. Passion bermula dari merawat ketertarikan pada hal-hal kecil yang kita suka. Dikelola hingga akhirnya menjadi sesuatu yang kita cintai,” ujarnya. Sepakat dengan Bu Sri, Najwa juga merasa anak muda harus pintar memilih, termasuk dalam hal politik. “Politik bukan Tinder yang tinggal di-swipe, kita harus kenal banyak orang yang enggak cuma dari ekosistem kita. Jangan dengarkan opini dari lingkungan kita saja, tapi coba ngobrol dengan yang lain. Jangan fanatisme buta dengan tokoh siapapun karena percuma, mereka juga nggak segitunya sama kita,” ungkap Najwa dengan agak berapi yang disambut tepukan riuh hadirin. 


    Teh Nia pun menambahkan, selain mengenali passion, anak muda juga harus mengenali Indonesia. “Yang penting bagi saya adalah kenali Indonesiamu. Caranya ya mungkin dengan voluntir, jangan terkungkung dengan bubble kalian di Jakarta. Coba ngobrol sama nelayan, real people of Indonesia biar tidak mudah dipolitisir. Saya sering bikin film dokumenter dan jadi bisa kenal Indonesia dengan lebih baik, dan saya menyesal ketika di usia kalian saya justru lagi ada di Amerika atau tempat lain,” ujarnya. 


    Melihat antusiasme penonton yang kadang terdengar pekikan “Yasss girl!” dan seruan-seruan suportif lainnya, atmosfer sisterhood memang terasa kental malam itu dan masih berlanjut walau para pembicara telah menyelesaikan sesi talkshow, which means party time! Band pop yang populer sejak tahun 90-an, The Groove tampil di atas panggung membawakan lagu-lagu andalan mereka yang disambut koor massal dari penonton. Setelah The Groove, giliran kolektif Diskoria untuk meneruskan suasana nostalgik tersebut dan membuat siapapun tidak bisa menahan diri untuk bergoyang dalam rentetan lagu-lagu dance dan guilty pleasures. Sebagai penutup, Dipha Barus pun tampil and its officially boogie time! Inspiratif sekaligus super fun, Cosmo berharap acara ini akan diadakan kembali, and next time, don’t even miss it, ladies!


    (Image: Dok. Mestizo)