Lifestyle

7 Aliran Seni Lukis Yang Wajib Kamu Tahu

  by: Alexander Kusumapradja       26/7/2018
  • A painting in a museum hears more ridiculous opinions than anything else in the world.” - Edmond de Goncourt. 


    Jika sebuah lukisan bisa bicara, mungkin kita akan terhibur mendengar ceritanya tentang kelakuan orang-orang yang berdiri memandangnya dengan sejuta opini atau berpose di depannya demi menambah estetika Instagram feeds mereka. Lukisan, seperti halnya karya seni lainnya, berasal dari bagian paling personal si pembuat karya yang begitu dilempar ke publik harus merelakan diri untuk “ditelanjangi” oleh opini dan persepsi mereka yang melihatnya. Semua orang merasa berhak untuk beropini terhadap suatu karya lukis. Ada yang mengapresiasinya berlatar pengetahuan, tapi tak jarang pula terdengar celetukan “Ini maksudnya apa sih?”, “Seperti lukisan anak kecil”, “Aah, kalau cuma begini saya juga bisa bikin”, dan celetukan bernada merendahkan lainnya. 




    Bukan bermaksud untuk nyinyir, Cosmo tentu senang melihat akses pameran seni sudah semakin terbuka dan tak terbatas di kalangan tertentu saja. Pameran seni sudah menjadi bagian gaya hidup saat ini, khususnya di kota-kota besar. Indikatornya adalah pameran seni yang semakin jamak dan jumlah pengunjung yang ramai mendatanginya. Ada yang memang ingin menikmati seni, ada pula yang mungkin baru sebatas mengapresiasinya dengan berfoto di depan karya. Apapun alasannya, seni seharusnya memang layak dinikmati siapa saja tanpa peduli latar belakangnya. Namun, hal itu tentu akan terasa lebih menyenangkan bila kamu setidaknya mengetahui basic knowledge tentang aliran seni lukis yang kamu lihat. Karena itu, dalam rangka menyambut digelarnya Art Jakarta 2018, Cosmo ingin memberikan semacam crash course tentang aliran seni lukis yang paling umum. Hitung-hitung bisa menjadi bekal pengetahuan baru bagi kamu sebelum datang ke pameran seni berikutnya, enjoy!



    Realisme

    Seni lukis pada awalnya adalah usaha manusia untuk mendokumentasikan apa yang ia lihat ke medium lain, jauh sebelum seni fotografi dikenal. Realisme atau sering disebut juga sebagai naturalisme adalah aliran seni lukis yang fokus utamanya adalah menggambarkan sebuah objek dengan apa adanya, sesuai kenyataan, tanpa tambahan elemen buatan atau eksplorasi artistik. Kecenderungan aliran ini adalah meniru bentuk objek semirip mungkin dengan aslinya. Dari luar negeri kita mengenal nama-nama seperti Gustave Courbet, Edouard Manet, dan Isaac Levitan, sedangkan dalam negeri pelukis realis yang terkenal adalah Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Pada perkembangannya, muncul aliran fotorealisme yaitu aliran lukisan yang berusaha terlihat serealistis mungkin seperti sebuah foto yang kemudian berkembang menjadi pop art, serta hyperrealism.



    Impresionisme

    Seperti musik punk, aliran impresionisme lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap pakem, khususnya pada aturan-aturan akademis dalam melukis yang terobsesi pada detail dan mementingkan kontur, volume, dan garis. Alih-alih melukis di dalam studio, para seniman impresionis akan membawa kanvas mereka ke luar ruangan dan melukis di alam terbuka (en plein air). Bagi mereka yang terpenting adalah impresi akan satu momen dan cahaya yang dipantulkan oleh objek dengan penekanan pada warna, bukan bentuk. Hasilnya adalah lukisan yang terlihat lebih dinamis, jujur, apa adanya, dan terasa lebih personal. Ciri khas karya impresionisme pada awalnya adalah lukisan yang menggambarkan pemandangan indah dan kehidupan sehari-hari dalam warna-warna yang cerah. Seperti hal apapun yang melawan pakem, aliran ini sempat dihujat dan bahkan ditolak mengikuti pameran lukis bergengsi di masa itu, Salon de Paris, yang masih kaku pada pakem melukis yang harus semirip mungkin dengan objeknya. Sebagai bentuk perlawanan, para pelukis impresionis menggelar pameran sendiri dengan nama Salon des Refuses yang direstui oleh Kaisar Napoleon III agar publik bisa menilai sendiri karya-karya tersebut. Dengan semangat perlawanan tersebut, impresionisme menjadi cikal bakal aliran lukis modern lainnya seperti Post-Impresionisme, Fauvisme, dan Kubisme. Beberapa pelukis impresionisme yang paling terkenal meliputi Monet, Auguste Rodin, Renoir, dan Zaini.



    Surealisme

    Mendengar kata “surreal” yang terlintas adalah hal-hal yang dianggap aneh, tidak biasa, unik, dan seperti mimpi. Begitu pun dengan lukisan bergaya surealisme. Contohnya adalah “The Persistence of Memory”, lukisan cat minyak karya Salvador Dali yang menampilkan gambar beberapa jam yang terlihat meleleh di sebuah gurun. Banyak pelukis surrealist yang berpendapat karya mereka adalah perwujudan materi dari pemikiran filosofis yang muncul di benak mereka. Jam yang meleleh di lukisan Dali dikaitkan dengan teori waktu dan ruang yang “cair”. Aliran surealisme sendiri bermula dari sebuah gerakan budaya di awal 1920-an dengan ciri khas visual yang aneh, mengejutkan, dan cenderung melawan realita atau memadukannya dengan unsur fantasi. Bagi beberapa seniman, surealisme yang berkembang di era Perang Dunia I juga merupakan bentuk perlawanan yang terpengaruh pada politik, teori sosial, dan filosofi. Selain Dali, seniman surealisme terkenal lainnya adalah Rene Magritte, Joan Miro, dan dari dalam negeri kita mengenal nama Roby Dwi Antono yang karyanya lekat dengan citra surealisme. 





    Ekspresionisme

    Menjadi bagian dari aliran lukis modern, ekspresionisme yang muncul di Jerman awal abad 20 adalah aliran lukis yang menitikberatkan efek emosional dari mata sang pelukis. Hal yang ingin diangkat dari aliran ini adalah ide, mood, dan pengalaman emosional yang tak jarang mengabaikan realita. Kata kuncinya adalah emosi, jadi kebanyakan karyanya memang cenderung angsty. Contoh yang paling terkenal adalah “The Scream” karya Edvard Munch, “Large Blue Horses” karya Franz Marc, dan karya-karya Affandi.



    Abstraksionisme 

    Mungkin ini adalah aliran lukis yang paling mudah dikenali namun paling sulit dimengerti. Dalam KBBI, abstrak didefinisikan sebagai adjektiva untuk hal yang tidak berwujud atau berbentuk. Aliran abstrak adalah bahasa visual dari bentuk, warna, dan garis yang tidak dibatasi oleh aturan apapun. Hasilnya sangat personal dan sebebas imajinasi sang pembuatnya. Bentuk objek sama sekali bukan menjadi perhatian dalam aliran ini, apalagi berusaha meniru objek secara mentah. Kekuatan aliran abstrak adalah spontanitas, improvisasi, dan metode-metode non-konvensional yang terbuka pada interpretasi siapa yang melihatnya. Seniman abstrak yang terkenal meliputi Mark Rothko, Jackson Pollock, dan Willem de Kooning. 


    Pointilisme 

    Dikembangkan oleh Georges Seurat dan Paul Signac di tahun 1886, pointilisme yang merupakan turunan dari impresionisme merupakan teknik melukis sebuah objek dengan menggunakan titik. Menggunakan variasi titik dengan berbagai skala dan warna, pelukis bermain dengan perspektif di mana objek lukisan akan terlihat jelas bila dilihat dari jauh dan semakin baur bila dilihat dari jarak dekat. Selain Seurat dan Signac, pelukis pointilisme terkenal lainnya adalah Georges Lemmen, Henri-Edmond Cross, serta Camille Pissarro. 



    Kubisme

    Aliran kubisme mudah dikenali karena ciri khasnya menampilkan bentuk-bentuk geometris seperti kubus, segitiga, lingkaran, dll dengan permainan warna yang sangat perspektif. Aliran ini dikembangkan oleh Pablo Picasso dan Georges Braque dan sering dianggap sebagai perpaduan impresionisme dan abstraksionisme. Selain seniman-seniman luar seperti Juan Gris, Gino Severini, dan Albert Gleizes, kita juga mengenal seniman aliran kubisme lokal seperti Mochtar Apin dan Fajar Sidik.


    (Image: Andriy Bezuglov©123RF.com)