Better You

Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang Aksi Body Positivity

  by: Givania Diwiya Citta       6/7/2019
  • Jika saat masa pencarian jati diri kita diingatkan untuk menyadari dan menemukan keahlian genius dalam bidang diri masing-masing, maka konsep yang sama juga diberlakukan pada tubuh yang kita huni ini. Setidaknya, itulah yang diangkat oleh konsep body positivity, yaitu pengertian bahwa semua tubuh – apapun bentuk, ukuran, warnanya – adalah sama berharganya. Tapi lebih dari itu, kita pulalah yang harus memperjuangkan untuk mencintai dan menghargainya.




    Girls, tahukah kamu jika rasa insecure diri pada tubuh (serta dari tekanan society) terhadap penampilan fisik terjadi dekade demi dekade, dan memuncak hingga era 1990an? Perang antara diri sendiri versus tubuh nyatanya berlangsung hampir seumur hidup lho. But thank God, kabar baik dilansir oleh American Psychological Association bahwa tingkat ketidakpuasan perempuan (serta pria) pada tubuh mereka sendiri mengalami penurunan berangsur sejak awal tahun 2000an. Phew!



    Body Revolution

    Meski masyarakat modern sudah kian lebih sadar tentang konsep body positivity, tapi sudahkah kamu benar-benar memahami dan mengimplementasi maknanya? Desainer Mallorie Dunn di balik label SmartGlamour – yang berkontribusi dalam arus revolusi citra body-sizing dalam industri mode – menyebutkan bahwa body positivity berarti menerima tubuh yang dimiliki, serta menerima seluruh perubahan bentuk, ukuran, dan kemampuannya, yang terjadi karena hal alami, usia, atau keputusan pribadi yang diambil. Intinya, selalu ada self-worth dalam diri meski hal apapun terjadi pada penampilan fisik kita.



    Kesadaran terhadap konteks body positivity pun kian meluas dan semakin mudah dimengerti. Seperti hasil riset yang dilakukan Psychology Today melalui aplikasi Whisper. Terdapat simpulan bahwa 35,1% pengguna mendefinisikan body positivity sebagai “being okay with flaws”, 29,3% menyebutnya sebagai “loving yourself”, 21,1% sebagai “being confident”, dan 14,5% sebagai “appreciating your body.” Syukurlah, gerakan body positivity tampaknya tak akan berhenti sampai di sebatas frase, ya. 


    Hampir satu dekade terakhir ini, kita juga bisa menyaksikan bagaimana industri merevolusi kampanye pemasaran mereka dalam merangkul konsep body positivity. Seperti media massa yang menanggalkan kata-kata “bikiny body” serta “drop two sizes” sebagai judul, atau majalah mode hingga kebugaran yang menampilkan model plus-sized seperti Ashley Graham pada sampulnya. Belum lagi brand raksasa seperti Dove, Nike, hingga Victoria’s Secret yang konsisten menyebarkan pesan body positivity dalam berbagai upaya pemasarannya. The global body revolution started.



    Make Peace, Not War

    Saat body positivity modern bisa tercapai, istilah body shaming lantas bisa tereduksi. Dan saat perjalanan menerima keadaan fisik masing-masing tercapai, sebuah empowerment dalam segi emosional, finansial, bahkan seterusnya, akan bisa diraih secara kolektif. Seperti hasil riset lain Psychology Today via Whisper, yang mengatakan bahwa cara terbaik untuk membangun gaya hidup body positivity adalah 45,5% “encouraging each other”, 29,2% “advocate for shining more attention to models who aren’t perfect”, dan 25,3% “the media should embrace all sizes.”





    Tentu, langkah awalnya selalu dimulai dari diri sendiri. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana mencapai level 'love the body you’re in'? Jawabannya tak lain adalah kerahkan senjata yang paling ampuh dalam proses recovery: mengakui flaw yang dimiliki, lalu mentransformasinya sebagai kekuatan.


    Caranya? Pertama, sentuh tubuh Anda sendiri. Serius – tapi bukan seperti pada cara solo pleasure, oke. Bayangkan tubuh kamu adalah sebuah entitas, yang mampu kuat bertahan melalui apapun berkat wujud kasih sayang dari individu lain, yang tak jarang termanifestasi lewat sentuhan sesederhana tepukan, rubbing, berpelukan, hingga cuddling. Percayalah, sebuah sentuhan hangat pada tubuh sendiri, akan membantu menghapus pikiran-pikiran negatif yang kamu ciptakan tentang ketidaksempurnaan tubuh.


    Terakhir, berhenti memerangi tubuh kamu, dan berdamailah dengannya. Seperti sesi intim yang mampu membuat emosi bahagia kamu meluap, maka kandungan dopamine, norepinephrine, dan adrenalin akan hadir memberi dampak yang sama saat kamu mencintai tubuh sendiri. That’s when you reach a state of body acceptance.



    Yang perlu diingat lainnya adalah dengan adanya pola pikir body positivity, tidak semerta-merta kamu jadi meninggalkan tanggung jawab pada tubuh, lho. Rangkaian asupan gizi sehat serta olahraga sebagai perisai ketahanan tubuh, juga tetap menjadi esensial bagi kelangsungan body acceptance kamu. Bahkan dampaknya, kamu juga akan mendapat kesehatan mental yang terjaga, kok!


    Selanjutnya, kalau kamu bisa, sebarkanlah virus body positivity pada lingkaran terdekat, meski aksi paling sederhana yang bisa kamu lakukan adalah melalui selfie dengan caption berisi surat cinta pada tubuh sendiri. Lakukan hingga akhirnya kamu meraih posisi persis seperti kutipan sang penulis New York Times bestseller Regena Thomashauer, “When you know your own body, you will stand in your own glory.”


    (Givania Diwiya / Image: Wilson Vitorino from Pexels; Doc. Instagram)