Better You

Wow, Ternyata Stres Baik Bagi Diri, lho! Berikut Alasannya

  by: Givania Diwiya Citta       8/7/2019
  • Tak selamanya stres berarti penuh bahaya dan beracun, lho, girls. Justru bagi para ahli psikologi, ini adalah realitas yang sering disalahartikan. Karena teori lain menyatakan, bagian terbaik dari stres adalah ruang untuk bertumbuh darinya. Bukan hal baru jika para ahli psikologi mengungkapkan bahwa stres nyatanya baik bagi diri, meski pendapat ini tidak sepopuler dengan pernyataan stres yang tipikal dilabeli destruktif. Bahkan ujar Tal Ben-Shahar sang profesor psikologi di Harvard University, stres adalah proses pemenuhan diri. Baginya, stres adalah titik-titik yang menghubungkan garis kehidupan keseharian kita. Ia hadir secara konsisten serta subtil layaknya backsound bagi rutinitas sehari-hari kita. Hampir tidak bisa dielakkan, bukan?


    Stres memang muncul karena diri kita bereaksi terhadap hal-hal yang mengancam ketidaknyamanan. Di situlah diri kita merespons stres untuk mencari tahu cara menghadapinya dan mempelajarinya. Daniela Kaufer, profesor muda dari UC Berkeley yang mempelajari tentang anatomi biologi stres, mengungkapkan bahwa stres dalam periode singkat mampu meningkatkan kewaspadaan, kinerja, hingga mengoptimalkan memori kita. Bukti ilmiahnya adalah dari level molekul pada otak yang meningkat saat menghadapi kegelisahan serta hal-hal yang berunsur traumatis. 





    Lantas yang menjadi pertanyaan, jika stres adalah realita yang tak bisa dihindari, maka bagaimana cara terbaik untuk mengelolanya? Dalam buku The Upside of Stress yang ditulis oleh profesor Stanford, Kelly McGonigal, tersedia salah satu kunci jawabannya. Jika biasanya masih ada tradisi yang terjadi dalam kultur kita untuk ‘berlari-atau-bertarung’ dengan masalah (seperti mendoktrin diri untuk menyenangi deadline, menyukai kompetisi), maka Kelly menjabarkan bahwa terdapat alternatif untuk mengkaji masalah dari sudut pandang psikologis yang berbuah menguntungkan sekaligus positif. 


    Kuncinya adalah memutar persepsi akan stres. Karena stres mampu berbalik menjadi kebaikan saat ia membuat kita mengenali kemampuan alami dalam berjuang di bawah tekanan. Tapi untuk menuju ke poin tersebut, kita harus mentransformasi stres menjadi sebuah ‘bantuan’ yang menolong kapasitas kita saat menghadapi ketakutan hingga kegelisahan. Jika rasanya terdengar seperti kitalah yang harus menganggap bahwa stres tidak berbahaya, well, memang begitulah adanya. Toh, stres pada akhirnya bisa kita akui sebagai energi yang dibutuhkan untuk terus melanjutkan hidup. So here’s how to get good at navigating the turmoil.


    1. Respons stres sebagai tantangan



    Anggaplah bahwa stres merupakan tipe energi, motivasi, imun, yang membuat kamu berpikir, “I can do this.” Mungkin bukan memperbaiki segala hal yang salah, melainkan lebih kepada bahwa kamu bisa melaluinya, atau lebih tepatnya, tidak hancur berkeping-keping di bawah tekanan. Jantung boleh berdebar, tapi yakinilah bahwa saat berada di bawah kepanikan, merespons stres sebagai tantangan akan membantu kamu mengerahkan kemampuan terbaik dalam situasi mendesak. Lihat saja kegigihan para atlet yang memenangi kompetisi, atau kesuksesan dokter bedah saat surgery situation yang bertaruh antara hidup dan mati. We can nail ours too!


    2. Berkawan dengan stres



    Respons biologis distingtif terhadap stres justru akan meningkatkan hormon oksitosin (bukannya meluncurkan adrenalin dan kortison saat kita menganggap stres sebagai bahaya). Oksitosin adalah hormon yang mengeluarkan rasa tentram selayaknya rasa kenyamanan yang sama saat cuddling. Oksitosin dalam stres berperan meningkatkan ikatan serta koneksi dengan support system Anda. Terutama saat sedang menghadapi stres, hormon ini akan mendorong Anda untuk mendekati lingkaran terdekat seperti teman dan keluarga, menurunkan gengsi Anda untuk meminta pertolongan, dan yang paling ultimate, akan membuat Anda termotivasi untuk menolong sesama. Berkawan dengan stres merupakan respons yang membuat kita empati. Lebih dari itu, dorongan oksitosin ini menyediakan manfaat kesehatan selayaknya peranannya sebagai antioksidan alami.




    3. Stres sebagai platform kepercayaan diri



    Tidak terelakkan pikiran-pikiran seperti, “Andai saja saya lebih berbakat, pasti tidak akan seburuk ini keadaannya.” But girls, kita tahu sendiri bahwa pikiran-pikiran itu hanya akan memimpin langkah kita untuk semakin sulit mencari solusi. Meski pikiran mengecilkan diri tidak bisa dihindari saat sedang terpuruk, tapi selalu usahakan untuk berpikir sebaliknya. Percayalah pada kapasitas diri, dan percaya bahwa setelah melalui ini, kamu akan menjadi individu dengan versi yang jauh lebih baik. Sama halnya seperti percaya bahwa stres bukanlah semata-mata racun. It’s not a magic trick to cope with stress by injecting positivity into your bubble of mind.


    4. Ekspresikan stres lewat hobi



    Yes! Baik itu hobi berolahraga atau hobi dalam mengeksplorasi musik hingga bereksperimen memanggang resep cake terbaru, mengekspresikan emosi sebagai respons terhadap stres akan membantu kamu ingat terhadap kekuatan diri sendiri. Karena saat bisa melimpahkan emosi pada proses berkarya, keseimbangan dalam hidup akan semakin mudah untuk diraih, dan akhirnya akan berdampak pada kestabilan kamu dalam menghadapi tekanan. Apalagi jika kamu bisa menjadikan hobi sebagai sumber untuk mencapai tujuan. What a great way to cope with healthy stress.


    5. Ambil jeda dari stres



    “Orang-orang yang tampak bahagia, sehat, dan sukses, juga mengalami stres seperti halnya orang lain. Yang membedakan adalah cara mereka mengambil jeda dari kesibukan gila dalam hidup mereka dengan suatu masa recovery,” ujar Tal Ben-Shahar. Yang disebut recovery tidak semerta-merta berarti mengambil unpaid leave panjang ke Swedia untuk menyembuhkan pikiran. Recovery bahkan bisa diraih hanya dari 15 menit meditasi dengan bernapas dalam, atau sesi bersantap dengan sahabat, hingga mendapatkan tidur yang amat berkualitas satu atau dua malam dalam seminggu. Atau coba saja mendiamkan ponsel dan menikmati alam yang nyata. You’ll be seeing stress much clearer than before.


    (Givania Diwiya / FT / Image: Sharon Wright on Unsplash / Artikel pernah dimuat di Majalah Cosmopolitan edisi April 2019 dengan judul "Stress, A Blessing in Disguise")