Better You

Opps! Ini 4 Bahaya Mengonsumsi Fast Food Bagi Lingkungan!

  by: Giovani Untari       10/7/2019
  • Girls, pernah dengar bahwa fast food ternyata bisa mengancam bumi? Oh ini bukan lagi konteks masalah kesehatan, tapi serius soal bahayanya pada lingkungan.  Urban people can’t life without fast food! Fakta yang masih sulit untuk dibantah. Konsistensi kehadiran fast food di seluruh dunia membuatnya bahkan punya posisi dalam piramida makanan manusia (meski sebagai makanan dengan indeks glikemik tinggi). Permasalahannya, burger serta french fries kesayangan kamu bukan lagi sekadar berbahaya bagi kondisi kesehatan semata. Mereka kini bertransformasi menjadi makanan yang mampu mengancam lingkungan. Tidak percaya?


    1. Greenhouse Gas Effect

    Pernah berpikir bahwa fast food kesayangan kamu berkontribusi menyumbang jejak karbon pada lingkungan? Faktanya burger dengan daging dari peternakan sapi juga jadi penyumbang gas metana. FYI, seekor sapi dapat memproduksi gas metana sebanyak 120 kg dari proses mencerna makanan dan sendawanya! The bad thing: gas metana mampu bertahan di udara selama 10 tahun, lebih buruk dibanding karbondioksida!





    2. Unwise Packing 

    Kemasan dari produk fast food menyumbang sampah yang besar di planet ini. Tim Clean Water Action (CWA) menemukan fakta kemasan fast food menyumbang 49% sampah. Bahkan 39% di antaranya merupakan produk-produk non organik seperti plastik dan styrofoam. Kebanyakan sampah fast food ini pun berakhir di laut dan membahayakan ekosistem di dalamnya. Bahan seperti styrofoam bahkan membutuhkan waktu 900 tahun untuk terurai. 



    3. Fuel Consumption

    Situs ecofriend.com melakukan survei dan menemukan di Amerika 19% total energi yang dikonsumsi negara ini digunakan untuk memproduksi makanan. Energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan junk food pun jauh lebih besar dibanding menghasilkan makanan pokok. Proses seperti mendistribusikan bahan makan ke retail-retail fast food, peternakan, hingga pengolahan makanan menyumbang polusi, gas, emisi serta kemacetan. Opsi layanan fast food yang mengantar makanan ke sejumlah alamat sekaligus memang sesuatu yang bijak, tetapi tetap membutuhkan bahan bakar bukan?



    4. Water Contamination

    Bahan-bahan baku fast food jelas tak datang begitu saja. Beberapa di antaranya berasal dari perkebunan dan peternakan. Sayuran yang digunakan misalnya, berpotensi ditanam menggunakan herbisida dan pestisida. Keduanya pun mampu mencemari tanah dan air di sekitarnya. Produksi tanaman rekayasa genetika Genetically Modified Organisms (GMOs) oleh sejumlah gerai fast food juga menyebabkan polusi biologis selain polusi kimia. Lalu ternak untuk menu fast food juga berkontribusi terhadap bakteri E. coli (dan bakteri lainnya) yang mudah mencemari air dan tanah.






    Break the Fast Food Cycle

    1. Konsumsi makanan berprotein seperti ikan, sayur, dan kacang-kacangan. Protein efektif membuat kamu merasa kenyang, serta menghindari kamu dari desire untuk menyantap fast food.

    2. Bawa tempat makanan sendiri dan minimalisir penggunakan sedotan, sendok plastik, juga tisu. 

    3. Better sleep, better health! Tidur yang cukup membantu tubuh dan pikiran mengurangi rasa lapar dan keinginan makan berlebih. Termasuk keinginan mengonsumsi fast food.



    (Giovani Untari / FT / Image: Dok. Unsplash.com, Tenor.com)