Career

Ini Dia Cara Sukses Bekerja di Perusahaan Startup

  by: Givania Diwiya Citta       18/7/2019
  • Harus diakui, menjajal perusahaan startup yang masih dalam tahap awal (kita berbicara tentang tim yang baru didirikan dengan semisal lima hingga belasan pekerja), rasanya seperti bertaruh tinggi untuk kelangsungan hidup dan karier. Seperti yang kita tahu, industri startup adalah bisnis yang paling memiliki risiko tinggi, mulai dari peluang kegagalan bisnis yang kapan saja bisa menderu, keberlangsungan karier yang tidak aman bagi karyawan, atau kemungkinan penghasilan serta benefit yang jauh lebih kecil didapat ketimbang kehidupan korporat yang mapan. Namun di baliknya, ia memiliki kekuatan sekaligus penghargaan tinggi dalam berkarya yang tidak didapat dari industri mana pun. 


    via GIPHY




    Tapi itulah seni dari strategi bertahan dalam early-stage startup. Bahkan dengan adanya akselerasi kecepatan proses belajar yang menuntut kamu untuk paham secara ekspres, kamu bisa saja ditransformasi menjadi seorang visioner layaknya kamu adalah seorang CEO bagi bidang kerja kamu. Persis seperti yang teman baik saya, Lucy (28 tahun), ungkapkan setelah memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan tinggi dari bekerja di bank multinasional dan beralih pada kehidupan startup yang 180 derajat dinamis. “Ada satu hal yang hanya bisa saya dapat dari bekerja di startup dibanding saat bekerja dengan perusahaan mapan. Saya merasa jauh dikaryakan, lebih banyak ilmu teknis yang bisa diambil, dan yang paling thrilling, kitalah yang mengatur sendiri perputaran bisnisnya.”


    Jadi, bagaimana caranya untuk sukses bekerja di perusahaan startup?

    Dengan dinamika kerja yang (hampir selalu) tidak teratur, berbeda dengan para perusahaan mapan di luar sana, ada beberapa hal yang dibutuhkan dalam daftar requirements demi bisa keeping up with the pace. Simak, asah, dan percayalah, kamu tidak akan menyesal untuk menguasainya.


    1. Bersedia konstan belajar non-stop



    Bukan hanya belajar dari sumber-sumber rekan kerja internal tentang keseluruhan alur bisnis, namun proses konstan belajar juga muncul dari dorongan pengetahuan eksternal. Seperti meski jika kamu adalah seorang Art Designer, tak akan terbatas bahwa kamu bisa saja mempelajari tentang strategi pemasaran media sosial. Tak perlu benar-benar mengeluarkan biaya kursus keahlian untuk keeping up, namun selalu bukalah pikiran dan beradaptasilah lebih cepat, karena jika kamu selalu bisa berdiri tegap di antara seluruh tekanan, kamu dipastikan bisa melaju ke depan.


    2. Tidak mengambil semua hal secara personal



    Seperti yang disebutkan di awal, bergabung dengan early-stage startup akan terasa seperti menaiki roller coaster emosional. Karena kamu tidak akan pernah tahu hasil yang didapat dari mengeksekusi ide kamu, belum lagi menghadapi tekanan untuk selalu bisa meraih traffic lebih tinggi, jumlah pengguna yang lebih banyak, klien yang lebih banyak, dan semua tuntutan keuntungan ‘lebih’ lainnya. Dengan dinamika yang teramat pesat, ini adalah state di mana kesabaran dan kreativitas sekaligus fleksibilitas kamu diuji, jadi jangan mudah mengambil semua tekanan masuk ke dalam hati. Always remember to aim the collective success.




    3. Mendorong diri bermain multi peran



    Mungkin jabatan kamu adalah Content Editor, tapi kamu tidak akan terbatas menjalani peran sebagai Social Media Manager, Public Relations, bahkan Business Developer. Beralih dari satu job description menuju job description lain adalah lumrah, bahkan inilah keahlian yang diperlukan saat kamu bergabung dengan early-stage startup. Multitasking mungkin terdengar intens, but what doesn’t kill you make you stronger, right?


    4. Peka terhadap data



    Bagi startup, data adalah aset yang paling berharga. Sekitar 95% strategi yang dikerahkan adalah berdasarkan terapan data, bukan dari insting. Dan data didapat dari social listening, yakni proses menyimak terhadap tren serta perilaku masyarakat terkini. Maka dari itu, ada kebebasan tersendiri bagi Anda untuk berkreasi menghasilkan output demi memenuhi kebutuhan target pasar. Sukseskan pula karya kamu dengan kemampuan untuk berkomitmen pada jadwal pekerjaan yang ditentukan. Karena soft skill untuk menjadi well-organised – yang terkadang tidak terlalu disorot ini – akan menjaga ritme kerja dan memudahkan kamu dalam menuntaskan segala to-do list sesuai prioritas. Slay it!


    5. Passionate



    Meski terdengar klise, tapi nyatanya hal yang paling mendasar ini juga menjadi elemen yang dibutuhkan untuk mengikuti pace para startup. Karena rasanya akan seperti merawat dan membesarkan ‘buah hati’ untuk berkembang tinggi, kamu mungkin akan dituntut menaruh perhatian 1000% lebih besar pada entitas ini ketimbang pada diri sendiri. Maka dari itu, kesamaan visi yang diemban antara kamu dan perusahaan mungkin akan kurang lebih sama, sehingga kamu setuju untuk terlibat sedalam ini. Seperti ungkapan teman baik saya lainnya, Rayna (30 tahun), yang dua tahun terakhir menikmati membesarkan ‘big baby’ miliknya, “Membangun startup sama seperti menciptakan sesuatu yang revolusioner, karena tidak semua masyarakat langsung mengerti dengan produk yang kita buat. Maka dari itu, passion menjadi krusial saat kita berbicara tentang the art of endurance in early stage startup.” Embrace the challenges, you go-getter!


    (Givania Diwiya / FT / Image: Brooke Cagle on Unsplash.com / Artikel ini dimuat pada Cosmopolitan Indonesia edisi April 2019 dengan judul "The Art of Endurance in Early-Stage Startup")