Career

Simak! 8 Kebiasaan Buruk di Kantor dan Cara Memperbaikinya

  by: Givania Diwiya Citta       22/7/2019
  • Ada masanya di mana batas antara toxic dan the new normal menjadi kabur. Terutama yang terjadi di tempat kerja, di mana kita menghabiskan lebih dari separuh masa aktif produktif kita dalam sehari. Namun dari hal-hal kecil yang secara konstan dilakukan (dan perlahan ‘dikembangkan’ layaknya kebiasaan normal), nyatanya menjadi bibit-bibit buruk yang bisa meracuni karier hingga positive vibes dalam bekerja. Mari lakukan self-examination dan melangkah ke perubahan habit bekerja lebih baik, yang tak hanya akan boosting gairah serta kebahagiaan bekerja kamu, namun juga meraih kesuksesan kolektif bersama.


    1. Datang terlambat.





    Jika kamu merasa terlambat hadir di meeting selama lima menit adalah no big deal – baik alasannya karena itu tradisi lumrah dalam lingkungan tempat kerja – maka, percayalah, itu BIG DEAL. Karena dampak yang muncul pada perjalanan karier kamu di masa mendatang akan buruk. Bukan hanya karena reputasi yang tampak tidak profesional, namun kebiasaan datang terlambat mengindikasikan bahwa kamu kurang menghormati berbagai pihak yang terlibat, serta dapat menjadi bumerang pada integritas kerja kamu. Mulai untuk picu kebiasaan bangun setengah jam lebih pagi dari sekarang, untuk masuk ke kantor lebih awal dari biasanya, hingga kamu bisa menuntaskan agenda pekerjaan dalam sehari dengan lebih efisien.


    2. Tidak mempersiapkan diri.

    Baik itu dalam konteks penampilan fisik, atau kurang mempersiapkan materi meeting, hingga alasan seperti, “Saya tidak punya waktu untuk mempersiapkannya karena aktivitas saya sesibuk itu,” tidak menjadi penolong bagi kemajuan karier kamu. Karena selain menghambat kinerja, kebiasaan menyepelekan tahap persiapan dalam bekerja juga akan memperlambat progres tim kamu. Pada akhirnya, kontribusi kamu dalam kerja tim pun akan kurang dipercayai, dan tentu saja, there’s nothing good comes out of it. Coba riset latar belakang materi meeting agar muncul ide-ide cemerlang untuk diajukan, atau sesederhana menyiapkan file administratif yang berpotensi dibutuhkan. You’ll also be entering towards it in confidence.


    3. Tidak mengambil waktu istirahat.

    Bukan hanya waktu istirahat makan siang berfungsi menjaga stamina kamu hingga pulang kerja nanti, tapi kebiasaan untuk mengambil jeda istirahat akan membuat kamu bekerja jauh lebih produktif. Nyatanya, bahkan dengan mengambil istirahat selama 15 atau 20 menit saja, konsentrasi serta level energi bisa diraih untuk jangka waktu bekerja yang lebih lama. Jadi, jangan lewatkan jam makan siang, dan gunakan waktu istirahat secara bijaksana untuk olahraga kecil berjalan kaki, mengobrol tentang topik harian segar, atau menelepon orang terdekat hanya untuk saling berkabar. You’ll be working in a much happier mood.


    4. Membiarkan meja berantakan.



    Memang, memiliki meja yang tidak terorganisir tidak akan mengganggu performa rekan kerja kamu (tapi perhatikan barang-barang yang tak sengaja meleber pada area kerja rekan-rekan di samping kamu!). Tapi dengan meja yang berantakan, tanpa disadari bisa menghambat alur kerja, karena banyaknya file dan dokumen pekerjaan yang tercecer. Lantas menjadi vital pula jika kamu tidak bisa menemukan memo penting yang sedang dibutuhkan hanya karena ia terselip di suatu tumpukan di meja kamu. Ugh, no more, girls. Mulailah untuk mencoba sortir berbagai barang di atas meja, dan kategorikan sesuai fungsi dan urutan prioritas mereka masing-masing. Coba rasakan dampak positif setelah semua barang di meja tersusun rapi. You’ll get the workflow done in a flash!




    5. Cocok dengan gosip negatif.

    Ah, gosip memang terasa menghibur untuk dikonsumsi, terutama saat kamu sedang kesal atau lelah dengan drama di lingkungan pekerjaan. Tapi percayalah, negative vibes tak akan membawa karier kamu maju ke mana pun. Tentu kamu sudah aware bahwa tidak etis untuk membicarakan keburukan rekan ataupun atasan di kantor. Tapi kebiasaan ikut mengonsumsi – meski sekadar ikut mendengarkan dan mengiyakan gosip-gosip tersebut – akan membuat atmosfer kerja semakin keruh, dan bisa jadi memadamkan spirit kerja kamu dan rekan lainnya. Menggoda memang, tapi berusahalah lebih keras untuk menahan keinginan terlibat dalam sesi gosip antar kubikel tersebut. Be your best version of fun, fearless, female in the workplace, girls!


    6. Menyangkal kesehatan fisik kamu...

    lalu membuat sederet pekerjaan menjadi alasan agar kamu tidak memeriksakan kesehatan ke ahlinya. Big NO! Karena saat kamu menyangkal rasa sakit (padahal untuk fokus saja sulit karena flu itu), kamu semakin membuat pekerjaan sekaligus progres kerja tim menurun. Terutama di usia 20an yang secara subjektif merasa selalu bugar, dan beranggapan akan sembuh dengan sendirinya di akhir pekan. Well, sometimes we don’t even have time to spend a me-time by the weekend, as we know it. Maka dari itu, sebelum pekerjaan makin sulit diselesaikan karena kesehatan yang semakin memburuk, coba pecahkan kebiasaan denial ini dan segera buat janji temu dengan dokter, lalu ambil satu hingga dua hari untuk beristirahat total. Setelah sehat, kamu bisa kembali ke meja kerja dengan tenaga penuh.


    7. Mengagungkan tekanan.

    Coba simak baik-baik pertanyaan dan jawaban berikut ini, dan lihat jika kamu begitu familier dengannya. “Bagaimana kabar kamu?” “Oh, saya amat sibuk! Banyak sekali pekerjaan yang menanti hingga saya hanya punya waktu tidur tiga jam dalam sehari, bahkan weekend. Very hectic!!” OK. Ketahuilah, kebiasaan mengagungkan gaya kerja hectic kamu sesungguhnya bukanlah kabar yang patut dibanggakan. Tentu saja tidak ada pekerjaan di dunia ini yang tidak berat ataupun menantang. Tapi yang salah adalah saat kita menggunakan stres sebagai sebuah lencana kehormatan, bahwa kamu sudah bekerja sekeras ini. Lantas kesalahan mindset akan muncul bahwa jika tidak bekerja keras, maka kamu lemah, dan bekerja sekeras mungkin adalah hal yang diklaim normal. Untuk mencapai kesuksesan kolektif, bukan itu satu-satunya cara menuju ke sana. Coba turunkan gengsi untuk meminta bantuan atau mendelegasikan tugas pada tim kamu. Karena selain meringankan overload di pundak kamu, hal ini bisa mengasah performa individual dalam tim, dan pada akhirnya, mencapai tujuan yang ditargetkan bersama. Dampak lainnya, akan membuat hubungan antar personal kamu dan tim menjadi lebih solid berkat rasa saling percaya yang terpupuk.


    8. Mentalitas “Saya VS Mereka”.



    Baik kamu seorang Leo dan Taurus yang kompetitif, Scorpio yang diam-diam selalu ingin menang, Virgo yang perfeksionis, ataupun Aries yang ambisius, kompetisi sehat dalam dunia pekerjaan sesungguhnya tidak semerta-merta bisa dimenangkan lewat mentalitas pihak mana yang lebih superior dari yang lain. Karena mentalitas ini hanya akan memicu pola pikir saling membandingkan. Sementara definisi kompetisi yang sehat adalah yang justru mampu memicu setiap individu dalam lingkungan pekerjaan menjadi versi terbaik mereka dengan kemampuan dan keunggulannya masing-masing. Terlebih yang harus diingat, kita bekerja dalam tim dengan tujuan untuk meraih kesuksesan organisasi, serta personal development yang maju secara kolektif. Cobalah untuk putar persepsi dari sudut pandang seorang pemimpin, apakah kamu mau tim (termasuk kamu sendiri) menjadi segerombolan kawanan yang saling menikam, atau menjadi sekelompok kawanan dengan kekuatan super masing-masing dan sejahtera bersama? It’s never too late to detox those bad habits. Go for it!


    (Givania Diwiya / FT / Image: Gabriel Porras on Unsplash.com / Artikel ini dimuat pada Cosmopolitan Indonesia edisi Mei 2019 dengan judul "Shake the Toxic Out!")