Better You

#StopBeautyBullying! Kenali Self-Value Dirimu

  by: Kissy Aprilia       27/7/2019
  • “Kok gendutan?”, “Kulit kamu sekarang hitam, deh!”, “Aneh banget, sih, bentuk badannya.” Kalimat tersebut mungkin sudah sering kamu dengar dan terasa normal untuk diungkapkan. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa hal ini termasuk dalam kategori beauty bullying? Well, girls.. Have you ever been bullied on media social? Atau justru kamu pernah menjadi pelakunya? Then let’s talk about it.  


    Apa Itu Beauty Bullying?

    Coba renungkan diri dan mengingat kapan terakhir kali kamu berkomentar negatif di media sosial seseorang. Tidak pernah? Coba ingat kembali apakah kamu pernah menyinggung soal fisik di unggahan foto seseorang, meski ia adalah teman dekatmu. Pasalnya, beauty bullying memiliki relasi antara verbal dan cyber bullying. Kenapa? Sebab, mayoritas pelaku dapat dengan mudah berpendapat di media sosial (saat ini banyak ditemukan di Instagram) tanpa perlu menunjukan identitas. Komentar itu mengarah pada hal-hal negatif yang berhubungan dengan fisik seseorang, mulai dari menginformasikan, mengarahkan, menyindir, hingga mengintimidasi.




    Menariknya, tidak semua pelaku bullying menyadari perbuatannya. Sebagai contoh: kamu mengaggap pendapat “kok gendutan?” yang kamu tujukan untuk temanmu adalah candaan, sementara temanmu sebenarnya merasa sangat tersinggung. Menurut dokter Nuran Abdat, Clinical Psychologist dari Brawijaya Clinic, sikap ini bisa saja tumbuh akibat lingkungan individu yang membuat pelaku berpersepsi bahwa berkomentar negatif adalah hal yang wajar. Selain itu, tidak sedikit pula pelaku bullying yang berawal sebagai korban dan alam bawah sadarnya merekam perilaku itu untuk diterapkan kepada orang lain.


    Beauty Bullying Dilakukan Oleh Sesama Perempuan

    Fakta lainnya, beauty bullying ternyata lebih sering terjadi antara sesama perempuan. Sebuah penelitian menemukan bahwa perempuan memiliki kecenderungan untuk bersaing di ranah kecantikan dan kesuksesan, karena ada rasa kecemburuan sosial. Persaingan ini menimbulkan sikap ‘defense mechanism’ (pertahanan diri) yang variatif dari setiap individu. Pada mayoritas kasus beauty bullying, defense mechanism ditunjukan dengan melakukan persaingan yang tidak sehat seperti menjatuhkan lawan dengan cibiran atau komentar negatif di media sosial, agar pelaku merasa dirinya lebih baik dibandingkan korban. 


    Beauty Bullying Sudah Merenggut Korban Jiwa


    Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa sekitar 49 persen pengguna internet di Indonesia pernah mengalami bullying. Yes, it’s half of us, girls. Meski dampak bullying itu tidak selalu negatif, namun sebagian besar korban kehilangan rasa kepercayaan diri, mudah putus asa, depresi, anxiety, bahkan menurut penelitian Menteri Sosial—Ibu Khofifah Indar Parawansa—di akhir tahun 2018, sebanyak 40 persen remaja Indonesia memutuskan untuk bunuh diri karena cyber bullying. That’s a big number! Karena itu, Cosmo mengajakmu untuk #StopBeautyBullying dengan cara meningkatkan self-awareness agar pikiran negatif tidak menghantui diri kita. 




    Lalu, bagaimana menghadapi beauty bullying?

    Dokter Nuran mengatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi beauty bullying adalah dengan menyadari perbedaan karakter di setiap individu. Everybody is different. Everybody is unique. Banyak orang yang belum memahami hal ini dan akhirnya membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Kedua, tanamkan pikiran ke dalam diri bahwa perbedaan adalah hal yang wajar. Siapa pun tidak berhak menilai, menghakimi, atau mengkritik penampilan orang lain, karena definisi cantik itu sesungguhnya tidak berbatas. There’s no such thing as beauty standart, because every woman is beautiful


    Lalu bagaimana caranya kita dapat menerapkan kedua hal tersebut in real life? Ketahuilah bahwa perbedaan karakter itu melahirkan cara berpikir, gaya pakaian, ketertarikan akan makeup, dan hal-hal lainnya yang berbeda. Jika menjadi korban bullying, kamu tetap harus lebih dulu mengintropeksi dan bertanya pada diri sendiri “apakah aku merasa senang tampil seperti ini?” atau “apakah penampilan ini benar-benar cocok untukku?”. Selama kamu merasa nyaman, just do it! Saat kamu memberikan penampilan terbaik, maka energi positif yang ada di dalam diri akan mempengaruhi pembawaan, mood, bahkan lingkungan yang lebih baik.


    Kenali Self-Value

    Ketika mendapatkan komentar negatif, belajarlah untuk menerima dan menikmatinya. Kamu bisa mengatakan, “memang kenapa? This is me, I love me!” kepada diri sendiri agar pikiran negatif tidak menghantui diri. Cara ini akan membantu alam bawah sadarmu membedakan mana hal baik yang dapat menumbuhkan kekuatan dan mana yang menjatuhkan, bahkan lebih mengerti self-value dirimu sendiri.


    Selain itu, kamu dapat menghadapi beauty bullying dengan cara memaksimalkan self-care. Mengingat karakter setiap individu berbeda, maka kepuasan yang dibutuhkan setiap orang juga berbeda. Lupakan emosimu di tempat yang tepat, melewati hal-hal yang kamu suka, dan yang terpenting adalah membuat penampilanmu lebih baik demi meningkatkan self-value. So from now, #StopBeautyBullying!


    (Kissy Aprilia, image: Leon Seibert/ Unsplash, Pexels)