Lifestyle

Seperti Apa Aktivitas Traveling Setelah Masa Pandemi?

  by: Givania Diwiya Citta       3/7/2020
    • Kebijakan PSBB hingga lockdown diterapkan oleh berbagai wilayah serta negara kala menanggulangi penyebaran COVID-19.
    • Situasi pandemi ini turut mengubah aktivitas traveling hingga di masa mendatang. Ketahui apa saja yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan perubahannya.


    Aktivitas traveling yang selama ini kita anggap enteng karena prinsip selalu-ada-cara-untuk-berlibur, menjadi berubah total kala bulan Maret lalu kita di Indonesia serta mayoritas warga dunia lainnya harus menjalani isolasi diri. Mungkin selama beberapa bulan masa karantina diri, kamu berpikir, "Ugh, andaikan saya terisolasi di sebuah vila di Spanyol yang punya panorama laut zamrud."




    Kini yang harus kita pahami, akan ada penyesuaian kebiasaan baru terhadap aktivitas traveling, khususnya pasca lockdown COVID-19. Akan seperti apa aktivitas berpelesir selain kamar hotel yang super bersih dan cek suhu tubuh di bandara? Kenyataannya, mungkin kita harus mengucapkan selamat berpisah dulu kepada aktivitas pesta seru di malam hari juga pada penginapan last-minute yang murah. Karena setelah masa karantina yang panjang, kita jadi lebih waspada terhadap kebersihan dan kesehatan.



    Kabar baiknya, keinginan dan gairah kita sebagai manusia untuk berpelesir tak padam begitu saja. Cosmopolitan UK juga sempat mengadakan survei dan 54% Cosmo babes menyuarakan harapannya semoga bisa berlibur di sisa tahun ini. Jadi pertanyaannya adalah, seperti apa makna berpelesir di era kenormalan baru, dan apakah kita sudah siap beradaptasi dengannya?


    Perubahan dalam Penerbangan

    Dengan regulasi COVID-19 yang masih diberlakukan dan tentunya ini untuk membuat kita merasa aman saat melakukan penerbangan, kebanyakan maskapai memperkenalkan persyaratan besar yang harus kita penuhi sebelum berangkat. 


    Hei, bahkan sebelum adanya COVID-19 saja, ingat bukan bagaimana penjagaan ketat tentang batasan bahan cairan 100ml, membuka sabuk dan sepatu, yang diperkenalkan bandara-bandara pasca tragedi 9/11? Nah, kini meskipun persyaratannya lebih panjang, namun kita tahu ini untuk kebaikan dan kesehatan kita semua.



    Jadi bersiaplah untuk suhu tubuh yang dimonitori, lalu alokasi waktu untuk tiba di bandara tiga jam sebelum keberangkatan agar menghindari antrian panjang, tetap menjaga jarak sosial di tempat publik bahkan di Duty Free, dan beberapa teknologi canggih lainnya. Seperti sistem Online Customer Service, boarding pass scanner, Digital Meeting Point yang dirancang mengurangi interaksi fisik antar-manusia di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.


    Sementara itu, para maskapai juga telah memberlakukan syarat-syarat penerbangan, contohnya Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, yang mewajibkan adanya surat kesehatan dengan hasil tes PCR negatif COVID-19 baik bagi WNI serta WNA. Sementara di dalam penerbangan, maskapai seperti Singapore Airlines juga menghadirkan solusi digital seperti App Companion yang memungkinkan para pelanggannya mengendalikan sistem hiburan dalam penerbangan maskapai tersebut melalui ponsel masing-masing. Maskapai AirAsia pun melengkapi seluruh pesawatnya dengan fitur penyaring udara HEPA berstandar rumah sakit yang bisa menyaring 99,999% partikel di udara seperti virus dan bakteri.



    Jadi, penerbangan masih bisa dilakukan namun masih akan ada keterbatasan destinasi yang diinginkan, karena tergantung dari rute yang dibuka oleh maskapai, serta peraturan pemerintah lokal yang diberlakukan. Lalu pertanyaan besar lainnya, akan seperti apa harga tiketnya? Untuk saat ini, harga tiket penerbangan ada penurunan meski tak signifikan dari harga reguler kala sebelum COVID-19 merebak. Namun perlu disadari juga, bahwa penurunan harga mungkin adalah strategi untuk menarik kembali minat pelanggan, jadi saat permintaan dan bukaan rute telah kembali normal, maka harga pun akan naik atau normal seperti sedia kala kembali.


    Norma Baru dalam Berlibur

    Lingkungan outdoor dan yang tidak padat akan lebih digemari

    Saat kita memutuskan traveling pasca pandemi, kita pasti akan memilih destinasi yang membuat kita merasa aman dan bahagia – meskipun, ya, kamu sudah mendekam di dalam ruangan rumah berbulan-bulan lamanya – tapi kebanyakan orang tak akan tergesa-gesa untuk berlibur ke tempat yang sibuk dan padat.


    Justin Francis, pendiri dan CEO dari perusahaan sustainable holiday Responsible Travel mengatakan, “Saya rasa mayoritas dari kita akan mendamba alam dan aktivitas yang tak padat [untuk berlibur]. Kita mungkin akan melihat kenaikan minat di liburan bersepeda, tur berjalan kaki, kayaking – semuanya dipandu oleh diri sendiri atau dalam grup yang sangat sedikit.



    “Orang-orang pasti masih punya minat ke destinasi Scandinavia atau Antartika, seperti Islandia atau Norwegia, atau juga Swedia dan Finlandia. Karena tetap ada pengalaman yang masuk dalam ‘bucket list’, seperti contohnya melihat Aurora.”


    Berlibur road trip



    Liburan seperti road trip sendiri atau dalam kelompok kecil diprediksi akan meningkat berkat pilihan kebebasan dan eksklusivitas yang bisa dirancang mandiri. Apalagi dengan bisa mengontrol lingkungan sekitar serta bisa beradaptasi dengan rencana saat melakukan perjalanan tersebut secara on the go juga merupakan bonus tersendiri. Pastikan saja tetap mindful dengan kebersihan dan kesehatan diri, ya!




    Berlibur dan memasak sendiri

    Berlibur dan memasak sendiri kini kian digemari, seperti yang dikatakan oleh Alex Loftus, direktur komersial untuk easyJet Holidays. “Kami melihat adanya kenaikan dari para pelanggan yang memesan apartemen dan vila yang memungkinkan mereka untuk memasak makanan mereka sendiri, dengan lokasi di pinggir pantai atau di tempat privat di mana grup keluarga ataupun teman bisa berkumpul bersama secara aman, karena ini menjadi sarana untuk berkumpul setelah terpisah beberapa bulan ini,” ujar Alex pada Cosmo.



    *Oke, mulai scrolling Airbnb dengan fasilitas dapur.*


    Liburan berfokus wellness

    Cosmo pun memprediksi bahwa liburan yang berfokus pada aktivitas penyembuhan fisik, mental, dan spiritual akan semakin dicari dan diperhatikan. Karena, halo, setelah kita melewati masa-masa sulit dari dampak pandemi, yang kita butuhkan adalah zen untuk bangkit dan hidup secara lebih mindful lagi. 



    Resor seperti Amanjiwo di Yogyakarta, The Datai Langkawi di Malaysia, Chiva-Som di Thailand, bisa mendapatkan spotlight berkat program-program peningkatan well-being yang ditawarkan. Terutama dengan konsep lokasi yang secluded, diet yang dipersonalisasi untuk kesehatan tubuh, program olahraga untuk kebugaran fisik, serta aktivitas yang memercik ketenangan batin, menjadi penyembuhan tersendiri yang dicari oleh kita pasca melewati masa-masa sulit.


    Liburan yang higienis

    Selain tren go green yang konsisten jadi gaya hidup esensial, berpelesir secara higienis apalagi di era yang baru ini juga menjadi tak kalah penting. Jadi, akan ada banyak pilihan resor dan hotel yang menawarkan pengalaman berlibur secara higienis. 


    Seperti The Mulia, Mulia Resort and Villas di Nusa Dua, Bali, yang telah mengelevasi protokol keamanan serta sanitasi di resornya. Mulai dari fasilitas pembersihan luggage saat datang, tambahan amenity dalam kamar seperti masker dan sanitizer, konsep low touch approach di seluruh area resor, kolam renang yang dites dan dibersihkan secara berkala untuk menetralisir virus, sampai penataan dine-in di restoran serta hidangan yang seluruhnya dimasak secara matang. 



    Sementara di lanskap Asia, rantai resor seperti Hoshino Resorts yang berasal dari Jepang meluncurkan aplikasi ponsel untuk memonitor kepadatan pengunjung di onsen seperti yang ada di Hoshinoya Karuizawa, agar pengunjung bisa memilih waktu yang nyaman untuk berendam di pemandian air panas tersebut. Begitu juga rantai resor Belmond yang mempraktikkan pelayanan seamless dengan teknologi digital berupa proses check-in komplit secara online, sampai penggunaan menu di material yang dapat didaur ulang.


    Jadi, sampai saat ini, kita bisa berekspektasi bahwa kegiatan traveling di masa mendatang akan tampak bersih, lebih hijau, dan setidaknya untuk sementara, lebih terisolasi. Social distancing mungkin membuat kegiatan clubbing dan liburan hingar bingar tertunda untuk sementara waktu, tapi kalau kita bisa menikmati hidangan dan menyesap wine sambil berjemur di vila pinggir pantai, kita pasti tetap bisa melangsungkan hidup, kok. Bon voyage safely and wisely.


    (Artikel ini diadaptasi dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa & Tambahan Teks: Givania Diwiya / Image: Roman Odintsov dari Pexels / Amanda Statham)