Better You

Tanda-tanda Depresi yang Perlu Kamu Ketahui

  by: Givania Diwiya Citta       7/7/2020
    • Terkadang gejala depresi tak muncul eksplisit ke permukaan ataupun tak terekspresikan oleh seseorang – atau oleh diri sendiri.
    • Kenali tanda-tandanya dari perubahan yang terjadi di aktivitas sehari-hari, mulai dari perubahan selera makan sampai pola tidur.


    Kesehatan mental bukanlah hal yang remeh, karena isu ini dirasakan oleh setiap individu, dan penting untuk kita acknowledge serta pelajari agar kita bisa menanggulanginya serta mendapat perawatan yang tepat. Apalagi sejak pandemi COVID-19 merebak, dampak yang dihasilkannya pun menyebar ke berbagai sektor dalam hidup. Karena lebih dari membuat para makhluk sosial harus menjalani isolasi diri, namun juga memunculkan berbagai kegelisahaan terhadap aspek-aspek lainnya mulai dari ketakutan tak berujung, kesendirian, sampai depresi. Bahkan, gejala depresi bisa saja tak disadari oleh orang lain – atau bahkan oleh dirinya sendiri – padahal dengan mengidentifikasinya, kita bisa mengantisipasi krisis yang berbahaya tersebut, dan menyelamatkan diri sendiri, teman, ataupun anggota keluarga yang sedang menderitanya. Meski tak eksplisit terekspresikan, namun kita bisa mengenali tanda-tanda depresi dari perubahan yang terjadi pada aktivitas rutin sehari-hari.




    Kehilangan minat pada hal yang disukai

    Ini merupakan tanda depresi yang bisa kita identifikasi paling awal, yaitu saat seseorang tak lagi menikmati aktivitas yang ia jalani sehari-hari. Baik itu kehilangan rasa tertariknya pada hobinya, atau pada kegiatan olahraga favoritnya, tak ingin bersosialisasi dengan teman-teman, hingga kehilangan gairah seks. Ini adalah tanda pertama yang paling bisa kita tinjau dari sebuah gejala depresi.


    Perubahan selera makan

    Ada dua tipe perubahan selera makan pada seseorang yang mengalami gejala depresi: Beralih makan banyak untuk menenangkan emosinya; atau justru kehilangan selera makan dan tak merasa lapar sampai makan sangat sedikit karena mood yang rendah. Kemudian kita pun bisa melihat dari berat badan yang dramatis berubah, baik itu pada berat badan yang naik atau malah menurun. Perubahan penampilan ini bisa meningkatkan tanda-tanda depresi karena mampu memengaruhi self-esteem seseorang. 



    Perubahan pola tidur

    Sama seperti dua tipe perubahan selera makan, gejala depresi juga bisa dilihat dari berubahnya pola tidur – entah itu jadi mengalami kesulitan lebih untuk tidur, atau malah tidur terlalu banyak dari biasanya. Mengutip dari National Sleep Foundation, orang-orang yang mengalami insomnia juga 10 kali lebih besar kemungkinannya menderita gejala depresi. Lantas kurangnya kualitas tidur pun bisa memicu anxiety, dan memperparah gejala depresi.


    Mudah marah atau merasa terganggu

    Terkadang, beberapa orang justru menyembunyikan depresi mereka dengan menunjukkan rasa marah atau merasa terganggu, alih-alih menunjukkan ekspresi sedih. Perubahan mood yang tiba-tiba ini bukanlah hal yang biasa terjadi, lho, ini adalah tanda dari gejala depresi yang diam-diam ditekan dan tak diekspresikan.


    Sulit konsentrasi dan fokus

    Jika seseorang tidak fokus saat sedang berbincang, ataupun kehilangan konsentrasinya saat sedang melakukan sesuatu, ini bisa menjadi salah satu gejala dari depresi yang bisa kita lihat. Produktivitasnya pun menurun, dan ia menjadi sulit untuk menjalani kehidupan profesional serta personalnya. 




    Tidak optimis bahkan tak melihat harapan

    Kecenderungan sikap pesimis yang berangsur muncul itu bisa jadi salah satu tanda depresi, karena ia menjadi lebih realistis dan akurat dalam mengkaji sesuatu atau peristiwa yang ada pada kontrolnya. Ia cenderung memiliki visi negatif terhadap masa depan, atau bahkan bisa terwujud lewat self-hate dan rasa tak berharga dalam diri, seperti mengungkapkan kata-kata, “Ini semua salahku,” atau, “Apa gunanya?”.



    Terpaksa tampak bahagia

    Beberapa orang dengan gejala depresi justru memasang tampang bahagia di wajahnya saat sedang bersama dengan teman-teman atau keluarganya. Padahal inilah yang disebut dengan ‘smiling depression’ dan cukup sulit untuk menandainya. Tapi perhatikan baik-baik, terkadang topeng wajah bahagia tersebut bisa terlepas, dan ekspresi sedih, tak berdaya, serta kesepian akan bisa terdeteksi.


    Apa yang bisa kita lakukan selanjutnya?

    Selain mengedukasi diri tentang tanda-tanda depresi dan mengidentifikasinya, jangan pangkas hubungan dengan orang lain, karena ini saatnya terhubung dengan orang-orang yang disayangi. Namun jika masih berat, coba dorong diri untuk menjangkau bantuan dari terapis, semisal secara online seperti dari aplikasi Riliv, ataupun menemui terapis di kehidupan nyata untuk kasus depresi yang lebih besar. Yang perlu diingat, reach out for help bukan berarti ada yang salah dari kualitas ataupun nilai diri seseorang, namun ini berarti seseorang mencintai dirinya ('cause you should love yourself!) dan kesehatan mentalnya, dan hanya butuh waktu serta ruang untuk pulih kembali.



    Coba juga depression self-test dari tautan ini untuk membantu mengidentifikasi warning signs, hingga membantu untuk pengambilan langkah selanjutnya, mulai dari sesederhana kiat self-care sampai penyelesaian masalahnya.


    (Givania Diwiya / Image: Pexels.com)