Better You

Hobi Astrologi? Hati-hati Terjebak "Spiritual Bypassing"!

  by: Alexander Kusumapradja       6/7/2020
    • Ketika kita terobsesi pada astrologi dan menjadikannya sebagai pedoman hidup utama, kita riskan terjebak dengan yang namanya “spiritual bypassing.”
    • Spiritual bypassing adalah sikap menjadikan praktik spiritual seperti astrologi sebagai pelarian dari masalah hidup dan perawatan yang lebih logis seperti terapi.




    Membaca astrologi alias ramalan bintang merupakan sebuah rutinitas yang mungkin telah kita lakukan sejak lama dan turut berkembang seiring zaman. Dari yang awalnya cuma membaca kolom astrologi di majalah atau di tayangan televisi, kini kita semakin mudah mengaksesnya lewat berbagai aplikasi astrologi seperti Co—Star dan The Pattern. Kalau dulu kita mungkin hanya tahu zodiak berdasarkan tanggal lahir kita alias sun sign, sekarang kita sudah familiar dengan istilah-istilah astrologi yang lebih kompleks seperti cardinal sign, ascendant, retrograde, dan masih banyak istilah lainnya yang turut dipopulerkan oleh beberapa social media influencer sebagai konten.

    Bagi banyak orang, membaca astrologi mungkin seperti sebuah kebiasaan yang murni cuma sekadar sesuatu yang fun dengan mindset untuk ambil yang positifnya saja. Kalau ramalannya bagus, hal itu bisa menjadi motivasi dan mood booster, sementara kalau ramalannya buruk, ya tak usah terlalu dipercaya.

    Namun, bagaimana dengan mereka yang terobsesi pada astrologi dan benar-benar menjadikannya sebagai pedoman hidup hingga memengaruhi mood dan sisi psikologis mereka? Bila sudah dalam tahap obsesif, beberapa orang bahkan menjadikan astrologi sebagai “pelarian” dari masalah yang mereka hadapi, baik secara sadar maupun tidak. Dalam bidang psikoterapi, sifat menghindari masalah melalui praktik spiritual seperti astrologi ini punya istilah tersendiri, yaitu “spiritual bypassing.” Berikut adalah penjelasan singkat tentang apa itu “spiritual bypassing”, gejalanya, dan kenapa hal ini bisa berbahaya bagi kita.

    Pengertian Spiritual Bypassing

    Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada pertengahan 1980-an oleh seorang psikoterapis terkenal bernama John Welwood yang menggunakan istilah ini untuk menyebut perilaku dan kebiasaan seseorang yang menggunakan praktik dan ide spiritual (termasuk astrologi, menganalisa chart kelahiran, membaca tarot, dan bentuk ramalan lainnya) alih-alih pergi ke psikolog untuk menghadapi luka psikologis. Psikoterapis lainnya, Annie Wright menyimpulkan istilah ini sebagai “menggunakan prinsip atau ide spiritual untuk menghindar dari masalah-masalah emosional yang belum selesai dan menghadapi bagian atau trauma paling menyakitkan dari diri kita.”

    Trauma sendiri sifat dan skalanya sangat personal bagi setiap orang. Dari mulai pelecehan seksual, keluarga yang tak harmonis, putus cinta, dikhianati orang terdekat, dipecat, kegagalan finansial, dan lain-lain. Apa yang menurut orang lain masalah sepele, namun bagi orang tersebut, hal itu bisa menjadi trauma yang menggerogoti mereka dari dalam.

    Spiritual bypassing dengan menggunakan astrologi berarti usaha menghindari trauma dengan bantuan astrologi seperti membaca horoskop untuk menjelaskan kenapa kita mengalami “kesialan” dan nasib buruk dibanding melakukan introspeksi dan mencari tahu kenapa kita mengalaminya. Alih-alih berpikir kenapa kita merasa mudah emosi dan mengalami mood yang naik-turun seperti roller coaster, kita dengan gampang tinggal bilang, “Ah ini pasti gara-gara lagi Mercury retrograde.” Atau misalnya saat kamu mengalami konflik dengan pasangan, bukannya membahas masalah tersebut dengan jernih, kamu hanya menyalahkan ketidakcocokan kalian karena zodiak yang kalian punya.

    Tanda-tanda Spiritual Bypassing

    Menurut Wright, ada beberapa cara bagaimana spiritual bypassing mewujud dalam keseharian kita:

    - Menahan rapat-rapat memori dan pengalaman yang menyakitkan

    - Menekankan pada sisi positif dan hanya berfokus pada hal-hal yang dianggap “baik”

    - Menghindari rasa marah atau bahkan takut pada emosi marah (fobia kemarahan)

    - Mati rasa secara emosi

    - Men-judge orang lain yang mengungkapkan emosi negatif

    - Mengklaim atau delusi telah mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi dari orang lain

    - Terobsesi dengan hal-hal berbau spiritual dibanding benar-benar menjalani hidup di dunia nyata dengan segala pengalaman pahit dan manisnya


    Astrologi bukanlah alat atau kunci jawaban bagi kita untuk lari dari masalah, namun bukan berarti astrologi bersifat negatif. Prinsipnya adalah apapun yang berlebihan seringkali tak baik untuk kita, termasuk dalam hal percaya astrologi. Bila disikapi dengan sehat, astrologi berguna sebagai alat untuk membangun mindset saat kita menjalani hari dan mengintropeksi hidup kita. Astrologi harusnya lebih sebagai inspirasi, bukan solusi bagi masalah dalam hidup kita. Banyak yang akhirnya lebih percaya pada omongan ahli astrologi dan menanyakan pertanyaan yang lebih tepat ditanyakan pada profesional lain seperti dokter, terapis, atau bahkan diri mereka sendiri.



    Ahli astrologi yang profesional biasanya menjelaskan kalau peran mereka lebih sebagai interpretasi dan bukan mengarahkan kita harus melakukan apa secara detail, namun coba ingat deh, seberapa sering kita benar-benar berkonsultasi dengan ahli astrologi secara langsung dibanding dengan membaca ramalan bintang melalui media sosial dan aplikasi? Tanpa adanya orang yang bisa mengingatkan dan membimbing kita secara langsung, akan lebih mudah bagi kita untuk membentuk hubungan kurang sehat dengan astrologi dan menginterpretasikannya sesuai kenyamanan kita sendiri.

    Apakah Kamu Mengalami Spiritual Bypassing?

    Spiritual bypassing terjadi ketika kamu mengandalkan astrologi untuk mengatur sikap dan keputusan penting dalam hidup dibanding melakukan introspeksi atau berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih profesional.

    Beberapa pertanyaan yang bisa kamu tanyakan ke diri sendiri terkait spiritual bypassing adalah:

    - Apakah kamu merasa kamu memegang kendali dalam hidupmu atau justru merasa hidupmu disetir oleh hal-hal lain seperti pergerakan planet, bintang, dan obyek astrologi lainnya?

    - Apakah kamu terobsesi membaca horoskop yang berbeda-beda sampai menemukan satu yang berisi kalimat yang ingin kamu dengar dan percaya?

    - Apakah kamu merasa hidupmu stagnan meskipun kamu telah terbiasa memakai astrologi sebagai panduan hidup?

    - Apakah kamu menyalahkan semua emosi negatif pada ramalan bintang dan pergerakan benda-benda langit?

    - Apakah kamu merasa membaca horoskop dapat membuatmu melupakan masalah dengan cepat?

    - Apakah kamu merasa perlu mengumumkan ke orang banyak bahwa hidupmu telah terbantu dan banyak masalah yang teratasi karena kamu selalu membaca ramalan bintang dan memerhatikan fenomena astrologi?

    Hal ini mungkin terdengar sepele, tapi spiritual bypassing dengan menggunakan astrologi pada intinya adalah mekanisme defensif untuk melindungi diri dari rasa sakit, namun hal ini bisa membuat kita menghindari sebisa mungkin rasa sakit yang berkaitan dengan sebuah trauma dan membuat kita tak bisa move on atau sembuh dari trauma tersebut. Akibatnya? Trauma tersebut akan terus menghantui kita dan bisa muncul sewaktu-waktu.

    Solusi dari Spiritual Bypassing

    Solusi paling utama dalam menghadapi trauma adalah melakukan introspeksi. Kita harus melihat ke dalam diri kita sendiri dan mengenali semua emosi baik yang positif maupun negatif sebagai proses penyembuhan luka dibanding mencari pelarian dari luar untuk meredakan (namun tak menyembuhkan) rasa sakit tersebut. Dibanding menggunakan astrologi sebagai distraksi, kita sebaiknya mencari tenaga profesional yang bisa membantu kita memahami masalah emosional tersebut.

    Berkonsultasi dengan psikolog dan ahli terapi bisa membimbing kita memroses trauma dengan lebih tepat, namun bukan berarti kita harus meninggalkan astrologi sepenuhnya. Kita bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut sebagai dua hal yang saling melengkapi untuk mempercepat proses penyembuhan bila kamu merasa astrologi masih berguna membantumu melakukan introspeksi dengan cara yang positif. Psikolog yang ideal adalah yang tak serta-merta menuntutmu membuang konsep astrologi sepenuhnya, namun justru membantumu memiliki hubungan yang lebih sehat dengan astrologi.

    Dalam konsep tentang spiritual bypassing, masalah utamanya bukanlah praktik spiritual itu sendiri karena praktik tersebut juga bisa menjadi sarana untuk mempercepat proses penyembuhan. Masalah utamanya adalah ketika orang menggunakan praktik spiritual tersebut sebagai satu-satunya solusi atau menggantikan perawatan yang lebih profesional dan bisa dipertanggungjawabkan.


    (Alexander Kusumapradja/Image: Allef Vinicius on Unsplash )