Better You

5 Alasan Kurangi Asupan Gula Untuk Melawan Depresi

  by: Alexander Kusumapradja       8/7/2020
    • Para peneliti percaya pilihan menu makanan bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan depresi dan kecemasan. Mengurangi asupan gula adalah salah satu kuncinya.
    • Konsumsi gula berlebih tak hanya berisiko negatif bagi kesehatan tubuh namun juga mental.




    Bagi beberapa orang, mengonsumsi makanan atau minuman manis yang mengandung kadar gula tinggi bisa menjadi mood booster instan ketika mereka merasa down atau mengalami gejala depresi dan serangan cemas (anxiety). Sayangnya, banyak yang belum tahu bila gula sebetulnya diasosiasikan sebagai pelarian yang tidak sehat bagi pengidap depresi dan anxiety karena dapat meningkatkan risiko mood disorder. Konsumsi gula yang tinggi juga dapat mengakibatkan peradangan pada jaringan tubuh yang gejalanya berhubungan dengan depresi seperti kehilangan nafsu makan, gangguan pola tidur, dan rentan pada rasa sakit.

    Berikut adalah beberapa alasan kenapa konsumsi gula yang berlebihan tak hanya berakibat negatif pada kesehatan tubuh, tapi juga kesehatan mental:


    1. Gula dapat memengaruhi mood kita.

    Kamu mungkin pernah mendengar atau mengalami “sugar rush”, yaitu perasaan punya energi lebih setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis yang mengandung gula. Beberapa orang merasa mengonsumsi gula dapat memberikan mereka energi lebih dan membuat mereka lebih riang sehingga menjadikannya sebagai kebiasaan, namun beberapa penelitian menemukan fakta bahwa konsumsi gula tak benar-benar punya manfaat positif bagi mood. Bahkan sebaliknya, riset baru-baru ini menemukan bahwa konsumsi gula yang tinggi meningkatkan risiko mood disorder bagi pria maupun wanita. Riset di tahun 2019 lalu mengungkapkan bahwa konsumsi pemanis dan lemak yang tinggi secara teratur berhubungan erat dengan perasaan cemas yang dialami orang dewasa di atas usia 60 tahun.

    2. Gula mampu mengurangi kemampuan kita menghadapi stres.

    Menyantap makanan manis mungkin membuatmu merasa lebih tenang dan lebih bahagia, namun hal itu sebetulnya karena gula memang dapat melemahkan kemampuan tubuh untuk merespons stres dengan cara menekan bagian hypothalamic pituitary adrenal (HPA) pada otak yang mengontrol reaksi kita menghadapi stres. Penelitian di University of California pada 19 orang wanita mengungkap gula dapat menghalangi produksi kortisol (hormon stres) dan meminimalkan sensasi rasa cemas dan tegang. Namun, hal itu juga yang akhirnya membuat tubuh kita seakan ketagihan gula dan bila dituruti akhirnya menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius pada tubuh.



    3. Gula dapat meningkatkan risiko depresi.

    Setelah kejadian yang kurang menyenangkan atau hari yang melelahkan, mengonsumsi makanan manis yang menjadi comfort food mungkin bisa membuat mood kita terasa lebih baik, tapi siklus mengonsumsi gula untuk memperbaiki emosi kita malah bisa memperparah perasaan sedih, lelah, dan putus asa yang kita rasakan. Konsumsi gula yang berlebihan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan pada kerja otak yang lantas mengakibatkan depresi. Sebuah riset tahun 2017 menganalisa konsumsi gula dari sekitar 23 ribu orang dan menemukan data bahwa mereka yang mengonsumsi 67 atau lebih gram gula per hari (sekitar 17 sendok teh gula atau sekitar dua kaleng Coke) memiliki risiko 23 persen lebih tinggi untuk terserang depresi atau kecemasan dibanding mereka yang hanya mengonsumsi sekitar 40 gram (10 sendok teh) gula per hari.

    4. Gula dapat menimbulkan sensasi ketagihan di otak.

    Sering merasa craving makanan dan minuman manis? Well, sebuah penelitian mengungkap bahwa rasa manis pada gula dapat menimbulkan sensasi kenikmatan pada otak yang lebih tinggi dari kokain, yang artinya sensasi tersebut dapat menimbulkan efek ketagihan dan membuat otak kita mengirim sinyal untuk mencari rasa manis di mulut kita karena itu mengurangi asupan gula bukan hal mudah bagi mereka yang memang terbiasa atau menyukai makanan dan minuman manis. Berhenti mengonsumsi gula secara mendadak dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti rasa cemas, mudah terganggu, pusing, dan lelah. Karena itu, bagi mereka yang mengidap anxiety dan terbiasa mengonsumsi gula sebagai mood booster, yang disarankan adalah mengurangi gula secara perlahan dibanding langsung berhenti mengonsumsi sama sekali yang dapat menimbulkan sensasi seperti panic attack.

    5. Konsumsi gula berlebih dapat memperlemah otak.

    Pernah merasakan food coma setelah mengonsumsi makanan full course dengan dessert manis atau setelah menyantap makanan manis terlalu banyak? Riset di tahun 2015 mengungkap bahwa konsumsi minuman dengan pemanis dapat menghambat fungsi kognitif otak seperti memori dan kemampuan membuat keputusan. Studi lain yang melibatkan responden berusia 20 tahunan dengan kondisi fisik yang sehat menemukan hasil tes memori dan kemampuan mengontrol pola makan mereka jauh berkurang setelah menjalani diet yang tinggi lemak dan gula selama 7 hari.

    Apapun yang berlebihan memang cenderung tidak baik, termasuk gula. Walaupun konsumsi gula berlebih memiliki banyak efek negatif pada kesehatan jasmani dan mental, namun bukan berarti kamu tak boleh sama sekali mengonsumsi gula.

    Selain menggunakan alternatif pemanis yang lebih sehat, salah satu pola diet yang bisa dicoba adalah DASH diet yang memang berfokus mengurangi asupan gula. Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) adalah diet yang tujuan utamanya mengurangi risiko hipertensi alias darah tinggi dengan cara mengurangi asupan garam dan gula dengan pola makan yang berfokus pada gandum, sayur, buah, protein dari ayam, ikan, dan kacang, produk susu low-fat dan nonfat, serta membatasi konsumsi pemanis. 


    (Alexander Kusumapradja/Image: Dainis Graveris on Unsplash )