Better You

Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Hoarding Disorder

  by: Alexander Kusumapradja       14/7/2020
    • Hoarding disorder adalah perilaku menimbun barang secara obsesif hingga menjadi gangguan psikologi yang menimbulkan berbagai masalah baik bagi sang pengidap maupun orang sekitar.
    • Tergolong baru dipelajari, masih banyak yang belum paham dan harus diketahui tentang kondisi kejiwaan ini .


    Beberapa waktu lalu, Cosmo melihat sebuah kicauan di Twitter yang menampilkan foto-foto kamar yang dipenuhi berbagai macam benda baik yang mungkin penting hingga yang jelas-jelas sampah. Saking banyaknya, semua benda itu terasa menutupi semua sudut kamar, termasuk tempat tidur, sehingga suasananya nyaris seperti gudang. Kamu mungkin sulit membayangkan ada orang yang bisa hidup dan beraktivitas di antara tumpukan sampah tersebut dan heran kenapa mereka tidak dengan sadar membersihkan kamar dan membuang barang-barang itu demi alasan apapun. Well, faktanya ada sebagian orang yang mengalami compulsive hoarding disorder alias gangguan psikologis untuk menimbun barang. Hal yang kita pikir mudah atau sudah seharusnya tersebut menjadi hal yang sulit bagi mereka dan tidak sesederhana yang kita pikirkan. Berikut semua yang perlu kamu tentang hoarding disorder ini.



    Apa itu hoarding?

    Hoarding alias menimbun adalah pola perilaku yang dicirikan dengan mengumpulkan barang-barang terlepas penting atau tidaknya dan keengganan atau kesulitan untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang tersebut yang pada akhirnya menyebabkan barang-barang tersebut terus menumpuk dan menimbulkan efek negatif mulai dari kesehatan emosional, fisik, sosial, finansial, hingga legal baik bagi si pengidap maupun orang-orang terdekatnya.

    Barang-barang yang biasanya dikumpulkan sangat beragam, namun yang paling umum adalah tumpukan majalah atau koran, kantung-kantung plastik, sisa makanan, kardus, foto, alat-alat rumah tangga, makanan, dan pakaian. Seringkali barang yang dikumpulkan sebetulnya memang tidak berharga atau yang jelas-jelas sampah yang seharusnya dibuang, namun perilaku ini juga sering berkaitan dengan kebiasaan membeli barang secara kompulsif, mengumpulkan barang-barang gratis seperti selebaran atau pamflet, atau mengumpulkan barang-barang yang dianggap unik meskipun bagi orang lain tidak penting (seperti kantung plastik, tutup botol, dll).


    Kapan istilah ini muncul?

    Peneliti telah mengenali fenomena ini sejak tahun 1980-an, namun baru beberapa tahun ini makin serius mempelajarinya. Fenomena hoarding dan para pengidapnya (hoarder/penimbun) menjadi populer di kalangan umum ketika kanal televisi A&E di Amerika memproduksi reality show berjudul Hoarders yang menceritakan perjuangan dan perawatan orang-orang yang mengalami kondisi psikologis tersebut. Dimulai dari tahun 2009, acara ini sudah berlangsung selama 121 episode hingga hari ini. Episodenya biasanya menceritakan tentang keadaan seorang hoarder dan bagaimana mereka menghadapi konsekuensi dari perilaku tersebut, mulai dari terasing dari kehidupan sosial, perceraian, tejerat utang, kehilangan hak asuh anak, gangguan kesehatan, hingga risiko yang membahayakan jiwa. Setelah mengetahui kondisi tersebut, acara ini akan melakukan intervensi yang melibatkan para tenaga ahli seperti psikolog, pakar kebersihan, dan tim yang membersihkan rumah mereka.


    Apakah hoarding termasuk gangguan psikologis?

    Hoarding sendiri pada awalnya diklasifikasikan sebagai gejala dari Obsessive Compulsive Disorder (OCD) karena memang menunjukkan gejala yang berkaitan dengan perilaku obsesif dan kompulsif dalam mengumpulkan barang. Namun, gangguan ini juga menunjukkan gejala yang berkaitan dengan gangguan depresi mayor dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Baru ketika Asosiasi Psikiatris Amerika merilis Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Edisi Kelima di tahun 2013 hoarding diklasifikasikan ke dalam kategori sendiri. Tingkat penderitanya diperkirakan sekitar 2 sampai 5 persen orang dewasa di Amerika. Perilaku ini bisa mulai terlihat di usia remaja, namun gejalanya bisa makin parah di usia dewasa atau lanjut, terutama bila mereka mulai tinggal sendiri dan tak ada orang dekat yang bisa membantu mereka. Perilaku ini lebih umum ditemukan pada mereka yang mengalami gangguan psikologis seperti depresi, anxiety, dan ADHD. Beberapa faktor lain yang juga berkaitan dengan hoarding adalah paranoid, ketergantungan alkohol, skizofrenia, dan menghindari interaksi sosial (avoidant).


    Apa saja gejala hoarding disorder?

    Pengidap gangguan ini biasanya menunjukkan gejala:

    - Ketidakmampuan atau rasa enggan membuang barang

    - Kecemasan yang kuat ketika berusaha membuang barang atas keinginan sendiri atau permintaan orang lain



    - Kesulitan mengategorikan atau merapikan barang

    - Merasa malu dan terkepung oleh barang

    - Perasaan curiga atau paranoid ketika orang lain menyentuh barang mereka

    - Pikiran dan sikap obsesif seperti takut kehilangan barang atau perasaan bahwa mereka akan membutuhkan barang tersebut pada saatnya, mencari-cari suatu barang yang tak sengaja terbuang

    - Gangguan fungsi seperti kehilangan tempat tinggal yang layak, isolasi sosial, konflik dalam hubungan keluarga, masalah finansial, dan ancaman kesehatan

    Apa alasan orang untuk menimbun?

    Orang biasanya menjadi penimbun karena mereka percaya sebuah barang akan berguna atau berharga di masa depan. Atau mereka merasa ada nilai-nilai kenangan yang unik dan tak tergantikan dari barang tersebut karena alasan nostalgia. Banyak juga yang merasa sebuah barang adalah pengingat dari sebuah momen atau sosok orang yang berharga dalam hidup mereka. Ada beberapa orang yang mengalami hoarding disorder setelah mengalami trauma kehilangan orang tersayang dan mengakibatkan mereka menyimpan barang-barang yang berhubungan atau mengingatkan pada orang tersebut. Sayangnya, hal itu kemudian menjadi kebiasaan dan menyebar ke aspek hidup lainnya dan pada akhirnya membuat pengidap merasa tak sanggup berpisah dengan barang-barang mereka karena rasa sakit akibat trauma kehilangan tersebut.

    Apa bedanya menimbung dan mengoleksi barang?

    Banyak hoarder yang merasa bahwa mereka sebetulnya mengoleksi suatu barang dan tak mau dianggap hanya menimbun. Beberapa hoarder mungkin punya suatu barang kesayangan yang terus dikumpulkan seperti misalnya jam dinding, namun bedanya dengan mereka yang betulan kolektor jam dinding adalah hoarder biasanya asal meletakkan jam dinding mereka di sembarang tempat dan tanpa pertimbangan apapun sementara kolektor akan memamerkan koleksi mereka dengan pertimbangan dan terorganisir. Kolektor pun punya rasa bangga untuk memamerkan koleksi mereka atau membahasnya dengan orang lain dan punya kontrol serta perencanaan finansial, sementara hoarder pada umumnya justru sebetulnya merasa minder dan tak mau kondisi mereka diketahui orang lain. Seringkali bagi hoarder, mengumpulkan barang baru sudah bukan lagi tentang rasa bahagia, tapi untuk tetap bertahan hidup meskipun mereka sebetulnya menyadari hal itu salah dan membuat mereka pada akhirnya makin depresi dan lari dari kenyataan.

    Penanganan untuk pengidap?

    Banyak pengidap hoarding disorder yang tak merasa perilaku ini bermasalah. Dalam sebuah riset, hanya sekitar 42% pengidap hoarding yang merasa perilaku ini memang bermasalah. Akibatnya banyak yang tak bisa lepas dari perilaku ini, namun bukan berarti tak ada penanganan yang patut dicoba. Untuk saat ini, yang paling disarankan adalah Cognitive-behavioral Therapy (CBT). Profesor dari Boston University mengembangkan 26 sesi CBT yang difokuskan untuk hoarding disorder dengan materi seperti terapi kognitif untuk mengubah pandangan pengidap tentang kegiatan menimbun, latihan mengurangi kelebihan barang, latihan membuang barang, melatih kemampuan mengorganisir barang dan tetap fokus pada target, dan diskusi motivasional untuk membantu pengidap tetap fokus.

    Inti dari latihan CBT ini adalah membantu pengidap belajar mengategorikan, membuat rencana, dan menyelesaikan masalah. Mulai dari satu barang ke barang lainnya dan menentukan mana yang mau disimpan dan mana yang harus dibuang sehingga lambat-laun mereka mulai terbiasa dengan perasaan gelisah ketika harus membuang sebuah barang. Latihan decluttering (membersihkan rumah dari barang tak dibutuhkan) bersama para pakarnya pun mulai menjadi pertimbangan khusus bagi pengidap gangguan ini.

    Apa tantangan dari hoarding disorder?

    Karena tergolong baru, masih banyak yang belum diketahui penanganan yang paling optimal untuk hoarding disorder dan banyak penelitian yang masih harus dilakukan oleh para ahli. Belum banyak psikolog yang secara khusus memahami soal gangguan ini. Begitu pun kenyataan bahwa banyak pengidap yang tak punya kemampuan finansial untuk mengakses bantuan psikologis dan menghadapi stigma sosial. Intervensi dari lingkungan terdekat mungkin perlu, namun banyak yang belum memahami hal ini sebagai gangguan psikologis dan akibatnya hanya makin mempermalukan dan memperparah kondisi psikis sang pengidap.


    (Alexander Kusumapradja/Image: Darwin Vegher on Unsplash )