Lifestyle

Mengenal Subak Bali, Warisan Budaya Dunia UNESCO

  by: Fariza Rahmadinna       17/7/2020
  • Pada tahun 2012, sistem subak di Bali masuk sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Untuk memperingati subak sebagai salah satu budaya dunia, Google Doodle sempat menampilkan ilustrasi hamparan sawah di Bali yang dikenal dengan nama subak. Lantas, apa itu subak Bali? Secara keseluruhan, subak merupakan sistem irigasi untuk mengairi sawah-sawah. Namun sebenarnya, subak bukan hanya sistem irigasi saja, tetapi juga mengacu pada tradisi budaya dan agama. Untuk mengetahui lebih lanjut, simak artikel ini di bawah ini.


    Apa itu Subak?




    Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, subak di Bali bukan hanya sekedar sistem irigasi sawah secara tradisional saja, melainkan juga mengacu pada tradisi budaya dan agama. Melansir dari laman UNESCO, sistem subak memegang teguh filosofi kuno 'Tri Hita Karana' yang berakar pada filsafat Hindu dan diartikan sebagai ‘Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan’; yaitu harmoni antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), harmoni antara manusia dengan sesamanya (pawongan), dan harmoni antara manusia dengan alam lingkungannya (palemahan).


    Dijelaskan lebih lanjut, dalam Jurnal Kajian Bali tahun 2015 Universitas Udayana, untuk aspek parahyangan, para petani akan melakukan berbagai ritual di Pura Subak dan pura lain yang berkaitan dengan subak. Selain itu, para petani juga akan melaksanakan kegiatan ritual di lahan sawahnya masing-masing. Untuk aspek pawongan, disusunlah peraturan subak (awig-awig), yang merinci hak dan tanggung jawab keanggotaan agar tercipta harmoni pada subak. Sementara itu, untuk aspek palemahan, dibuatlah sawah yang sesuai dengan kontur lahan, agar tidak merusak kontur lahan yang telah terbentuk secara alami.


    Menurut studi yang dilakukan oleh I Nyoman Norken, ritual ini biasa dilakukan dilakukan sebelum dan sesudah musim tanam berdasarkan kepercayaan agama Hindu di Bali, dengan tujuan untuk meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dimanifestasikan sebagai Dewa Wisnu (pemelihara kehidupan dalam bentuk air) dan Dewi Sri (Dewi Kesuburan) keberkahan dan hasil yang berlimpah, serta untuk mengucapkan terima kasih selama musim tanam.


    Secara umum, organisasi subak bertujuan untuk mengontrol pembagian air dari satu petak sawah ke petak sawah lainnya secara adil dan merata. Selain itu, organisasi subak juga bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan daerah aliran sungai, melakukan pemeliharaan infrastruktur irigasi, jalan pertanian, penentuan pola tanam, persiapan lahan dan penjadwalan tanaman.


    Sejarah Subak Pada Masa Lampau


    Keberadaan subak diperkirakan telah ada sejak 881 M. Berdasarkan beberapa temuan dalam Prasasti Trunyan, Prasasti Bebetin dan Prasasti Raja Purana, dapat disimpulkan bahwa pada tahun 1071 M di Bali telah terbentuk sistem organisasi yang mengatur sistem irigasi sawah yang dikenal dengan nama subak. Hingga saat ini subak masih secara konsisten mempertahankan keberlanjutan pengelolaan irigasi tradisional dan pengoperasian sistem irigasi.




    Penetapan Subak Di Bali sebagai Warisan Budaya Dunia


    Subak Jatiluwih adalah subak yang mendapat predikat sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2012, karena terbilang masih asli dan asri, serta masih menjunjung tinggi aturan tradisional dalam melestarikannya.


    Melansir dari laman Kebudayaan Kemendikbud, Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) akhirnya telah menyetujui dan menetapkan subak di Bali sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 29 Juni 2012 dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di kota Saint Petersburg, Federasi Rusia. Penetapan sebagai warisan budaya dunia ini disambut baik oleh pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia.


    Google Doodle Peringati Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia




    Pada tanggal 29 Juni 2020, Google Doodle menampilkan ilustrasi hamparan sawah di Bali yang dikenal dengan subak untuk memperingati hari ditetapkannya subak sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Diketahui, ilustrasi subak dalam Google Doodle adalah Subak Jatiluwih yang berlokasi di Jatiluwih, Tabanan, Bali. Dalam doodle tersebut terlihat hamparan sawah berwarna hijau yang membentuk kata ‘Google’ dan sejumlah burung di atasnya. Di sisi kiri, tampak seorang petani yang tengah duduk di gubuk sambil memakai caping dan masker wajah. Menurut keterangan di laman Google Doodle, ilustrasi subak tersebut merupakan karya ilustrator asal Indonesia, Hana Augustine. Melalui Instagramnya, Hana mengungkapkan bahwa karyanya ini ia dedikasikan untuk para petani yang telah bekerja keras menjaga warisan budaya bangsa, karena baginya warisan budaya ini tidak dapat bertahan tanpa kerja keras para petani.



    (Fariza Rahmadinna / VA / Image: Dok. Rennon Kiefer from Pexels)