Better You

Hustle Culture: Gaya Hidup Gen Z dan Milenial yang Berbahaya

  by: Redaksi       10/7/2021
  • “Berhenti lah saat kamu sudah selesai, bukan saat kamu lelah.”

    Cosmo, dan banyak orang lain di luar sana, percaya bahwa kesuksesan akan datang pada mereka yang bekerja keras. Maka, jika berdasarkan prinsip tersebut, untuk menjadi lebih sukses seseorang harus bekerja sangat keras. Kebiasaan ini sampai di titik di mana kita akan merasa gelisah jika tidak mengerjakan sesuatu meskipun memang sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan. Pandemi COVID-19 pun ikut menambah tekanan ini karena banyak yang beranggapan bahwa dengan sistem kerja jarak jauh maka seharusnya kita bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dari biasanya.

    Saya melihat teman-teman saya yang berkuliah sambil magang di dua tempat dan bekerja sebagai seorang freelance. Dari luar, banyak yang mengagumi betapa keras ia bekerja, mengembangkan skill, dan memperbanyak pengalaman. Tapi, dilihat dari sisi lain, sisi ketika ia tidak pernah tidur sebelum jam 3 pagi, melewatkan jam makannya untuk tetap bekerja, atau tidak pernah beristirahat untuk sekadar menonton satu episode Netflix atau video call dengan temannya, kenapa kita mengagumi suatu hal yang jelas-jelas tidak baik untuk diri kita?

    Begitulah sedikit gambaran dari hustle culture, sebuah gaya hidup yang sering diterapkan oleh kalangan muda yang meng-glorifikasi tindakan “gila kerja” sampai rela mengorbankan waktu istirahat.




    Perbedaan Hustle Culture dengan Bekerja Keras

    Secara sekilas, hustle culture terlihat seperti sesuatu yang memotivasi. Untuk sebagian orang, menerapkan hustle culture dapat mengantarkannya ke promosi jabatan atau mendapat lebih banyak uang dengan cepat. Tapi, ada sedikit perbedaan dari menerapkan hustle culture dengan bekerja keras biasa. Orang yang mengaplikasikan hustle culture dalam hidupnya biasanya akan:


    • Bekerja lembur hampir setiap hari.
      Membanggakan fakta bahwa dia tidak mendapat waktu tidur yang cukup dan banyak bekerja.
      Mengaku lelah tapi tetap memaksakan diri untuk bekerja.
      Menyebutkan berapa banyak kopi atau minuman berenergi lain yang ia konsumsi agar tetap terbangun untuk bekerja.
      Percaya bahwa beristirahat merupakan sesuatu yang tidak produktif dan hanya membuang-buang waktu.

    Di sini lah perbedaan hustle culture dengan bekerja keras. Meski memotivasi, hustle culture bersifat toxic. Hustle culture “menjual” kesuksesan dengan menyelesaikan pekerjaan sebanyak mungkin. Padahal, hal ini bisa mengarah pada kesehatan mental yang rendah, peningkatan rasa gelisah, dan depresi.


    Alasan Mengapa Begitu Banyak Orang Terjebak di Hustle Culture

    Sampai sini mungkin kamu berpikir “Kalau memang seburuk itu, kenapa banyak sekali orang yang masih menerapkannya?” Salah satu alasan yang paling sederhana adalah: Budaya ini sudah mendarah daging di kalangan muda dan perusahaan-perusahaan yang memiliki fast-paced working environment. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh The Finery Report, diketahui bahwa hampir 70 persen responden mengaku hampir setiap minggu menggunakan akhir pekan untuk bekerja dan 60,8 persen merasa bersalah jika tidak bekerja lembur. Terkait rata-rata jam kerja per Minggu, sebagian besar menghabiskan 75-80 jam per minggunya untuk bekerja, dua kali lebih tinggi dari jadwal kerja pekerja penuh waktu yang seharusnya 37-40 jam per-minggu. Belum lagi dengan adanya sosial media yang membantu mempromosikan konsep “bekerja keras” melalui kutipan kalimat-kalimat motivasi yang meyakinkan kita bahwa dengan bekerja secara terus-menerus maka kesuksesan akan datang dengan begitu saja.




    Menanggapi Hustle Culture

    Menolak hustle culture bukan sesuatu yang mudah. Terkadang, menyuarakan argumen terkait budaya ini akan membuat diri kita terlihat malas atau menghindar dari tantangan. Beberapa orang yang mengeluhkan hal ini ke kolega atau atasannya, alih-alih diberi solusi, akan mendapat respon sejenis: “Kalau kamu merasa terlalu banyak bekerja, mungkin itu artinya bahwa ini bukan tempatmu. Kamu tidak cocok untuk bekerja di sini.”

    Salah satu hal yang membuat hustle culture sangat toxic adalah kenyataan bahwa budaya ini hanya fokus pada masa depan dan tidak memperhitungkan saat ini. Orang-orang meninggalkan hobinya demi memenuhi kebutuhan pekerjaannya. Menolak untuk bertemu dan bersenang-senang dengan teman dan keluarga demi memuaskan klien. Seolah-olah kita harus memilih antara kehidupan dan pekerjaan. Maka dari itu, diperlukan adanya keseimbangan antara dua aspek tersebut atau sering dikenal dengan konsep “work-life balance.”

    Ketimbang bekerja keras, akan lebih baik jika kamu bekerja pintar. Artinya, dalam bekerja kamu juga memperhitungkan aspek lain dalam hidupmu seperti hubungan dengan orang lain dan kesehatan, baik fisik maupun mental. Dengan ini, kamu bisa terhindar dari perasaan burnout. Selain itu, kamu juga harus bisa membatasi diri. Kapan waktunya untuk bekerja dan kapan waktunya untuk istirahat. Untuk berhasil melakukan hal ini memang dibutuhkan pembiasaan dan perubahan pola pikir baik dari dirimu maupun tempat kamu bekerja. Tapi sudah seharusnya kamu tidak lagi merasa bersalah atau seperti dihakimi hanya karena mengambil waktu untuk beristirahat.


    (Nabila Nida Rafida / Image: Dok. Jordan Whitfield dan STIL on Unsplash)