Better You

Apakah Benar Vitamin D Menurunkan Risiko COVID-19? Ini Jawaban Ahli!

  by: Giovani Untari       7/7/2021
  • Munculnya pandemi secara global menimbulkan perdebatan apakah vitamin D yang biasa kita dapatkan dari minyak ikan, daging merah, kuning telur, dan tentu saja sinar matahari ikut membawa manfaat untuk menurunkan risiko Coronavirus dan tingkat keparahannya saat terserang penyakit tersebut?

    "Vitamin D dikenal sebagai molekul immunomodulator dan memiliki berbagai manfaat kesehatan. Di antaranya untuk pertumbuhan tulang dan penyerapan kalsium. Namun manfaatnya untuk mengurangi peradangan dan penyakit pernapasan sampai saat ini masih diperdebatkan. Para ahli pun memiliki opini yang berbeda-beda atas hal ini," ujar Dr Charu Dutt Arora, seorang dokter spesialis penyakit menular dan juga COVID Care Expert asal India.






    Vitamin yang larut dalam lemak memegang peranan penting dalam sistem imun tubuh manusia dan kekurangan nutrisi atas vitamin tersebut jelas akan berpengaruh pada respon imun pemiliknya. Hal ini juga bisa ikut meningkatkan risiko terserang infeksi dan penyakit. "Riset menunjukkan adanya teori antara kadar vitamin D yang rendah dikaitkan dengan peningkatkan risiko terserang seseorang terkena penyakit sistem pernapasan, seperti tuberculosis (TBC), asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (COPD). Termasuk penyakit pernapasan lainnya yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan menyebabkan penurunan fungsi paru-paru," tambah Dr Arvind Malik.


    Dalam studi terkini yang dilakukan oleh Nizam Institute of Medical Sciences, pemberian vitamin D (yang diberikan dengan dosis 60,000 IU selama 10 hari sesuai dengan Indeks Massa Tubuh pasien selama COVID-19) menunjukkan adanya peningkatan signifikan untuk membantu melawan inflamasi. Selain itu, beberapa peneliti juga menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kadar vitamin D rendah (kurang dari 20ng/ml) memiliki potensi 7,2% lebih tinggi untuk tertular infeksi COVID-19.  


    Studi lainnya menunjukkan pasien COVID-19 yang memiliki kadar vitamin D yang cukup dalam tubuh mereka, memiliki risiko lebih rendah untuk memiliki hasil medis yang lebih buruk dan risiko kematian. Pasien yang berusia di atas 40 tahun namun memiliki kadar vitamin D sekitar 51,5% juga jauh lebih kecil terkena efek penyakit yang berbahaya, termasuk hipoksia (rendahnya kadar oksigen di sel dan jaringan) serta kematian, dibanding pasien yang mengalami kekurangan vitamin D. 

    Selain itu, mereka yang mengonsumsi suplemen vitamin D secara rutin juga terbukti mengurangi angka kematian terutama pada orang tua yang berada dalam kategori berisiko tinggi terkena penyakit pernapasan seperti COVID-19.



    Kekurangan vitamin D dalam tubuh juga dipercaya meningkatkan potensi terserang badai sitokin- sebuah keadaan di mana reaksi imun membuat tubuh melepaskan sitokin ke dalam darah dalam jumlah yang terlalu cepat dan banyak. Sitokin sendiri merupakan protein yang memegang peranan pada fungsi sistem imun tubuh dan memiliki efek sebagai anti inflamasi. Badai sitokin dapat terjadi sebagai akibat dari infeksi, kondisi autoimun, atau penyakit lainnya. Ini juga dapat terjadi setelah perawatan imunoterapi. Pelepasan sitokin yang tak teratur dan terjadi secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang parah. Ini juga dapat memperparah kondisi suatu penyakit. 



    Faktanya lagi, kondisi badai sitokin juga bisa menjadi penyebab utama kegagalan beberapa organ tubuh dan terserang sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), serta ikut menjadi faktor penting dalam perkembangan dan tingkat keparahan COVID-19.



    Sementara riset mengenai hubungan antara vitamin D dan COVID-19 terus dilakukan oleh para ahli, bukti mengenai hubungan suplemen vitamin D yang bermanfaat untuk mengurangi risiko COVID-19 saat ini juga masih terbatas.

    Namun ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa vitamin D memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan sistem imun tubuh dan well-being. Satu hal yang harus diperhatikan, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter dan ahli gizi sebelum mengonsumi suplemen vitamin apapun termasuk vitamin D.

    Cara ini bertujuan agar kamu mendapat manfaat yang tepat dan sesuai dengan dosisi yang dibutuhkan tubuh. Hal tersebut juga berlaku sebelum kamu mengonsumsi obat-obatan apapun selama pandemi ini.




    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan India / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Giovani Untari / Images: Dok. Alex Green from Pexels, Anna Shvets from Pexels, Maksim Goncharenok from Pexels, Anastasia Shuraeva from Pexels)