Better You

Hal Yang Perlu Dilakukan Untuk Menjauh Dari Toxic Friendship

  by: Nadhifa Arundati       9/7/2021
  • Semakin bertambah usia, rasanya lingkaran pertemanan jadi semakin kecil – hanya beberapa orang saja yang bisa kita percaya dan diberikan label teman dekat. Meski demikian, tak menutup kemungkinan kalau masih ada teman terdekat kamu yang berperilaku merugikan alias toxic.

    Toxic friendship itu seperti apa sih?

    Melansir dari ahil psikiatri, Erin Leonard, Ph.D., toxic friendship merupakan kondisi pertemanan yang jauh dari kata dukungan dan perhatian. Dimana teman kamu diam-diam menganggapmu sebagai kompetitornya, dan tak pernah memberikan saran yang baik sebagaimana mestinya (malah ternyata membeberkan rahasia kamu ke orang lain) – namun giliran dia yang sedang bercerita, kamu dituntut untuk mendengarkan dan memberikan good advice. Sounds not right.

    Apakah ada cara terbaik untuk menjauh dari toxic friendship? Yes, Cosmo punya jawabannya. Yuk, simak hal apa saja yang harus kamu lakukan untuk menghadapi teman yang bersikap seperti ‘parasit’ ini.





    Dare to say 'no'

    Memang, kamu mungkin merasa tidak enak hati jika menolak permintaan temanmu yang membutuhkan pertolongan. Tapi jika temanmu ini terus-menerus membutuhkan saranmu tanpa menanyakan terlebih dahulu kondisimu (padahal sebenarnya kamu sedang sibuk atau justru kamu juga sedang butuh pertolongan) atau mengetahui kemampuan yang kamu miliki, well, kamu punya hak kok untuk menolak permintaannya. Semisal, sang sahabat meneleponmu untuk curhat soal pacarnya (lagi) di saat kamu sedang fokus menyelesaikan pekerjaan, kamu boleh lho, berkata, "Maaf, aku benar-benar sedang dikejar deadline, nanti dulu, ya." Atau Ia mengajakmu menemaninya ke tempat yang sebenarnya kamu kurang nyaman, sampaikan dengan jujur alasanmu dan tolak dengan lembut. Atau contoh lain sahabatmu selalu (yes, selalu) meminta bantuan kamu perihal finansial secara paksa – again, just say NO. Jangan takut di-cap sebagai teman yang pelit, karena kamu bukan "ATM berjalan".


    Set the boundaries

    Tampaknya kamu butuh membatasi hubungan pertemanan ini. Tapi jangan langsung mendadak menghilang ya, karena pasti aneh rasanya. Batasi ruang komunikasi secara perlahan, beritahu bahwa kamu sedang sibuk, dan tidak bisa hang-out dengannya. Contoh: "Kegiatanku lagi padat banget nih, jadi tidak punya banyak waktu untuk bermain." Berlaku juga dalam lingkup media sosial – hal kecil seperti membagikan foto atau video lucu, lebih baik kamu hentikan dahulu. Dan kalau memang selama ini dia mengunggah hal yang bikin kamu tak nyaman, mute dia dari media sosial juga bisa menjadi opsi.

    Bahkan Dr. Andrea Bonior dalam bukunya yang berjudul "Friendship, Made Fabulous Again", mengungkapkan bahwa pertemanan seharusnya bersifat equal, saling berbagi dan tidak merugikan secara mental. Kalau temanmu ternyata tidak memenuhi kriteria tersebut, jangan ragu untuk membuat batasan dengan segera. Ingat, bagaimana pun kamu perlu memikirkan kesehatan mentalmu terlebih dahulu, jangan terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain!


    Tell them about the truth!

    Katakan dengan jujur kalau kamu merasa tak nyaman dengan sikapnya selama ini – hey, lebih baik diungkapkan daripada hilang tanpa penjelasan, kan? Menurut seorang penulis buku bertema self-help, Christopher D. Connors, yang juga menulis "Emotional Intelligence for the Modern Leader"manfaat yang akan dirasakan jika kamu berkata jujur dapat memberi efek yang baik bagi kesehatan mental maupun fisik. The truth may hurts once in a while, tetapi dengan berlaku jujur, kamu akan jauh dari pikiran yang memberatkan atau perasaan yang terpendam. Tidak perlu takut dengan reaksi temanmu, kalau dia tak mau terima, itu adalah pilihannya. Yang penting kamu sudah berhasil mengungkapkan unek-unekmu selama ini. Jika temanmu malah menjadikan hal ini sebagai ‘alat’ untuk introspeksi diri, kamu jadi membantunya mengembangkan diri, kan?




    Find a friend who can appreciate you

    Sejujurnya, kehilangan teman itu sama rasa sakitnya dengan kehilangan pasangan – seperti ada bagian diri kita yang hilang. But, hey! Memutuskan untuk keluar dari lingkaran pertemanan yang toxic juga sama seperti kabur dari pasangan yang menghalangimu berkembang! Butuh sebuah keberanian yang patut diacungi jempol untuk berani mengatakan yang sejujurnya dan membuat keputusan untuk pergi, karena tidak semua orang bisa melakukannya. Dan jangan takut untuk tidak bisa mendapatkan teman lagi, tenang saja, kamu tidak sendirian kok. Akan selalu ada orang yang mau berteman baik denganmu dan menjadi support system dalam segala situasi. Kamu hanya belum menemukan yang tepat.

    Jadi, sudah siap ucapkan selamat tinggal pada toxic friendship? Yuk, saatnya memutus "rantai" yang menghambat dirimu untuk terus maju.


    (Nadhifa Arundati / VA / Image: Dok. Simon Maage on Unsplash)