Love & Sex

11 Cara Agar Kamu Tidak Menjadi Pasangan Yang Posesif

  by: Nadhifa Arundati       13/7/2021
  • Cosmo babes, kalau kamu mendengar kata 'posesif' hal seperti apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Apakah seperti: menelpon pasangan satu jam sekali, atau bahkan melarang pasangan untuk bermain dengan teman perempuannya? Chill, girls, kamu sebenarnya tak perlu melakukan dua hal ini, bukannya malah awet, hubungan perlahan akan menjadi retak. Ibarat seperti es yang lama-lama meleleh, retak, dan berubah menjadi air.

    Perilaku posesif ini terjadi karena beberapa faktor, seperti kurangnya rasa percaya diri, memilik trust issue yang terlalu tinggi, serta 'jiwa' manipulatif yang kental, hal ini dipaparkan oleh  Dr. Carla Marie Manly, Ph.D. selaku Clinical Psychologist dan penulis buku "Date Smart". Pokoknya, semua energi negatif ada pada si pasangan posesif. 

    Yes, Cosmo paham, mungkin kamu juga tak mau dicap sebagai pasangan posesif, namun terkadang ada beberapa perilaku yang kamu tidak sadari, kalau kebiasan tersebut memiliki tendensi yang kuat untuk menjadi posesif. Again, chill! Karena ada 11 cara (tanpa basa-basi) yang bisa kamu lakukan supaya tidak menjadi pasangan yang annoying alias posesif. 




    1. Analyze your feeling


    Betul, menganalisa. Kamu selalu bertanya-tanya, si dia itu benerang sayang tidak sih? Nah, sekarang posisinya di balik, bertanya pada diri kamu sendiri, mengapa kamu selalu berperasangka buruk terhadap pasangan? Apakah si dia pernah melakukan sesuatu yang membuatmu sulit untuk percaya? Kalau tidak, berarti masalah ada di kamu. Jadi coba dipikirkan sampai 'akarnya', apa yang harus kamu lakukan untuk menghilangkan unhealthy behaviour terhadap pasangan. Kalau kamu butuh kegiatan yang menyenangkan, lakukan-lah. Ubah mindset kamu: hidup ini tidak 100% harus melulu soal hubungan, semua akan baik-baik saja kalau kamu belajar untuk berpikir positif. Karena semakin kamu memikirkan hal-hal buruk, maka entah mengapa, hal tersebut akan terjadi secara nyata. It's like giving yourself a bad mantra.


    2. Asah rasa percaya dirimu

    Langkah yang memiliki nilai terpenting dalam menyingkirkan sikap posesif adalah menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Just admit, kamu pasti merasa kalau akan ada perempuan yang jauh lebih menarik, dan memiliki peluang untuk mengganggu hubungan kalian berdua. Pemikiran seperti ini patut dipertanyakan, karena cuma kamu yang mengenal pasangan! Jika si dia dari awal punya kecenderungan untuk melakukan hal serupa, lantas mengapa kamu mau mengencaninya? See, it's that simple. Namun kalau pasanganmu selama ini selalu bisa dipercaya, kamu enggak perlu cari perkara lain, tugasmu sekarang hanya perlu membangun rasa percaya diri. Ada cara mudah untuk memulai, berdasarkan dari seorang psikiatri, Tess Brigham, MFT, BCC; berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain, serta menyadari kalau banyak keberhasilan yang selama ini kamu raih dalam hidup. Balik lagi seperti yang Cosmo katakan, kalau hidup tak selalu tentang cinta, dan kamu memiliki kelebihan yang harus disalurkan untuk hal lain. Start this, with a small step.


    3. Pahami kalau batasan itu penting

    Kita masuk ke babak yang paling sulit untuk kamu lakukan – yes, membuat batasan antara kamu dan dia. Mulai dengan cara membiarkan si dia melakukan aktivitas yang digemari. Boys always be boys, terkadang si dia bisa bermain game sampai berjam-jam, namun coba kamu bebaskan kemauannya, and so do you, lakukan aktivitas yang bisa membuatmu melupakan waktu. Hubungan akan lebih berwarna jika kalian punya passion masing-masing, and would be sexy. 


    4. Jangan cek akun media sosialnya, don't you dare!

    Oh, no... Siapa sih yang mau privasinya diubrak-abrik? No one! Meski kamu punya label sebagai 'pacar', bukan alasan untuk mengetahui segala kegiatannya, termasuk di dunia digital. Amy Hasinoff, seorang profesor komunikasi di University of Colorado, menyatakan bahwa dengan mengetahui password dan memata-matai personal account milik pasangan, maka perlahan akan 'mematahkan' rasa kepercayaan kalian berdua – kamu pasti sadar kalau kebiasaan seperti ini adalah red flag dalam hubungan. The less you know, the better. 


    5. Mencoba lebih dekat dengan lingkungan pertemanan si dia

    Selama ini kamu selalu negative thinking, berpikir kalau temannya yang memberikan pengaruh buruk, bahkan si dia terlalu sering menghabiskan waktu dengan teman. Ada solusi yang simpel: kamu bisa ikut menongkrong bareng dengan mereka, pikiran buruk jadi hilang, dan kamu bisa have fun bersama. Tetapi ada yang perlu diingat, kalau kenyataannya teman si dia memang memiliki perilaku toxic, ada baiknya kamu komunikasikan secara baik-baik, bukan sekadar melarang. 


    6. Communicate with each other



    Yes, sempat dikatakan di poin sebelumnya, kalau kamu dan pasangan perlu mengkomunikasikan segala sesuatu dengan baik. Hal ini enggak berlaku untuk satu atau dua hal saja, yang dimaksud Cosmo adalah: segala hal wajib dikomunikasikan, yang berhubungan dengan kalian berdua. Ehem... Perlu diketahui, kalau komunikasi antar pasangan bukan berarti harus mengetahui akun media sosial satu sama lain, ya – ini masuk ke dalam pelanggaran privasi, bukan esensi dari komunikasi. Komunikasi dalam sebuah hubungan itu seperti 'alat' yang dapat melembutkan perjalanan cintamu, tanpa komunikasi, perjalanan akan penuh lubang, dan ujung-ujungnya, merusak kendaraan yang ditumpangi oleh kamu dan si dia. Hal ini diperkuat oleh Jude Treder-Wolff yang merupakan psychotherapist, bahwa komunikasi yang sehat akan menjadi dorongan kuat bagi kedua pasangan untuk bisa terus maju, dan jauh dari drama yang berlebihan. 


    7. Jauhi tragedi di masa lalu

    Sulit memang.... Tetapi, apakah kamu mau terus larut dalam tragedi di hubungan kamu sebelumnya? Cosmo pertegas, TIDAK semua pria itu memiliki sikap yang sama. Mantanmu pernah berselingkuh, dan bukan berarti pasangan yang sekarang akan melakukan hal yang sama. Again, communicaton is the key. Kalau kamu yakin telah memilih pasangan yang baik, percaya-lah kalau hubungan kamu itu sehat, tanpa harus banyak tuntutan. Ahli Wellness and Health, Kathy Gruver, Ph.D., mengungkapkan tentang rasa stres dan cemas yang diakibatkan oleh masa lalu; dua hal ini akan terus menghantui pikiran jika kamu tidak segera menemukan closure atau proses untuk penyembuhan. Jika masih terasa sulit untuk dilakukan sendiri, it's okay to seek for help, tentunya dari para ahli.


    8. Share your insecurities

    Beritahu si dia tentang rasa tidak percaya diri yang menyelimutimu selama ini. Semisal, kamu merasa butuh banyak pujian yang encouraging dari pasangan, maka komunikasikan-lah. Cosmo tahu pasti banyak hal-hal yang membuatmu tidak percaya diri, jadi kamu tak perlu malu untuk mengatakan kepadanya - if he's a good guy, dia pasti akan berusaha untuk memahami.


    9. Selesaikan masalah yang selama ini terpendam

    Tidak ada waktu lain, selesaikan sekarang juga! Setelah berhasil untuk mengungkapkan insecurities kamu, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengatakan tentang apa saja yang kamu tidak suka dari si dia – disertai dengan alasan yang logis, ya. Jangan malah, "sejujurnya aku tidak suka dengan pekerjaanmu, karena kamu jadi terlalu sibuk." Please, no. Kamu kan sudah melewati banyak tahap, dengan berani terbuka dan mulai percaya diri, jadi Cosmo yakin kok kalau kamu bisa menjadi pasangan yang lebih reasonable dalam memaparkan sesuatu. 


    10. Melakukan aktivitas yang membuat kalian bergairah

    Let's spice things up! Setelah lega sehabis mengeluarkan semua unek-unek, sekarang saatnya mencari kegiatan yang menyenangkan untuk kalian berdua (psst.. Kalau bisa pilih kegiatan yang bisa menggairahkan hasrat seksual, ya). Berdarkan saran dari Dr. Ian Kerner, selaku sex therapist, olahraga bersama mampu meningkatkan hubungan intim pasangan. Studi membuktikan bahwa keringat dapat mengeluarkan hormon feromon, yang mampu merangsang daya seksual. Sweet sweat!


    11. Mulai terima kenyataan!

    Sudah cukup berusaha untuk tidak menjadi posesif? Then good for you! Sekarang kamu harus mulai terbiasa untuk menerima kenyataan, kalau suatu hubungan itu tidak selamanya terpikat, melainkan sebagai bentuk kerja sama untuk mendukung satu sama lain. Remember this!


    (Nadhifa Arundati / Image: Dok Freepik)