Better You

Kenali Single Shaming dan Cara Menghadapinya

  by: Nadhifa Arundati       15/7/2021
  • Terlalu banyak istilah yang membuat all the single ladies direndahkan. Kata-kata seperti  jones alias jomblo ngenes, atau sebutan 'perawan tua' untuk para perempuan paruh baya yang masih juga lajang. Sounds not right! Padahal, berstatus single itu semacam anugerah, bebas melakukan apa saja tanpa ada ikatan komitmen yang menambah beban pikiran – bisa tertawa lepas saat melihat meme yang menyinggung soal single. Tetapi mengapa, ya? Banyak orang menganggap being single is a cursed, even though we're not a witch.

    Dari lubuk hati yang terdalam, kita semua pasti tahu kalau harga diri tidak bisa diukur hanya dari status hubungan. Kamu pintar, berani, cantik, dan memiliki teman yang sangat suportif, lalu mengapa partner itu harus selalu jadi prioritas dalam hidup? Well, hal ini terjadi karena konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat luas, tentang perempuan yang selalu kurang hidupnya kalau belum ada sosok pria. So girls, hal seperti ini nih yang disebut dengan single shaming. 

    Seiring berjalannya waktu, kasus single shaming kian meningkat. hal ini diutarakan oleh sebuah penelitian dari Match, bahwa terdapat 52 persen orang mengalami single shaming sejak berlangsungnya pandemi COVID-19. Hampir 38 persen merasa sedih dengan status yang mereka miliki, 30 persennya mengaku kesepian, dan 59 persen mengaku nyaman dengan status hubungannya. 



    Banyak pertanyaan yang timbul berkaitan dengan status single. Kalian pasti sudah tidak asing kalau pertanyaan semacam ini akan dilontarkan oleh keluarga, bahkan teman terdekat – satu pertanyaan yang bikin muak: "Mana pacarnya? Mau kapan nikah?Ugh, ignore it. 

    37 persen dengan status lajang mengatakan kepada Match, bahwa pertanyaan tersebut adalah hal yang wajar, namun 20 persen di antaranya mengaku kalau pertanyaan tentang single telah mempengaruhi pikiran dan membuat mereka bertanya balik pada diri sendiri – apakah kesuksesan hanya berasal dari pasangan?


    Relax girls, karena Cosmo punya jawaban tentang apa itu single shaming, dan bagaimana cara menghadapinya menurut pandangan ahli. Let's go!

    Single shaming? Kedengarannya cukup kejam!

    "Single shaming adalah sebuah ungkapan yang tercipta karena adanya stigma dimana bertatus single itu memiliki kedudukan yang 'rendah' dibanding orang-orang yang memiliki pasangan," ucap Hayley Quinn, seorang pakar kencan di Match. "Hal ini biasanya diekspresikan dengan alasan bercanda (meski secara terselubung mereka sedang menghakimi) atau berupa komentar negatif yang bertujuan untuk mematahkan rasa percaya diri. Single shaming sering dilakukan oleh keluarga atau teman yang sudah memiliki pasangan, seakan-akan menjadi single karena pilihan itu hal yang tabu."

    Hayley yakin bahwa single shaming akan semakin sering dialami oleh perempuan karena dorongan dari budaya patriarki yang masih melekat; seorang perempuan akan selalu dilihat dari status perkawinannya. "Setiap bertemu dengan seseorang, pasti lebih cenderung mempertanyakan soal status hubungan ketimbang karier atau kelebihan lain yang kita miliki," Hayley menambahkan. 


    Cara terbaik untuk merespon tindakan single shaming

    "Yang paling pertama dilakukan adalah tarik napas dalam-dalam!" Saran pertama yang diberikan oleh Hayley. 

    Ternyata komentar yang bersifat single shaming tak selalu bertujuan buruk, lho. "Sebagian orang masih menganggap bahwa pertanyaan tentang status hubungan adalah bagian dari sebuat tradisi untuk proses perkenalan, dilakukan tanpa ada tujuan negatif," ucap Hayley.

    Jika kamu saat ini memang berniat untuk mencari 'the one', namun merasa sulit dengan sistem kencan di era modern, well, mendengar komentar single shaming sejujurnya akan membuat kamu kembali 'mundur' untuk berkomiten. "Komentar orang lain itu tidak punya relevansi atas apa yang kamu miliki. Mereka menjalani kisah cinta yang berbeda, maka tidak akan paham dengan keputusan hidupmu."

    Lantas, apa yang harus kamu lakukan? "Jangan memberikan respon negatif saat seseorang bertanya tentang status hubungan. Cara terbaiknya adalah dengan menjawab secara lugas dan santai. Kamu bisa mengatakan seperti, 'Belum ada orang yang tepat nih malas kalau terlalu sibuk mencari' atau bisa kamu arahkan ke pembahasan lainnya." 

    Kalau lawan bicara masih memaksa untuk membahas seputar status hubunganmu, intensinya sangat jelas: ingin membuat kamu merasa down. Hayley merekomendasikan, "tetap tanggapi secara santai tanpa harus terpancing emosi." Ia juga mengatakan kalau kamu harus lebih jujur dalam mengutarakan perasaan, sampaikan saja ke orang tersebut, kamu masih belajar untuk mengenal diri and still trying to move on. "Balik lagi, jawab-lah dengan singkat, padat, dan jelas. Supaya mereka paham, kalau kamu itu berprinsip!"




    Mengatasi single shaming terhadap diri sendiri

    Jujur saja, berstatus single itu punya momen rumit tersendiri – sama seperti yang dialami oleh para couples. Sejatinya manusia itu makhluk yang tak pernah puas; yang single mau punya pasangan, tetapi yang berpasangan, mereka juga ingin kembali single.... So confusing. 

    "Kalau saat ini kamu ingin memiliki hubungan intim (tak hanya secara seksual namun juga emosional), hal ini tidak membuat kamu jadi 'lepas' dari prinsip," sebut Hayley. Jangan merasa malu jika di saat tertentu kamu mendadak galau karena hidup yang itu-itu saja, we feel you, darl. 

    Selalu ingat, kamu itu punya keunikan and you're not unwanted – manfaatkan kebebasan yang kamu punya untuk lebih berkembang. Jadi saat kamu menemukan orang yang tepat, kamu sudah mematangkan diri," ucap Hayley. 


    Are you accidentally single shaming your own friends?

    Sebelum kamu ada di posisi ini, mari kita melihat ke masa lalu, apakah kamu pernah melakukan single shaming terhadap teman dekat? Sebagai manusia kita terkadang lupa, beberapa advice yang kita berikan bisa menjadi senjata tajam bagi orang lain (sebenernya mereka tak butuh saran, tetapi kamu secara gratis memberi, karena merasa memiliki kelebihan di situasi tersebut). Ucapan seperti "Kamu terlalu picky, sih! Susah kalau mau cari pacar," padahal, belum tentu pasangan menjadi tujuan utama hidupnya. Again, semua orang punya alasan masing-masing. 


    Perlakukan seseorang, sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Very simple!


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh penulis / Alih bahasa: Nadhifa Arundati / Image: Dok. Anthony Tran on Unsplash)