Love & Sex

Ini Alasan Mengapa Banyak Hubungan Gagal Setelah 3 Bulan

  by: Redaksi       22/7/2021
  • Kalau boleh jujur, sepertinya hampir tidak ada hubungan saya yang bertahan lebih dari tiga bulan. Biasanya hubungan itu berlangsung seperti sebuah siklus: Pergi berkencan beberapa kali, memutuskan bahwa berkencan terasa lebih menyenangkan dibandingkan bermain dating apps, merasa saling menyukai dan ingin mengetahui semua hal tentang satu sama lain seperti ketakutan terbesarnya, dan, tepat mendekati titik tiga bulan, tiba-tiba saja doi menghilang. Terkadang hal ini terjadi karena salah satu dari kita berdua pindah ke luar kota, di waktu lain perpisahan ini terjadi begitu saja secara natural. Tetapi sering kali saya bahkan tidak tahu alasan mengapa kita menjauh.


    Ya, ya, saya tahu, tiga bulan bukanlah waktu yang lama, tetapi semua hal bergerak lebih cepat dari ekspektasi saya. Berdasarkan pengalaman pribadi, jatuh cinta hanya dalam tiga bulan adalah hal yang sangat mungkin untuk terjadi sehingga memutuskan hubungan tersebut cukup menyakitkan dan sulit untuk diterima. Setelah berkonsultasi ke teman tentang permasalahan ini, saya menyadari bahwa bukan saya saja yang mengalaminya. Cukup banyak orang di luar sana yang merasa hubungannya tidak bisa melewati angka 90 hari. Meski terlihat seperti sebuah kebetulan, tapi ternyata terdapat bukti saintifik yang dapat menjelaskan alasan kenapa laki-laki pada umumnya akan merasa ketakutan dan cenderung meninggalkanmu dengan atau tanpa alasan, alias ghosting, setelah tiga bulan.




    Jadi, ini semua berhubungan dengan sesuatu yang dinamakan evolutionary psychology, sebuah teori yang pada dasarnya menyatakan bahwa manusia berhubungan melalui dua strategi yang berbeda: Strategi jangka pendek dan jangka panjang. Berdasarkan penjelasan dari konselor kesehatan mental dan psikoterapis Jack Worthy, strategi berhubungan jangka pendek cenderung mengutamakan kebutuhan seksual. Sedangkan, strategi berhubungan jangka panjang terjadi ketika seseorang mencari pendamping yang lebih bersifat permanen. Dalam strategi ini, kemungkinan besar kamu akan terpikirkan berbagai hal yang cukup mendalam, seperti “Apakah dia orang yang cukup ambisius dan mapan untuk dijadikan pasangan seumur hidup?” atau “Apakah orang ini dapat mengkomplemen hidup saya?”





    Tapi, di sinilah persoalan menjadi lebih rumit: Walaupun kebanyakan spesies akan memilih salah satu dari kedua kategori tersebut (99,9 persen untuk kepentingan berkembang biak), manusia menerapkan dua-duanya. “Ini yang menciptakan terjadinya sebuah konflik batin,” jelas Jack. Terutama karena manusia dapat memilih sebuah pasangan untuk masing-masing strategi dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, karena “laki-laki memiliki psikologi seksual yang dapat mengacaukan ketertarikan jangka pendek dan jangka panjang dalam permulaan sebuah hubungan,” jelas Jack, permasalahan tiga bulan ini sebagian besar terjadi karena hormon laki-laki.


    Laki-laki cenderung memiliki proses emosional yang berbeda dengan perempuan di tiga bulan pertama sebuah hubungan. “Gelombang ketertarikan pertama yang dirasakan oleh laki-laki biasanya lebih ke arah fisik dan secara tidak sadar. Seperti sebuah intuisi. Ketika kamu merasakan emosi ini dengan intens terhadap seseorang, kemungkinan besar kamu akan mengira kalau kamu merasa jatuh cinta,” jelas Jack. (Kata kunci: Mereka mengira mereka sedang jatuh cinta).


    Ini juga menjelaskan mengapa laki-laki sering melontarkan janji manis atau membicarakan masa depan di awal hubungannya denganmu, karena mereka benar-benar merasa bahwa kalian memiliki masa depan bersama. Mereka tidak selalu berbohong tentang niat mereka, mereka hanya merasakan emosi dengan cara yang berbeda dari para perempuan yang biasanya merasakan ketertarikan secara seksual lebih lambat, biasanya setelah karakter pasangannya sudah terlihat. Tapi kemudian… perasaan euforia yang dirasakan para laki-laki itu mulai berkurang setelah 90 hari, dan saat itulah mereka pergi. Setelah 90 hari, seseorang akan mulai jelas dalam melihat hubungan, mengartikan perasaan, dan, kebanyakan dari mereka, akan menyadari bahwa mereka tidak siap untuk menjalin hubungan dalam jangka panjang. “Ketidaksiapan ini biasanya akan terkuak di 90 hari pertama,” kata Jack.


    Tetapi, meski penjelasan di atas terdengar seolah-olah psikologi dan sains berusaha untuk merusak hubunganmu, kabar baiknya adalah tetap ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya konflik tiga bulan ini untuk terjadi. “Pertama-tama, kamu bisa memastikan kalau perkataan mereka sesuai dengan tindakannya,” jelas Jack. Siapapun bisa dengan mudah berkata “Sepertinya saya mulai jatuh cinta kepadamu” atau “Saya tidak pernah merasa sebahagia ini dengan orang lain,” tetapi apakah tindakannya membuktikan semua itu? Apakah dia berkomunikasi baik denganmu? Apakah dia memprioritaskanmu? Apakah dia datang saat kamu membutuhkannya?


    Selain itu, mungkin baik juga untuk menjaga hubunganmu tetap kasual di 90 hari pertama. Barulah setelah itu kamu dapat mengevaluasi bagaimana perasaanmu sebenarnya dan apakah kamu ingin terus mempertahankan hubunganmu dengannya. Maka dari itu, jangan takut untuk memberi batasan dan kejelasan ekspektasi dari apa yang kamu cari sejak awal hubungan. Kalau kamu siap untuk komitmen jangka panjang, jujurlah sejak awal dan jika pasanganmu bilang ia ingin mencari sesuatu yang lebih kasual jangan berharap dia akan merubah pikirannya dalam waktu dekat.




    Terakhir, investasi ke dirimu sendiri dengan melakukan terapi, menjurnal, meditasi, atau yoga. “Kembangkan kehidupan sosial, karir, hobi, dan passion-mu,” jelas Jack. Kamu akan menginginkan untuk memiliki rasa percaya diri dan penghargaan atas diri sendiri sebanyak mungkin. “Dengan cara itu, ketika kamu akhirnya menemukan seseorang yang mencintaimu, kamu sudah mencintai dirimu sendiri. Dan itu adalah posisi yang sangat menguatkan.”




    Jadi, itulah yang akan saya lakukan dalam menjalin hubungan baru ini. Karena, meski saya masih tidak bisa berhenti memikirkan apakah yang laki-laki ini bicarakan adalah sebuah kebohongan besar atau tidak, saya telah menyatakan niat saya dengan jelas. Saya percaya bahwa jika dia memang “the one,” dia akan mematahkan kutukan 90 hari yang biasanya saya alami. Delapan minggu lagi. Wish me luck!


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan US / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Nabila Nida Rafida / Image: Dok. Pixabay on Pexels; Aditya Saxena dan Alesia Kazantceva on Unsplash)