Better You

Ini Beberapa Gejala COVID-19 Varian Delta yang Patut Kamu Ketahui!

  by: Giovani Untari       23/7/2021
  • COVID-19 varian Delta atau yang juga dikenal dengan varian India (karena pertama kali terdeteksi di India) menjadi salah satu penyebab kenaikan angka kasus infeksi di Indonesia saat ini.

    Sedikit berbeda dari varian sebelumnya, virus COVID-19 varian Delta jauh lebih cepat menyebar hingga membuat kita semua harus semakin lebih waspada dan memperketat protokol kesehatan yang telah dianjurkan.




    Sejak kasus COVID-19 pertama melanda Indonesia hampir satu tahun lebih, kita juga pastinya sudah cukup familiar dengan sejumlah gejala utama dari penyakit ini seperti: suhu tubuh yang tinggi, demam, batuk terus menerus, serta kehilangan indra perasa dan penciuman.

    Tetapi lagi-lagi, COVID-19 varian Delta bisa membawa gejala yang berbeda pula bagi penderitanya, terutama bagi generasi muda menurut seorang profesor yang mempelajari virus ini secara mendalam.




    Profesor Tim Spector, sosok yang memimpin studi Zoe COVID Symptom mendeskripsikan gejala COVID-19 varian Delta terasa seperti “terserang flu yang parah” bagi anak muda. Dan dua gejala khusus yang patut kita waspadai adalah sakit kepala dan hidung yang mengeluarkan ingus.


    Untuk memperkuat studinya, tim aplikasi Zoe ikut menanyakan kepada sejumlah orang apa saja gejala yang mereka rasakan, termasuk apakah mereka sebelumnya mereka pernah terinfeksi COVID-19, dan sudah mendapatkan vaksin. Aplikasi tersebut sejauh ini berhasil mengumpulkan 170 juta laporan kesehatan. Dan menurut data yang mereka temukan akhir-akhir ini, sejumlah pasien terinfeksi COVID-19 mengalami gejala yang berbeda dari gejala awal COVID-19 umumnya.

    “Sejak awal Mei, kami terus mencari apa saja gejala utama yang dirasakan oleh para pengguna aplikasi tersebut. Namun beberapa menunjukkan hasil yang berbeda dari gejala awal COVID-19 yang kita ketahui,” ujar Profesor Spector. “Varian Delta bekerja dengan cara yang cukup berbeda.”

    Permasalahannya adalah penderita mungkin tidak menyadari gejala minor yang mereka alami karena menganggapnya sebagai flu biasa dan terus bertemu dengan orang lain. Mereka tidak tahu bahwa sedang terinfeksi Coronavirus dan berpotensi untuk menyebarkannya. “Kami pikir varian ini akan lebih menimbulkan banyak permasalahan,” tutur sang profesor kepada BBC.



    Tetapi sakit kepada dan hidung yang mengeluarkan ingus bukan satu-satunya gejala terkait COVID-19 varian Delta. Seorang dokter asal India, Dr GB Sattur sebelumnya sempat memberitahu kepada koran lokal di Bangalore mengenai sosok pasien berusia 55 tahun yang sampai di rumah sakit dalam keadaan mulut sangat kering. Pasien tersebut juga mengalami konjungtivitis (mata merah), yang mana para dokter ketahui sebagai salah satu gejala memungkinkan dari virus COVID-19 (gejala tersebut juga masuk dalam list dari World Health Organisation / WHO sebagai gejala yang sedikit tidak umum), jadi sang dokter masih menginvestigasi mengenai gejala lainnya.




    “Saya membaca mengenai konjungtivitis bisa menjadi salah satu gejala COVID-19. Meski pasien tersebut tidak mengalami demam, tetapi ia merasakan kelelahan,” jelas Dr Sattur. “Saya lalu mencurigai itu merupakan salah satu gejala COVID dan menyarankan pasien melakukan tes PCR dan ternyata hasilnya positif. Ia pun saat ini dibawa ke rumah sakit untuk ditangani dan kini sudah pulih.”

    Kasus tersebut membuat para dokter menghimbau para rekan kerja mereka untuk ikut memperhatikan keluhan seperti mulut kering dari pasien saat menilai kemungkinan kasus COVID-19. “Para dokter harus memerhatikan keluhan di area mulut dan lidah,” terang Dr Sattur.



    Berbicara pada Cosmopolitan di awal tahun 2021, Dr Samantha Wild dari Bupa UK menegaskan bahwa gejala utama COVID-19 masih bisa dialami oleh varian virus COVID lainnya. “Kami selalu berusaha mempelajari lebih lanjut mengenai varian baru dari virus ini,” ujarnya.

    “Tetapi saat ini gejala utama dari COVID-19 varian apapun tetap sama: batuk terus menerus (mengalami batuk terus menerus selama satu sampai tiga jam, atau batuk yang terus terjadi selama 24 jam), suhu tubuh yang tinggi, serta kehilangan indra perasa dan penciuman.”

    Selain itu, jika kamu merasakan gejala seperti pilek diikuti dengan hidung yang mengeluarkan ingus atau sakit kepala, ada baiknya untuk melakukan tes PCR COVID-19. Cara ini lebih akurat untuk mengetahui hasilnya dan penanganan yang tepat tentu akan mencegah penularan virus ini ke orang lain. 

    Studi juga menyarankan kita agar menerima vaksin untuk mendapatkan kekebalan terhadap varian baru. Semakin cepat kita bisa menghambat laju penyebaran virus ini dan semakin banyak orang yang divaksin, semakin cepat pula kita semua kembali ke kehidupan normal seperti sebelumnya.



    Segala informasi dari artikel ini akurat berdasarkan tanggal publikasi artikel. Saat ini kami berusaha sebisa mungkin untuk menjaga konten kami tetap up-to-date terhadap situasi terkini selama pandemi coronavirus yang terus berkembang pesat. Jadi besar kemungkinan sejumlah informasi dan rekomendasi bisa berubah sejak dipublikasikan. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi website World Health Organisation.




    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Giovani Untari / Ed. / Images: Dok. Robert Pricop on Unsplash, Ehsan ahmadnejad on Unsplash, Sarah Kilian on Unsplash, Pam Menegakis on Unsplash)