Better You

Stop Katakan 7 Kalimat Ini Pada Diri Sendiri!

  by: Givania Diwiya Citta       25/7/2021
  • Apakah kamu mengenali suara kecil (tapi sangat menghakimi) yang kerap muncul di kepala, terus-menerus memarahi kamu dan bilang bahwa diri kamu ini tak cukup baik? Menurut ilmu psychodynamically, itu adalah ego super nan overactive yang sedang berbicara – ia muncul berkat perasaan tinggi akan esensi moral yang berlebihan. Dan akhirnya, ia bisa membuat kita sangat keras pada diri sendiri, bahkan mengkritisi diri terhadap hal-hal yang tak perlu.


    Ilmu psikologi yang sudah berevolusi menyebutkan bahwa mengkritik-diri-sendiri adalah hasil dari amygdala (pusat ketakutan dalam otak) yang berkembang secara besar. Jadi, ini tak sama dengan memberi diri sendiri sebuah cek realitas, ataupun menjadi penggagas perubahan personal dalam diri. Dalam banyak kasus, mengkritik-diri-sendiri akan mengarah pada rasa meragukan-diri-sendiri dan rasa tak mampu. Beberapa studi menunjukkan bahwa mengkritik-diri-sendiri juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan rasa cemas. Ya, kita memang butuh melek terhadap diri sendiri, tapi mengalahkan diri hingga babak belur sendiri juga tak akan membuat kita jadi versi yang lebih baik. Lantas, satu-satunya yang bisa menolong hal ini adalah rasa menyayangi-diri-sendiri. Termasuk tidak memberatkan diri sendiri, dan memberi diri sendiri ucapan-ucapan yang baik.




    Berbincang dengan diri sendiri, jika dilakukan secara benar, bisa benar-benar mengubah hidup. Metode ini bisa memotivasi kamu untuk terjun pada aksi nyata dan menanamkan kepercayaan dalam diri, lebih dari apapun. Untuk menguasai self-talk, mulailah dengan menyapu bersih suara-suara yang memberi sentimen negatif pada diri sendiri. Ingatlah, berbuat baik pada diri sendiri akan membawa kita pada kemenangan dibanding dengan melakukan penindasan pada diri. Inilah hal-hal yang seharusnya kamu hentikan untuk bilang pada diri sendiri:



    ‘Saya belum cukup baik’

    Ini adalah pikiran yang langsung membuat diri merasa kalah, hingga akhirnya menambah ketakutan dalam diri. Daripada bilang begini pada diri, justru cobalah buat daftar pencapaian kamu, dan dorong diri untuk terus berjalan menuju tujuan yang telah kamu tetapkan.


    ‘Saya tidak cantik’

    Perasaan seperti ini bisa menyebabkan gangguan dismorfik tubuh hingga mungkin membutuhkan intervensi medis. Pahamilah bahwa kecantikan itu subyektif, dan masing-masing dari kita itu cantik dengan keunikan tersendiri. Ingatkan diri untuk lebih merasa positif terhadap tubuh, dan beri diri sendiri setidaknya tiga pujian tentang penampilan setiap harinya.





    ‘Saya tidak bisa melakukannya’

    Jangan biarkan kegagalan di masa lalu membuat kamu terus murung, karena hal ini bisa mengarahkan kamu pada distorsi kognitif yang disebut dengan ‘berlebihan dalam menyimpulkan’. Yang terjadi di masa lalu tidak mendefinisikan masa depan. Jadilah proaktif dan kembangkan sudut pandang yang realistis dan sesuai dengan masa sekarang.




    ‘Saya tak berharga’

    Jika kamu sering merasa begini, kamu bisa jadi sedang kesulitan menghadapi self-esteem yang rendah, depresi, dan banyak lagi. Akan lebih baik jika kamu mencari bantuan profesional. Juga, berhentilah membandingkan diri dengan orang lain, dan lebih berbelas kasihlah pada diri sendiri.


    ‘Saya tak akan mencapai apapun dalam hidup’

    Dengan berpikir begini, kamu justru melupakan pencapaian dari masa lalu dan tenggelam dalam ‘ramalan yang kamu ciptakan sendiri’. Kamu tak bisa memprediksi masa depan; satu-satunya yang bisa kamu kontrol adalah tindakan kamu. Jadi berjuanglah, dan berharaplah yang terbaik.


    ‘Saya tak sehebat orang lain’

    Biasanya ini adalah perilaku yang telah berakar pada kebudayaan masyarakat, dan hal ini bisa mengganggu tujuan hidup serta kemampuan diri kamu. Coba metode analisa ini: tanyakan pada diri, apakah ada manfaatnya ketika kamu membandingkan diri dengan orang lain? Dalam waktu yang sama, tuliskan juga hal-hal tak bermanfaat dari membandingkan diri dengan orang lain. Jika jawaban poin yang kedua lebih memberatkan daripada poin yang pertama, maka kamu akan menyadari betapa kebiasaan membandingkan diri ini memengaruhi kesehatan mental kamu. Ubah pemikiran jadi cara untuk mengembangkan diri, agar bisa mencanangkan langkah demi langkah yang bisa diambil untuk menjadi versi lebih baik dari diri yang sekarang. Menulis gratitude journal juga bisa menolong, lho, dimulai dengan menuliskan tiga hal yang kamu syukuri hari ini.


    ‘Saya tak pantas mendapatkan semua ini.’

    Ini adalah fenomena yang kerap dialami oleh perempuan. Riset bahkan menyatakan bahwa setiap orang bisa mengalami pemikiran ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya. Cara untuk menaklukkan pikiran ini adalah dengan mengidentifikasi kerja keras yang kamu kerahkan untuk meraih sukses. Tulis semua prestasi sekaligus perjuangan yang dilakukan untuk mencapainya; akui semua kesulitan yang dilalui sekaligus juga keberhasilan yang dituai. Kemudian, hadiahi diri sendiri atas seluruh perjuangan, dan hasil baik yang kamu dapatkan hingga sekarang.


    Sumber: Dr Prerna Kohli, Psikolog Klinis dan pendiri MindTribe.


    (Artikel ini terbit pada E-Magazine Cosmopolitan Indonesia edisi Mei/Juni 2021 / Diadaptasi dari Cosmopolitan India / Givania Diwiya / FT / Image: Vlada Karpovich from Pexels)