Lifestyle

Simone Biles, Kesehatan Mental & Pentingnya Mencintai Diri Sendiri

  by: Alvin Yoga       30/7/2021
    • Simone Biles memutuskan untuk mundur dari pertandingan final atas alasan kesehatan mental.
    • Alasan tersebut membuat Simone Biles menerima banyak kritik, karena banyak yang berpikir bahwa jika ia sehat secara fisik, ia seharusnya tetap bertanding.
    • Kesehatan mental memiliki pengaruh nyata pada kesehatan fisik, dan sudah sepatutnya contoh yang dilakukan Simone Biles menjadi pelajaran penting bagi kita semua.
    • Memprioritaskan diri sendiri, termasuk kesehatan mental, jauh lebih penting dari sekadar mengejar prestasi.


    Usai berjuang keras untuk melakukan 1½ twist vault, Simone Biles yang jelas terlihat putus asa meninggalkan lantai kompetisi gimnastik Olimpade bersama pelatihnya. Ia akan kembali lagi ke tempat itu, namun bukan untuk berkompetisi. Setelahnya, dilaporkan bahwa Simone Biles telah mengundurkan diri dari kompetisi karena kondisi medis. "Simone telah mengundurkan diri dari kompetisi final karena isu medis," jelas USA Gymnastics dalam sebuah pernyataan yang mereka rilis. "Simone akan melakukan evaluasi rutin setiap hari demi memastikan izin medisnya pada kompetisi di masa yang akan datang." Beberapa waktu kemudian, Simone Biles memberi kabar bahwa ia meninggalkan kompetisi atas alasan kesehatan mental.

    "Setelah penampilan yang saya berikan, saya tidak ingin hadir ke ke turnamen lainnya dalam keadaan mempertanyakan diri sendiri, jadi saya pikir akan lebih baik jika saya mengambil langkah mundur dan membiarkan para perempuan lain untuk maju dan melakukan hal yang mereka inginkan, dan mereka baru saja melakukannya," ujar Simone. "Saya sedang berjuang menghadapi beberapa hal."



    Sesudah mengetahui bahwa kondisi medis yang Simone Biles hadapi bukan bersifat "fisik", banyak orang menulis di media sosial dan mengkritik keputusannya, sambil berargumen bahwa jika secara fisik ia mampu berkompetisi, ia seharusnya melakukannya. Beberapa individu bahkan membahas mengenai atlet gimnastik Olimpiade tahun 90an, Kerris Strug, yang melakukan lompatan dengan pergelangan kakinya yang patah dalam Olimpiade Musim Panas tahun 1996.

    Padahal, kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan fisik. Titik. End of story. Tidak mampu berkompetisi karena alasan kesehatan mental sama halnya dan sama validnya seperti menghadapi masalah kesehatan fisik. Faktanya, Simone sendiri memberi catatan bahwa berada dalam pola pikir yang keliru dapat membuatmu mengalami cedera fisik. "Saat ini, untungnya, tak ada cedera, dan inilah mengapa saya mengambil langkah mundur: karena saya tidak ingin melakukan sesuatu yang konyol dan melukai diri sendiri," ujar Simone pada para reporter di sebuah konferensi pers. 


    Oh, google saja gejala-gejala depresi, anxiety, dan post-traumatic stress disorder jika kamu tidak memahami seberapa besar pengaruh fisik dari kesehatan mental yang sebenarnya. Mulai dari perubahan nafsu makan sang penderita, sulit tidur, hingga kurangnya energi fisik, jelas sekali bahwa kesehatan mental dan fisik saling berpengaruh satu sama lain. Sebuah studi yang dilakukan oleh WebMD menemukan bahwa kesehatan psikologis yang baik dapat mengurangi risiko serangan jantung dan strok, sedangkan kesehatan mental yang lemah dapat membuatmu mengalami diabetes, asma, artritis dan juga penyakit kronis lainnya.

    Memang, belakangan ini ada semakin banyak orang yang bicara dan mendukung isu kesehatan mental, namun pesan-pesan tersebut menguap begitu saja ketika sebuah momen terjadi, seperti kasus Simone Biles. Kita semua seakan menipu diri sendiri dengan sebuah versi palsu dari pembicaraan sepurtar kesehatan mental, karena ternyata kita masih berada dalam sebuah sistem yang memberikan stigma dan menyerang pihak-pihak seperti Simone Biles dan Serena Williams dan Naomi Osaka pada saat mereka, in fact, harus membuat keputusan sulit untuk mempraktikkan self-care yang nyata di mata publik.


    Tidak mampu berkompetisi karena alasan kesehatan mental sama halnya dan sama validnya seperti menghadapi masalah kesehatan fisik.




    Simeone Biles berjalan menyongsong Olimpiade Tokyo 2020 di bawah tekanan yang luar biasa besar, dan seperti sebuah tekanan yang dapat mematahkan tulang di tubuhnya, tekanan tersebut justru merusak kesehatan mentalnya. Ia telah berlatih keras, baik dalam hal tubuh dan pikirannya, untuk pertandingan, mengetahui bahwa seluruh sorotan mata akan tertuju pada dirinya. "Terapi telah banyak membantu, begitu juga dengan pengobatan. Semua telah berjalan dengan sangat baik," ujar Biles. "Rasanya setiap kali berada dalam situasi stres yang tinggi, saya menjadi panik dan tidak tahu secara pasti bagaimana caranya menangani seluruh emosi tersebut, terutama di Olimpiade."

    Sama seperti cedera-olahraga lainnya, Biles tidak dapat memprediksikan bahwa kesehatan mentalnya akan cukup menderita saat ia memutuskan untuk mundur. Untungnya, ia memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari sebuah situasi yang saat ini membahayakan dirinya, dan situasi ini mungkin akan lebih berbahaya baginya di masa depan jika saat ini ia tak melakukan apa-apa.

    Kenyataannya, self-care memang bukanlah sesuatu yang mudah. Jika memang begitu adanya, maka 46% Gen Z dan 41% Milenial di atas umur 18 tahun tidak akan menderita karena anxiety. Dan menjaga kesehatan mental juga bukan suatu hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Karena dari seluruh penderita depresi yang berumur di atas 15 tahun di Indonesia, 91% di antaranya bahkan tidak dapat menerima pengobatan. Data ini membuktikan bahwa implementasi kebijakan kesehatan mental masih menghadapi banyak tantangan, termasuk di Indonesia. Dan kamu masih ingin menggampangkan hal yang terjadi pada Simone Biles?

    Inilah mengapa apa yang dilakukan oleh Simone Biles pada saat pertandingan final jauh lebih mengesankan dibandingkan melakukan 2½ twist vault, dan jauh lebih kuat dibandingkan triple-double andalannya. Ia menunjukkan pada dunia bahwa kesehatan mental juga merupakan kesehatan fisik, bahwa kamu tidak dapat melindungi salah satunya tanpa ikut memprioritaskan yang lainnya, dan bahwa terkadang gerakan senam terbaik yang dapat kamu lakukan adalah memutuskan untuk meninggalkan lapangan dan mengutamakan kesehatanmu terlebih dahulu. Lagipula, memprioritaskan diri sendiri, termasuk kesehatan mental, jauh lebih penting daripada sekadar mengejar prestasi, bukan?


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Cosmopolitan US)