Lifestyle

Adaptasi Karya Pramodeya dalam Bunga Penutup Abad

  by: Hana A. Devarianti       25/8/2016
  • Buku legendaris karya salah satu sastrawan terbaik Indonesia akhirnya diadaptasi ke atas panggung. Ya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer digubah jadi pertunjukkan teater bertajuk Bunga Penutup Abad. Cerita kedua buku dalam Tetralogi Buru tersebut dirangkum dalam pertunjukkan berdurasi 2,5 jam yang disutradarai Wawan Sofwan.

     



     

    Plot Cerita


    Adegan dibuka dengan Minke yang diperankan oleh Reza Rahadian. Dengan suara medok yang kental ia membaca surat dari Panji Darman tentang Annelies di depan Nyai Ontosoroh atau lebih sering dipanggil Mama yang diperankan oleh Happy Salma. Selesai membaca surat, Minke kemudian mengingat kembali pertemuan pertama ia dengan Annelies, wanita Indo putri Nyai Ontosoroh yang diperankan Chelsea Islan. Begitu kira-kira alur dari pementasan, setiap kali surat datang Minke akan membacanya di depan Nyai dan kemudian mereka akan mengingat kembali masa lalu bersama. Sesekali muncul pula Jean Marais si pelukis Prancis yang juga sahabat baik Minke yang dimainkan oleh Lukman Sardi pada plot cerita.

     

     

    Pendalaman Karya Pram



    Pada pementasan ini terlihat Wawan memang paham karya Pram. Sebagai sutradara dan penulis naskah, ia mampu merangkai cerita dari dua buku tersebut dengan apik, meski alur cerita berjalan maju-mundur. Tata panggung pada pementasan tersebut juga dapat menghidupkan adegan. Sederhana memang, di panggung hanya ada kursi rotan dan meja khas kaum kelas atas Jawa, namun sudah cukup untuk membuat penonton dapat “masuk” pada setiap adegan. Begitu pula dengan musik dan lighting yang jadi pelengkap manis dari pementasan ini.

    Namun, penokohan Bunga Penutup Abad terasa hambar. Chelsea Islan belum dapat menampilkan karakter Annelies yang begitu lemah-lembut. Dialog dan gesturnya tidak natural, membuat karakter Annelies “tenggelam” di panggung. Reza Rahadian dapat memerankan Minke dengan cukup baik, seiring berjalannya pementasan ia dapat memainkan gestur dan mimik yang memancing emosi penonton. Hanya saja, dalam pementasan ini Wawan dan Reza kurang menggali ketajaman intelektualitas Minke. Lukman Sardi sendiri mampu membawa karakter Jean di atas panggung dengan baik. Meski gaya bicaranya kadang “terselip”, gestur dan mimiknya ekspresif menyerupai orang Prancis.

     

     

    Happy Salma Mencuri Perhatian

    Bintang dari pementasan ini jelas adalah Happy Salma. Terlihat permainan emosi pada setiap kalimat Nyai di atas panggung. Karakter Nyai yang kuat dapat tersampaikan dengan baik ke penonton. Kelihaian Happy pada lakon teater terlihat ketika ia turut mampu membawa emosi lawan mainnya di panggung. Hal tersebut terutama terasa pada adegan penutup. Dialog getir penuh amarah Minke dan Nyai akhirnya dapat membawa sisi magis Pram ke panggung.

    Bunga Penutup Abad akan hadir di Gedung Kesenian Jakarta pada 25-27 Agustus 2016. Pementasan ini dipersembahkan oleh Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Yayasan Titan Penerus Bangsa dan didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. (Hana Devarianti/VP/Image: DOK. Cosmo)