Better You

Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Kesepian Berdasarkan Riset

  by: Alexander Kusumapradja       6/8/2018
  • Berdasarkan riset terbaru, manusia zaman sekarang semakin mudah merasa kesepian. Dan hal itu tak selalu disebabkan karena ketergantungan pada media sosial. Dalam riset terbaru yang dilakukan oleh perusahaan kesehatan Cigna di Amerika, terungkap bahwa dari 20.000 responden berusia di atas 18 tahun, mayoritas dapat dikategorikan sebagai orang yang merasa kesepian. 


    via GIPHY




    Penelitian ini dilakukan dengan mengukur skala kesepian yang telah dikembangkan oleh University of California, Los Angeles di mana setiap responden diberikan kuisioner berisi 20 pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan kesepian maupun isolasi sosial. Skor 43 ke atas dalam kuisioner ini berarti kamu termasuk mereka yang merasa kesepian. 


    Beberapa hasil yang didapat dari riset ini adalah:

    • Hampir setengah responden mengaku sering kali atau selalu merasa kesepian (46%) atau merasa diabaikan (47%).
    • Satu dari empat responden (27%) mengaku jarang atau tidak pernah merasa ada orang lain yang benar-benar memahami mereka. 
    • Dua dari lima responden sering kali atau selalu merasa hubungan mereka tidak berarti (43%) dan merasa terasing dari orang lain (43%).
    • Satu dari lima responden mengaku jarang atau tidak pernah merasa dekat dengan orang lain (20%) atau merasa ada orang yang bisa mereka ajak bicara (18%). 
    • Responden yang tinggal bersama orang lain akan punya risiko kesepian yang lebih kecil (rata-rata skor kesepian adalah 43,5) dibanding mereka yang tinggal sendirian (46,4). Namun, hal ini tidak berlaku bagi orangtua/wali tunggal (rata-rata skor kesepian 48,2). Walaupun mereka tinggal dengan anak-anak mereka, namun mereka cenderung lebih rentan merasa kesepian.
    • Hanya 53% responden yang mengaku memiliki interaksi sosial yang berarti dengan orang lain, seperti perbincangan mendalam dengan teman atau menghabiskan quality time bersama keluarga hampir sehari-hari. 
    • Generasi Z (usia 18-22 tahun) adalah generasi yang paling merasa kesepian dan terancam risiko kesehatan yang lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

    Poin terakhir mengungkap orang dewasa muda (Gen Z) saat ini justru lebih rentan merasa kesepian dengan skor kesepian mencapat angka 48 sementara mereka yang berumur lebih dari 72 tahun hanya sebesar 39. Lebih dari setengah responden Gen Z mengiyakan 10 dari 11 perasaan yang berhubungan dengan kesepian, sementara 90% orang di atas 72 tahun merasa mereka masih “nyambung” dengan orang di sekitar mereka.



    Meskipun banyak yang menuding efek pemakaian media sosial yang membuat kita lebih rentan merasa kesepian di dunia nyata, namun riset tersebut mengungkap bahwa media sosial bukan satu-satunya faktor yang dapat disalahkan. Responden yang mengaku pengguna aktif media sosial umumnya memiliki skor kesepian sebesar 43,5 yang tidak terlalu jauh berbeda dibanding responden yang jarang atau sama sekali tidak aktif di media sosial dengan skor kesepian 41,7. 


    Riset yang sama juga menyebut bahwa kesepian punya efek negatif yang sama dengan merokok 15 batang sehari bagi kesehatan kita, membuatnya lebih bahaya bila dibandingkan obesitas yang kerap menjadi momok kesehatan di Amerika. Kenapa begitu? Well, kesepian meningkatkan tingkat stres yang akan membuat tubuhmu rentan mengalami gangguan kesehatan. As simple as that


    Namun, di samping fakta-fakta yang cukup suram tersebut, riset tersebut juga memberikan beberapa tip untuk melawan kesepian, terutama dengan cara menjalin komunikasi dengan orang lain karena manusia pada dasarnya memang makhluk sosial.





    Interaksi yang bermakna dengan orang lain akan menurunkan tingkat kesepian kita dan memiliki efek positif bagi kesehatan kita baik secara mental maupun jasmani. Memiliki waktu yang seimbang untuk tidur, bekerja, bersosialiasi dengan orang lain, dan memiliki “me time” adalah hal-hal yang menurunkan tingkat kesepian. Tapi, tentu saja hal itu tak semudah kedengarannya terutama dalam hal mengatur waktu. 

    Tidur: Mereka yang punya waktu tidur yang cukup memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah 4 poin dibanding mereka yang kurang tidur dan lebih rendah 7,3 poin dibanding mereka yang tidur lebih lama (oversleep). 

    Aktivitas fisik: Mereka yang punya waktu exercise yang cukup punya jauh lebih kecil kemungkinan untuk merasa kesepian. Skor kesepian dari mereka yang berolahraga lebih dari waktu yang diinginkan (overtime) meningkat sebesar 3,5 poin, hampir sama dengan yang terlihat dari mereka yang berolahraga kurang dari yang diinginkan (3,7 poin). Mereka yang berolahraga lebih dari yang diinginkan dan mereka yang berolahraga dengan waktu yang pas juga hampir setara dalam hal merasa menjadi bagian dari sekelompok teman (79 persen, masing-masing), memiliki banyak kesamaan dengan orang lain (75 persen mereka yang berolahraga lebih banyak vs. 79 persen yang berolahraga dengan pas), dan merasa punya pertemanan ketika mereka menginginkannya (76 persen vs. 80 persen).

    Tempat kerja: Mereka yang mengaku punya jam kerja yang pas disebut paling rendah mengalami risiko kesepian - skor kesepian dari mereka yang bekerja lebih dari yang diinginkan meningkat hanya lebih dari tiga poin, sementara mereka yang bekerja kurang dari yang diinginkan menunjukkan peningkatan 6 poin di skor kesepian. 



    Riset ini sendiri memang berdarkan responden di Amerika Serikat, namun dengan semakin transparannya isu kesehatan mental baik di dunia nyata maupun di dunia maya, kita tak bisa memungkiri bahwa zaman sekarang dengan kemajuan teknologi yang secara ironis bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, fenomena rasa kesepian sudah seharusnya menjadi perhatian bagi semua orang, termasuk kita di Indonesia. 


    (Image: Dok. Outnow.ch)