Lifestyle

9 Destinasi Wisata Populer yang Kini Rusak Karena Turis

  by: Alvin Yoga       24/8/2018
  • Thanks to the internet, and hail to Instagram. Perlu diakui, kedua kemajuan teknologi tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan popularitas banyak destinasi liburan. Beberapa destinasi yang bahkan mungkin belum pernah kamu dengar (seperti kota Himeji di Jepang atau Bulukumba di Sulawesi), kini semakin marak "gaung"nya, baik di dunia maya maupun IRL. Tak hanya itu, kehadiran internet juga mempermudah akses kita untuk mencapai tujuan, tentu dengan tips-tips traveling yang bisa dengan mudah didapatkan di sana-sini. Singkatnya, berlibur ke berbagai destinasi wisata - you name it, kini tak lagi sekadar isap jempol.

    Sayangnya, meski membantu meningkatkan ekonomi negara dari sisi pariwisata, dari segi lain kenaikkan jumlah turis juga memberikan dampak yang negatif. Beberapa tujuan wisata yang populer kini berada dalam ancaman yang besar, sebut saja Taj Mahal di India dan Gili Lawa di Indonesia, yang kini terancam tutup karena rusak oleh para turis. And sadly, some may even be destroyed for good, if we're not careful.

    Berikut adalah beberapa tujuan destinasi populer yang terancam akan rusak jika para turis tidak diingatkan untuk bersikap penuh tanggung jawab ketika berkunjung.




    1. Boracay, Filipina



    Kabar buruk bagi kamu yang belum pernah berkunjung ke Boracay. Pulau cantik di tengah Filipina ini kini sudah ditutup untuk para pengunjung. Menurut laporan dari majalah Time, mulai dari April 2018 kemarin Presiden Rodrigo Duterte terpaksa menutup pulau ini karena perbuatan "nakal" para pelaku bisnis. Yeah, beberapa pelaku bisnis yang tidak bertanggung jawab didapati langsung mengirimkan limbah kotor ke laut dan bukan ke sistem limbah pulau. Hal ini langsung mencemari terumbu karang dan ekosistem laut di sekitar Boracay. Urgh!


    2. Maya Bay, Thailand



    Jika kamu pernah menonton The Beach (itu, lho, film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio pada tahun 2000 silam), kamu pasti tahu secantik apa Maya Bay. Yes, dengan pemandangan air laut yang jernih dan biru, serta deretan pasir putih yang membatasi pinggir pantai, pulau ini memang pantas menjadi "incaran" para turis.

    But sadly, pulau ini pun terpaksa ditutup pada Juni 2018 kemarin. Pemerintah Thailand terpaksa mengambil keputusan tersebut karena parahnya kerusakan parah terumbu karang dan kehidupan laut yang ada di sekitar pulau.


    3. Isle of Skye, Skotlandia



    Thanks to the number of films and TV shows (mulai dari Stardust, Snow White and the Huntsman, Macbeth serta The BFG), pulau kecil ini berhasil meraih perhatian turis dengan cepat dalam jumlah yang luar biasa besar.

    Namun sayang, kenaikan popularitas yang didapat oleh pulau tersebut kini mulai menyebabkan overcrowding. Menurut laporan para warga lokal, beberapa pengunjung yang "nakal" sering kedapatan membangun tenda atau menggelar mobil van piknik mereka di tengah jalan, mengganggu sistem transportasi di pulau tersebut.

    Hingga akhirnya, pemerintah dan polisi lokal kini mengambil tindakan tegas untuk tidak lagi memperkenalkan para pengunjung berlibur ke pulau tersebut jika tidak memiliki izin dari tempat tinggal sementara yang disediakan di sekitar pulau. Tak hanya itu, menurut beberapa surat kabar lokal, limbah plastik di pulau ini pun meningkat dalam jumlah yang luar biasa besar. Oh, please.


    4. Bhutan



    Kingdom of Bhutan. Dari namanya yang unik saja, bisa ditebak bahwa negara ini menarik untuk dikunjungi. Tak aneh makanya, jika banyak orang memasukkan negara ini dalam daftar bucket list mereka. Sayang, para pemerintah setempat mendapati bahwa jumlah turis yang banyak ternyata memberikan pengaruh buruk bagi negara mereka, termasuk di antaranya adalah polusi udara dan lingkungan.

    So, in order to visit, para pengunjung kini diwajibkan untuk menggunakan jasa official tour guide yang disediakan - dengan tujuan agar para turis bisa diawasi. Tak cuma itu, Anda wajib membayar "pajak masuk" senilai £200, atau sekitar Rp3.714.000 per hari/per turis (FYI, turis awalnya tidak diperbolehkan untuk datang ke Bhutan sampai tahun 1970-an).

    Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Jetcost, sebuah website travel asal Perancis, bahkan dengan kewajiban turis tersebut, Bhutan kini masih dipenuhi dengan polusi. So sad!


    5. Bali, Indonesia





    Pulau Dewata memang sudah lama dikenal sebagai "pundi-pundi emas" bagi Indonesia, dan selalu berhasil menjadi tujuan utama para turis ketika ingin datang ke negara ini. Bagaimana tidak? Deretan pantai tropisnya yang cantik, pemandangan sawahnya yang magical, budayanya yang menarik, serta puluhan pura-nya yang unik, semuanya pantas menjadikan pulau ini sebagai salah satu destinasi tropis paling favorit di dunia. Jutaan turis pun terus mengunjungi pulau ini setiap tahunnya - sayangnya, sambil meninggalkan jejak sampah yang menumpuk di belakangnya.

    Yes dear, now Bali is (sadly) one of the list. Pada Desember 2017 kemarin, pemerintah Bali akhrinya mengumumkan bahwa mereka berada dalam "garbage emergency". Puluhan tahun menjadi "pusat perhatian" para turis membuat sampah semakin menumpuk tak terkendali di pulau yang cantik ini. Foto-foto sampah plastik yang tersebar di berbagai pantai di Bali - mulai dari Jimbaran, Kuta, hingga Seminyak - kini telah banyak beredar di internet. Semakin hari pun semakin banyak kelompok pencinta lingkungan serta orang-orang lokal yang berusaha untuk "mengangkut" sebagian sampah tersebut dari pinggir pantai. Hiks, miris, ya?


    6. Pig Beach, The Bahamas



    Big Major Cay (cay: pulau yang tidak dihuni) di Bahamas ini memang benar-benar unik. Satu-satunya penghuni di pulau ini hanyalah para babi liar, yang semakin lama ternyata semakin terbiasa untuk berenang di pinggir pantai. Melihat para babi-babi lucu berenang di sekitar pantai? Oh, who doesn't want to see it? And yes, tak butuh waktu lama hingga akhirnya fenomena ini menjadi viral, dan membuat ribuan turis berdatangan ke Pulau Exuma.

    Namun, sejak tahun lalu, puluhan babi mulai ditemukan tergeletak mati di pinggir pantai. Hal ini pun sontak menjadi perhatian pemerintah setempat. Turis-turis yang berdatangan pun dicurigai menjadi pembunuh babi-babi itu. Terakhir, menurut pemberitaan dari The Washington Post, seorang pria lokal asal Bahama didapati meminta para turis untuk memberi makan para babi tersebut dengan pakan yang tidak pantas. Oh, please!


    7. Cinque Terre, Italy



    Bagi kamu yang gemar "mempercantik" halaman Instagram dengan foto-foto traveling, kamu pasti tahu mengenai Cinque Terre. Pemandangan deretan rumah berwarna-warni di pinggir tebing Italian Riviera memang sulit ditandingi, terutama menjelang sunset tiba. Tak aneh jika jumlah turis yang datang ke tempat ini pun semakin bertambah tiap tahunnya.

    Namun bertambahnya jumlah turis tersebut ternyata juga mengganggu infrastuktur kota yang rapuh. Longsor pun menjadi hal yang semakin sering terjadi di kota ini - beberapa di antaranya bahkan melukai para turis. Hal ini membuat pemerintah akhirnya memutuskan untuk membatasi serta mengurangi jumlah turis yang bisa mendatangi tempat tersebut, sambil terus menggalang dana untuk merekonstruksi infrastuktur kota.


    8. Machu Picchu, Peru



    Warisan suku Inca yang terletak tinggi di Pegunungan Andes ini telah lama menjadi bagian dari UNESCO World Heritage Site, dan meraih perhatian banyak turis tiap tahunnya. Begitu banyaknya, hingga akhirnya pada 2017 lalu pemerintah Peru memutuskan untuk membatasi jumlah turis yang boleh mendatangi daerah tersebut.

    Juli tahun lalu, sebuah aturan baru pun kembali dikeluarkan: para turis kini hanya boleh memasuki daerah tersebut bersama tour guide yang sudah ditentukan, dan hanya di jam-jam tertentu saja.

    Sebelumnya, peringatan mengenai jumlah turis yang terlalu banyak sebetulnya sudah dikeluarkan sejak tahun 2002, ketika National Geographic menulis bahwa jumlah turis yang terlalu banyak bisa membuat daerah tersebut rawan longsor. Belum lagi kedatangan turis-turis tersebut juga merusak Inca Trail dan meninggalkan banyak sekali sampah. Uh-oh!


    9. Venice, Italy



    Last but not least: Venice. This place is eternally popular, thanks to its gondolas, scrumptious food, and stunning buildings. But the truth is, para warga lokal ternyata sudah lama merasa frustasi dengan jumlah turis yang semakin lama semakin menumpuk di Venice setiap tahunnya.

    Hingga akhirnya pada 2017 lalu, sekitar 2000 warga lokal melakukan protes di jalan-jalan Venice. Mereka tak tahan lagi dengan tingginya jumlah turis yang datang ke kota, serta menolak kenaikan jumlah turis yang terus diusahakan pemerintah. Tak cuma itu, mereka juga meminta perbaikan kota dengan segera dan mengharapkan fasilitas hidup yang lebih baik bagi para penduduk lokal, serta meminta pemerintah mulai turun tangan terhadap polusi di pinggir pantai yang disebabkan oleh banyaknya jumlah perahu cruise yang mendarat di kota tersebut.

    Melihat hal tersebut, UNESCO pun akhirnya turun tangan. Mereka berkata bahwa tingginya jumlah turis di Venice telah menyebabkan replacement untuk rumah-rumah warga lokal tidak berjalan dengan baik, begitu juga dengan akomodasi dan fasilitas kota lainnya. UNESCO juga memberi peringatan mengenai fenomena tingginya volume air di kota, thanks to the high tides caused by motor boats. Yes, you better be careful, people!


    (Artikel disadur dari: cosmo.ph. Alih bahasa: Alvin Yoga. Image: Dok. Jennifer Barrow©123RF.com, Perubahan telah dilakukan oleh editor)