Celebrity

Kesha Kembali Hadir Dengan Karakter Yang Berbeda!

  by: Redaksi       14/8/2018
  • Penyanyi yang lagunya kerap berada di tangga lagu teratas - yang terkenal dengan pembawaan cuek – ini kembali lagi. Dan kali ini, ia peduli… dengan berbagai hal. Get to know the new, appealingly vulnerable, “sometimes” confident, still incredibly  talented artist.

    Hari sudah mulai malam di Los Angeles, dan Kesha sedang asyik mengikuti irama lagu Love Will Tear Us Apart milik Joy Division. “Yesss!” ucap fotografer Jason Kim di set pemotretan Cosmo saat Kesha berpose dengan memandang langsung ke arah kamera. Wanita berumur 31 tahun ini berpose selama 10 detik sebelum kemudian tak mampu lagi menahan tawanya.


        Di momen tersebut, santai dan tersenyum, ia memperlihatkan dirinya yang sebenarnya – dan kerentanan yang mungkin terasa sedikit aneh mengingat Kesha yang sejak 2009 meroket dengan DGAF’tude dan DGAF lirik pada lagu-lagunya. “Saat itu saya pikir saya harus tangguh dan kuat dan memperlihatkan bahwa saya tidak peduli, dan itu bahkan bukan yang sebenarnya,” ungkapnya sekarang. “Saya berpura-pura seolah semua selalu baik-baik saja, setiap waktu.”


        Kenyataannya, berakting seperti party girl pemberani dalam lagu-lagunya tidak semudah itu – apalagi mengingat, saat sendiri, tak jarang muncul insecurities dalam dirinya. Setelah hampir lima tahun dan dua album yang sangat sukses, “Saya kerap gugup tentang berbagai hal, dan ini sangat melelahkan,” ingatnya. “Alhasil saat bersama ibu saya di suatu acara keluarga, dalam perjalanan pulang saya harus berhenti, dan seolah, saya tidak bisa menyimpan rahasia ini lagi.” Rahasia yang dimaksud termasuk masalah serius eating disorder yang ia alami, di mana akhirnya Kesha masuk ke fasilitas perawatan di tahun 2014.





      

     “Itu hal yang menakutkan, tapi akhirnya saya bisa memutuskan untuk memilih kehidupan. That was a huge turning point,” ceritanya. “Saya bukan suatu ukuran. Saya bukan sebuah angka. Saya seorang wanita yang kuat, berani, dan jujur saja, saya suka tubuh saya. Sepuluh tahun yang lalu, saya bahkan tidak pernah terpikir bisa mampu mengucapkan hal ini.”


        Also reinvented: her sound. Rainbow menjadi album pertama Kesha sejak tahun 2012 – dan yang pertama ia rilis sejak munculnya kasus legal battle antara ia dan mantan produsernya, Lukasz “Dr. Luke” Gottwald, yang sudah berlangsung beberapa tahun. Di mana Kesha menuntutnya atas tindakan kekerasan seksual dan emosional (Dr. Luke menyangkal pernyataan-pernyataan Kesha dan menuntut Kesha atas pencemaran nama baik; saat ini Kesha tengah naik banding untuk kasus ini di New York.)


    Absen dari musik barunya ialah Auto-Tune yang familiar, berganti dengan campuran rock and roll, country, serta pop. Secara lirik lagu, ia menghadirkan semuanya mulai dari mengeluarkan emotional demons hingga mengekspresikan cinta yang mendalam.


        Pada masa rekaman, keadaan sedang cukup berat. Tak jarang ia butuh dukungan untuk menjalani hari-hari saat ia tengah tidak bersemangat. Kekasihnya, artis Brad Ashenfelter, dan asistennya, akan mengantarnya ke studio. “Lalu saya akan menulis, mengubah kesedihan menjadi seni, dan seni tersebut menjadi penyembuh, yang berakhir menjadi rekaman. Kemudian saya dinominasikan di Grammy! Hidup memang luar biasa.”


        Saat Grammy awal tahun silam, penampilan Kesha yang intens – bersama Cindy Lauper, Julia Michaels, Andra Day, Camila Cabello, dan Bebe Rexha – saat membawakan lagu Praying jadi viral, menepis keraguan akan kembalinya ia bermusik. Banyak yang menilai momen tersebut sangat spesial, muncul sebagai  simbol dari female empowerment. Saat itu di belakang panggung, “Saya tidak pernah segugup itu,” ungkapnya. Namun kemudian ia dan para wanita lain di belakang panggung berkumpul dan menyatukan tangan mereka.






    “Mereka seolah, ‘(Let’s say) Kesha on three.’ Dan saya bilang, ‘Tidak, mari berdoa untuk kita bersama.’ Tapi mereka tetap menyebut nama saya, dan saya pun menangis. Mereka tidak utang apapun pada saya. Hanya saja momen itu bikin saya tertegun – perasaan memiliki orang-orang yang mendukung saya.”


        Sejak itu, Kesha mampu menikmati kesuksesannya, sembari masih menyadari masa-masa gelapnya di waktu lampau. “Saya menemukan bahwa beberapa momen paling kuat ialah ketika saya membiarkan diri saya untuk merasakan emosi-emosi yang menyedihkan,” ceritanya. “Saya senang bisa ada masa di mana saya merasa nyaman, dan kadang percaya diri. Saya tidak tahu apakah saya akan merasa damai dengan semua hal. Saya masih bertumbuh, berubah, belajar, dan juga melakukan kesalahan.”


        Ia berharap bahwa dengan terbuka bicara mengenai tantangan yang ia hadapi dan kemajuan yang ia peroleh bisa menjadi hal positif bagi orang lain. “Tentu saja saya merasa bisa terhubung dengan para penggemar sehubungan dengan hal seperti perasaan bullying, kesepian, atau tidak sempurna,” ujarnya. “Semua ini pada akhirnya mengenai menjadi manusia.” Bagi Kesha, ia didukung dengan support system yang solid – termasuk Brad dan tiga “cat children” – meditasi harian, yoga, dan waktu untuk diri sendiri maupun teman-teman. “Kami pergi hiking di pagi hari, dan ke bar di malam hari.”


        Menjalani tur 30 hari Adventures of Kesha and Macklemore, penyanyi ini hadir dengan perspektif baru. “Saya mengambil alih kepemilikan diri saya sendiri,” ujarnya. “Saya mengontrol hidup saya dan nama saya dan musik saya.”


        Para penggemar Kesha mungkin menyadari perubahan yang terjadi, dan ia tahu itu, tapi jangan khawatir: $ dalam namanya mungkin sudah tidak ada, namun “Bukan berarti saat ini musik saya jadi ‘menyedihkan’. Ya, ada beberapa lagu ballad, tapi pertunjukan yang saya berikan masih sangat sangat menyenangkan. Ada band yang seru, dancing and glitter. That’s the promise I will keep – there will always be glitter.”

    (Source: Cosmopolitan Indonesia)