Lifestyle

7 Cabang Olahraga Unggulan Indonesia di Asian Games!

  by: Alexander Kusumapradja       15/8/2018
  • Ladies, tidak terasa sejak diumumkan terpilih menjadi tuan rumah Asian Games 2018, hanya beberapa hari lagi ajang olahraga empat tahunan ini akan resmi digelar di Indonesia. Kali ini, Jakarta dan Palembang akan menjadi tuan rumah perhelatan ke-18 ajang ini. Kita bisa merasakan getaran hype-nya di udara dan tak bisa dipungkiri bila kita pun merasa excited menyambutnya, terlepas apakah kamu termasuk penggemar olahraga atau tidak. 


    Total akan ada 45 negara yang berlaga di 40 cabang olahraga Asian Games kali ini. Sebagai tuan rumah, tentu kita ingin memberi dukungan kepada atlet-atlet kita yang turun langsung ke lapangan, apapun cabang olahraga yang mereka ikuti. Indonesia bahkan sudah punya prediksi atau target meraih medali emas dalam beberapa cabang olahraga yang mereka unggulkan. Apa saja? Kita lihat satu per satu, ya!




    Bulu Tangkis



    Indonesia menargetkan setidaknya 2 emas untuk cabang olahraga ini. Khususnya di Ganda Putra dan Ganda Campuran. Ganda Putra Indonesia akan diwakili oleh duo “The Minions” alias Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamulyo yang merupakan pasangan Ganda Putra nomor satu di dunia saat ini setelah menjuarai 7 superseries di 2017, termasuk All England. Julukan “The Minions” diberikan karena konon mereka kerap menang ketika mengenakan baju berwarna kuning dan aksi lincah mereka saat bertanding di lapangan. 



    Untuk Ganda Campuran, yang akan maju adalah pasangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang akrab disapa duet “Owi dan Butet”. Sudah berduet sejak tahun 2010, pasangan ini telah mengharumkan nama Indonesia dengan segala prestasi gemilangnya, termasuk 2 kali juara dunia, 3 kali juara All England Open, dan medali emas di Olimpiade Rio 2016, maka tak heran bahwa mereka adalah pasangan Ganda Campuran nomor satu di dunia saat ini. Kabarnya, Asian Games 2018 ini akan menjadi kejuaraan terakhir bagi Liliyana. Walaupun belum tahu keputusan akhirnya, tapi rasanya sayang kalau sampai melewatkan kesempatan ini untuk menonton aksinya langsung di depan mata. 

    Cabang olahraga Badminton akan digelar di ISTORA Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta dari 19 sampai 28 Agustus 2018 dengan harga tiket mulai dari Rp100.000 – Rp800.000.


    Panahan



    Cabang olahraga Panahan diharapkan menyumbangkan setidaknya 1 medali emas dan yang akan berjuang adalah Riau Ega Agatha untuk Putra dan Diananda Choirunisa untuk Putri. Berasal dari Blitar, nama Riau Ega Agatha mencuat ketika berhasil menumbangkan pemanah nomor 1 dunia, Kim Woo-Jin, di Olimpiade Rio 2016. Padahal, sehari sebelumnya Kim Woo-Jin asal Korea baru saja memecahkan rekor dunia. Hingga kini, ia telah meraih 3 medali emas di SEA Games 2011, 2015, dan 2017 di nomor mixed team recurve



    Lain ceritanya dengan Nisa yang berasal dari Surabaya. Terlahir dari keluarga atlet, gadis 21 tahun ini telah menekuni olahraga Panahan sejak kelas 2 SD mengikuti jejak sang ibu, Ratih Widyanti yang merupakan mantan atlet panahan nasional. Sebelum akhirnya fokus di Panahan, Nisa sebelumnya juga menekuni olahraga silat mengikuti sang ayah, Zainuddin, yang merupakan pesilat asal Jawa Timur. Masih menjadi mahasiswi Psikologi di Universitas Airlangga, Surabaya, Nisa sebelumnya berhasil meraih dua medali emas untuk nomor tunggal dan beregu di SEA Games 2017. 

    Penasaran dengan aksi dua jagoan panah ini? Dukung mereka di Archery Field Gelora Bung Karno, Jakarta dari tanggal 21 sampai 28 Agustus 2018 dengan harga tiket Rp100.000 – Rp200.000.


    Atletik

    Untuk cabang olahraga Atletik, Indonesia menaruh harapan 1 medali emas dari nomor Lompat Jauh Putra dan Putri yang akan diwakili oleh Sapwaturrahman Sanapiah dan Maria Londa Natalia. Sebelum fokus di Lompat Jauh, Sapwaturrahman yang berasal dari Sumbawa adalah atlet olahraga cabang Lari yang bahkan pernah berlari satu lintasan dengan Usain Bolt di Kejuaraan Senior di Rusia tahun 2013. Sebagai atlet Lompat Jauh, ia berhasil meraih medali emas di PON 2016 dan mencetak rekor nasional lompat jauh putra di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2017 di Makassar, dengan lompatan sejauh 7,90 meter.



    Bagaimana dengan Maria? Gadis yang lahir di Denpasar 28 tahun lalu ini telah mencintai olahraga atletik sejak kelas 3 SD dan kerap berkompetisi di cabang lompat jauh dan lompat jangkit untuk olahraga atletik. Ia berhasil mendapatkan masing-masing dua medali emas di SEA Games 2013 dan 2015, untuk lompat jauh dan lompat jangkit. Ketika meraih medali emas di Asian Games Incheon 2014, ia menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih medali emas di cabang olahraga atletik sejak 1998.

    Olahraga cabang atletik Asian Games 2018 akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno tanggal 25 sampai 30 Agustus 2018 dengan harga tiket Rp75.000 – Rp200.000.




    Boling



    Mungkin banyak di antara kita yang tidak menyangka bahwa olahraga fun ini juga ditargetkan menyumbang setidaknya 1 medali emas untuk kontingen Indonesia. Atlet yang dijagokan untuk Boling adalah Sharon Limansantoso dan Tannya Roumimper. Meskipun terpaut usia 9 tahun, namun kekompakan keduanya berhasil memenangkan medali emas di nomor double putri di SEA Games 2017. Cabang olahraga Boling rencananya akan digelar di Jakabaring Bowling Center di Palembang pada tanggal 22 – 27 Agustus 2018.


    Dayung

    Sebagai negara maritim dan nenek moyang yang konon para pelaut, sudah sepantasnya jika Indonesia unggul dalam cabang olahraga air, termasuk Mendayung yang mengincar 4 medali emas. Dengan tim yang terdiri dari 28 atlet, harapan Indonesia berada di pundak La Memo dan Dewi Yuliawati. La Memo khususnya, pemuda asli Maluku berumur 23 tahun ini “ditemukan” dan dilatih oleh mantan atlet dayung Indonesia, alm. Thomas Kunuelaketika berusia 16 tahun sebelum berhasil menjadi satu-satunya pedayung putra Indonesia yang berhasil masuk ke Olimpiade Rio 2016 setelah Olimpiade tahun 1952. Selain itu, ia pun meraih medali perunggu di SEA Games 2013 dan dua medali emas di SEA Games 2015.



    Lain lagi dengan cerita perjuangan Dewi Yuliawati, atlet dayung wanita asal Tangerang yang berusia 21 tahun. Berasal dari keluarga sangat sederhana, himpitan ekonomi tak menyurutkan semangatnya menekuni olahraga yang dicintainya ini. Begitu pun dengan ketakutannya pada air setelah pernah hampir tenggelam. Unik memang, sebagai atlet yang berkecimpung di air, Dewi baru bisa berenang pada tahun 2016, empat tahun setelah ia menjadi atlet dayung profesional. Bersama La Memo, ia berhasil masuk ke Olimpiade Rio 2016. Sementara ia bahkan belum pernah mengikuti SEA Games dan Asian Games.

    Perjuangan keduanya dan 26 atlet Dayung lainnya bisa disaksikan di Danau Jakabaring Sports City, Palembang tanggal 21 – 24 Agustus 2018 dengan harga tiket Rp50.000 – Rp100.000.


    BMX


    Kata siapa sepeda BMX hanya sekadar mainan anak-anak saja? Berawal dari youth culture anak-anak California di tahun 1970-an, olahraga sepeda ini telah berkembang menjadi cabang olahraga legit yang dipertandingkan di tingkat dunia, termasuk di Asian Games. Indonesia pun punya deretan atlet BMX yang berbakat, salah satunya adalah Toni Syarifudin.

    Meskipun pada awalnya sempat mendapat tentangan dari ibunya yang menganggap BMX adalah olahraga yang tidak aman dan identik dengan “anak nakal”, namun pemuda kelahiran Solo 13 Juni 1991 tersebut mampu mematahkan stigma tersebut lewat prestasi yang ia raih. Setelah mendapat medali emas di SEA Games 2011, ia menjadi atlet sepeda Indonesia pertama yang berkompetisi di nomor BMX pada Olimpiade Rio 2016.

    Sayang, langkahnya terhenti di babak perempat final ketika ia mengalami kecelakaan dan cedera serius. Tidak patah semangat, kini pria yang sempat mendapatkan beasiswa selama empat tahun dari World Cycling Center di Swiss tersebut bersama dengan I Gusti Bagus Saputra dan Rio Akbar menjadi salah satu tumpuan harapan untuk medali emas pada Asian Games 2018. 

    Aksi keren Tony dan atlet BMX lainnya bisa kita lihat di Pulo Mas International BMX Center tanggal 25 Agustus 2018 dengan harga tiket Rp100.000. 


    Paralayang



    Cerita menarik lainnya datang dari cabang olahraga Paralayang, khususnya nomor Ketepatan Mendarat Putri yang diwakili oleh Rika Wijayanti. Lahir dan besar di dekat landasan mendarat paralayang membuat gadis 23 tahun yang berasal dari keluarga petani ini jatuh cinta dengan olahraga yang memicu adrenalin tersebut. Saat kecil, ia kerap bermain di landasan mendarat dan membantu melipat parasut.

    Adalah sang kakak, Joni Efendi, seorang atlet paralayang yang berjasa mengenalkan olahraga ini kepadanya saat masih berumur 16 tahun. Rika hanya butuh waktu 3 bulan untuk menguasai teknik dasar paralayang dan sejak itu tak berhenti “terbang”. Tahun lalu, ia berhasil muncul menjadi juara 1 di dua dari empat seri Paragliding Accuracy World Championship (PGWAC), sekaligus mengukuhkan posisinya menjadi juara 1 dunia, menggunakan parasut pinjaman dari KONI kota Batu.

    Awal tahun ini, ia mengawali PGWAC dengan baik dengan menjuarai seri pertama di Turki. Di Asian Games kali ini, Rika pun berusaha mendarat di medali emas. God speed!


    (Image: dok. Instagram. Kolase oleh Maya Putri)