Career

Survei: Ini Yang Wanita Milenial Cari Dalam Karir

  by: Alexander Kusumapradja       16/8/2018
  • Who run the world? Girls!

    Ya, bila sebelumnya kaum wanita kerap dipandang sebelah mata dalam lingkungan kerja, kini kamu boleh berbangga hati karena kontribusi dan kinerja wanita dalam dunia profesional semakin diakui keberadaannya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pekerja wanita Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dan di beberapa sektor hampir menyamai pekerja pria. Bukan hal aneh pula bagi wanita Indonesia untuk menduduki jabatan penting dalam sebuah perusahaan atau menjadi pemimpin. 

     Well, dinamika dunia kerja memang tak pernah berjalan di tempat, begitu pun dengan kondisi yang dihadapi kaum wanita dalam karier. Para pekerja wanita saat ini mampu mengejar target dalam edukasi, karier, dan pendapatan yang mungkin tidak didapatkan oleh wanita generasi-generasi sebelumnya akibat stereotipe gender dan seksisme.



    Cosmo telah melakukan survei tentang serba-serbi karier yang diikuti oleh 650 responden pekerja wanita generasi milenial (kelahiran 1981 sampai 1996 atau yang tahun ini berusia 22 sampai 37 tahun) dari berbagai kota di Indonesia. Apa saja hasilnya? Let’s break it down!



    Photo by rawpixel on Unsplash


    Hopes and Challenges

    Wanita milenial punya banyak hal untuk sukses di tempat kerja dengan bekal pendidikan tinggi dan potensi untuk memimpin. Namun, seiring keberhasilan, para wanita muda ini juga menghadapi tekanan besar dan tantangan ketika berhadapan dengan stereotipe gender dan berbagai concern lain dalam karier.

    Bicara tentang kepuasan dan pencapaian karier, 70,9% responden mengaku belum puas dengan karier yang dijalani saat ini. Selain karena mayoritas memang masih dalam proses meniti karier ke jenjang lebih tinggi, ketidakpuasan tersebut juga berasal dari beberapa tantangan yang dihadapi. 


    Beberapa tantangan terbesar dalam karier yang dihadapi wanita milenial adalah:

    • 22,5% Merasa kurang percaya diri.
    • 21,1% Merasa kurang skill/ilmu.
    • 18,5% Tidak mampu menyeimbangkan antara karier & personal.
    • 13,4% Kekurangan sosok role model/mentor.
    • 12,6% Ketidakseimbangan dalam hal gaji.
    • 12% Kurang mendapat pengakuan dari rekan kerja/atasan.


    Ada pun, untuk harapan karier yang paling penting, persentasenya adalah:

    • 58,3% Kehidupan karier dan personal yang seimbang (work-life balance).
    • 14,2% Pendapatan yang besar (big salary).
    • 13,8% Membuat perubahan (making difference).
    • 9,1% Kemajuan karier/jabatan (career advancement).
    • 4,6% Mendapat pengakuan (recognition).


    Melihat tantangan dan harapan tersebut tersebut, wanita milenial sebetulnya mampu dan tidak perlu takut untuk melawan ekspektasi sosial atau stereotipe yang mampu menjadi perintang karier. Tak perlu cemas, Cosmo is here to help you!


    Photo by rawpixel on Unsplash


    Can We Have It All?

    Dengan teknologi yang membuat kita stay connected sepanjang waktu, tak jarang urusan kerja pun melebur ke kehidupan personal kita. Tantangan yang tak kalah besar adalah membagi waktu antara karier, personal, dan hubungan kita ke keluarga dan pasangan. Sama sekali bukan hal yang mudah, tentu saja. Namun, mayoritas responden merasa yakin mereka mampu melakukannya.


    Karier dan personal yang seimbang:

    • 77,1% Responden yakin bisa menyeimbangkan antara karier, relationship/keluarga, dan personal.
    • 66% Responden tidak bersedia mengorbankan aspek kehidupan personal (waktu/komitmen) mereka demi karier.
    • 65,8% Responden tidak setuju bahwa menikah dan punya anak akan menghalangi kemajuan karier mereka.


    Wanita pun dibayangi oleh prioritas memilih antara karier dan keluarga, terutama ketika mereka memutuskan menikah dan punya anak. Ini dia hasilnya:

    • 60,9% Responden mengaku saat ini mereka sedang fokus dalam karier, namun berencana akan slow down saat mereka sudah menikah dan punya anak.
    • 22,3% Responden mengungkapkan bahwa mereka tidak ingin menjadi ibu rumah tangga dan akan terus mengejar karier sekalipun mereka sudah menikah dan punya anak.
    • 16,8% Responden mengaku menikmati karier mereka saat ini namun lebih memilih menjadi ibu rumah tangga jika mereka punya pilihan.


    Menyoal antara keseimbangan kerja dan personal, banyak pekerja yang mendambakan punya jam kerja yang lebih fleksibel dan opsi work from home dibanding kehidupan 9 to 5 di kantor.


    Jika harus memilih salah satu, wanita milenial akan memilih:

    • 56,6% Jam kerja yang lebih fleksibel.
    • 43,4% Gaji yang lebih tinggi.
    • 58,5% Responden menganggap jam kerja fleksibel sebagai sesuatu yang penting.
    • 35,1% Responden menganggapnya sangat penting.
    • 6,5% Responden menganggapnya tidak penting.



    Photo by Clem Onojeghuo on Unsplash




    Climbing the Ladder in Heels

    Menurut riset Grant Thornton tahun 2017, Indonesia termasuk negara dengan peningkatan terbaik dalam hal jumlah wanita yang menduduki posisi senior di perusahaan dengan peningkatan dari 24 persen di tahun 2016 menjadi 28 persen di tahun 2017.

    Bagaimana dengan gap gaji pekerja pria dan wanita? Mengutip data BPS, pada Agustus 2017 rata-rata upah bersih pekerja perempuan tercatat sebesar Rp2,3 juta/bulan. Jumlah tersebut meningkat 5,02% dari Agustus 2016 sebesar Rp2,19 juta/bulan. Namun, gap pendapatan antara pekerja laki-laki dan wanita nampak makin melebar di Agustus 2017, yakni mencapai Rp690.000/bulan.


    Untuk mengetahui persepsi tentang lika-liku wanita menapaki tangga karier di dunia kerja, let’s see these stats:

    • 89,7% Responden merasa punya kesempatan yang sama dengan karyawan pria untuk berkembang dalam karier.
    • 88,2% Responden mengaku atasan mereka menganggap wanita punya suara yang sejajar pria dalam rapat/pengambilan keputusan.
    • 88% Responden menganggap kantor/bidangnya memberikan kesempatan yang sama bagi wanita dan pria untuk maju dalam karier.
    • 61,4% Responden mengaku ingin menjadi pemimpin di tempat kerja.
    • 48,6% Responden merasa pemimpin wanita harus lebih banyak berkorban dibanding pemimpin pria.
    • 40,5% Responden merasa pria masih mendapat gaji lebih besar dibanding wanita walau dalam pekerjaan dan posisi yang sejajar.
    • 20,8% Responden merasa jenis kelamin mereka mempersulit kesempatan untuk naik gaji/promosi jabatan/kesempatan training.


    Membaca data tersebut, tampaknya mayoritas responden merasa optimis tentang kesetaraan gender di tempat kerja mereka saat ini, tapi uniknya, 68,9% responden mengaku bahwa mereka lebih menyukai dipimpin oleh atasan pria dibanding atasan perempuan. Hal itu terkait dengan stereotipe bahwa atasan perempuan lebih bawel dan bossy dibanding pria, serta adanya Queen Bee’s Syndrome yaitu saat wanita berlomba menjadi the alpha female dan menjatuhkan saingannya instead of bekerjasama dan saling mendukung. Terlepas dari hasil tersebut, mayoritas responden juga mengungkapkan bahwa jenis kelamin sama sekali bukan masalah asalkan sang atasan memang mampu memimpin dengan baik. 


    Dihadapkan dengan pilihan antara meniti tangga karier sebagai karyawan atau membangun usaha sendiri, responden menjawab:

    • 50,3% Memilih membangun usaha/start up sendiri.
    • 49,7% Memilih meniti tangga karier dalam perusahaan.


    Photo by Icons8 team on Unsplash


    Create a safe place for woman

    Cosmo tak ketinggalan bertanya tentang hak dan perlindungan wanita di tempat kerja mereka saat ini di mana 57,5% responden mengaku mereka merasa nyaman bekerja di industri/lingkungan kerja yang didominasi pria.


    Hasil-hasil lainnya meliputi:

    • 90,6% Responden mengaku merasa aman di tempat kerja mereka.
    • 23,1% Responden mengaku pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan terkait gender dan seksisme di tempat kerja.
    • 11,2% Responden mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja.
    • 20,3% Melaporkan pelecehan tersebut ke atasan atau bagian Human Resources Department.
    • 29,8% Perusahaan menanggapi serius laporan tersebut.


    Walaupun jumlah responden yang mengaku pernah mengalami sexual harassment di tempat kerja termasuk kecil, namun bukan berarti hal itu boleh dibiarkan begitu saja. Sayangnya, hanya segelintir responden yang berani melaporkan pelecehan tersebut dan belum semua perusahaan menanggapi serius laporan tersebut. 


    Idealnya, tempat kerja seharusnya memiliki tempat untuk melaporkan kasus-kasus pelecehan atau sekalipun ada mungkin kurang disosialisasikan. Bila kantor memang tidak kooperatif atau mengacuhkan, kamu pun berhak melapor pelecehan tersebut ke pihak berwajib, namun sebelumnya lebih baik berkonsultasi lebih dahulu dengan lembaga pendampingan seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH), terutama bila kamu belum sepenuhnya yakin untuk mengajukan kasus tersebut.


    Satu hal lain yang juga memancing rasa ingin tahu Cosmo adalah penerapan hak cuti menstruasi bagi pekerja wanita.

    • 26,2% Responden mengaku tempat kerja mereka memberikan cuti menstruasi.
    • 11,9% Responden mengaku pernah menggunakan cuti menstruasi.


    Jumlah tersebut terasa sangat minim dan memang dalam data yang pernah dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2017, dari 3.041 perusahaan seluruh Indonesia yang disurvei, baru ada 152 perusahaan yang memberikan fasilitas terbaik bagi pekerja wanita. Padahal seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13 tahun 2003, perusahaan seharusnya memenuhi hak pekerja perempuan yang meliputi Hak Cuti Menstruasi, Hak Cuti Hamil & Melahirkan, Hak Cuti Keguguran, Hak Menyusui/Memerah ASI, serta perlindungan keamanan dan kesehatan bagi pekerja perempuan yang bekerja di shift malam. 


    In the end of the day, dari survei kali ini Cosmo merasa perkembangan wanita di dunia kerja telah mengarah ke jenjang yang jauh lebih positif dibanding sebelumnya, meskipun tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak tantangan atau hal-hal yang sebetulnya bisa lebih baik lagi. Tapi, Cosmo tetap optimis bahwa sekarang ini adalah glorious time for women to make their marks in the career world. Bagaimana dengan kamu? Semoga tetap semangat dalam menjalani kariermu ya dear! We know you can do it!


    (Image opener: Dolgachov©123RF.com)