Better You

Kisah Sunyi Penyintas Bunuh Diri #SuicidePrevention

  by: Alexander Kusumapradja       28/8/2018
  • Untuk setiap orang yang memutuskan bunuh diri, ada sekitar 280 orang yang membatalkan niatnya. Mendengarkan kisah mereka bisa membuatmu berpikir ulang. 


    Di dalam sebuah tenda kecil di tengah hutan Panama, Carly Schwartz menggenggam erat kantung plastik dengan kedua tangannya, di kepalanya berkecamuk pikiran untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia duduk bersila di atas kasur tipis, tubuhnya bergetar seiring air mata yang membasahi kedua pipinya.



    Ya, dia telah memutuskan. Dia ingin mati.


    Saat Carly tiba di hutan Tres Brazos setahun sebelumnya, ia baru saja menginjak usia 30 tahun, resign dari pekerjaannya sebagai deputy editor di The Huffington Post, membeli tiket sekali jalan dari New York ke Mexico City untuk menjalani beasiswa di bidang microfinance, dan memulai apa yang ia sebut sebagai “solo Latin American adventure.”

    Ia menghabiskan harinya mewawancarai para wanita di desa-desa pegunungan, bersepeda keliling kota, dan berkenalan dengan orang-orang yang datang dari segala penjuru dunia. Bahasa Spanyolnya semakin lancar dan untuk kali pertama dalam waktu yang lama, ia merasa begitu bebas dan puas.

    Satu kesempatan membuka kesempatan yang lain dan ia pun pindah ke Panama untuk membantu temannya membuka sekolah jurnalisme di tengah hutan. “Saya merasa begitu terinspirasi, pandai, dan menarik,” katanya. “Saya seperti jatuh cinta dan menemukan kembali pendidikan jurnalisme.”

    Carly telah mengonsumsi obat antidepresan sejak kuliah, namun seiring waktu ia merasa Panama telah berhasil menyembuhkannya, jadi dia memutuskan untuk berhenti minum obat dan yakin bahwa depresinya tak akan datang lagi.

    Saat itu, ia merasa begitu yakin.

    Namun, beberapa minggu kemudian, keyakinan itu lenyap.


    Ia mulai menghabiskan waktu dengan berbaring seharian di atas ranjang dan pura-pura sakit. Pekerjaan yang tadinya membuatnya bersemangat kini justru menjadi beban dan dia mulai meragukan kemampuan mengajarnya. Seringkali ia menangis begitu saja dan kapan saja. Suatu hari sendal yang ia pakai putus, dan ia langsung terisak-isak sambil mengeluh ia tak akan bisa membeli sepasang sendal baru. Hari lain, dia berniat membersihkan kamar mandi komunal namun malah kembali menangis dan merasa ia tak akan mampu menuntaskan tugas itu.

    Ia pun kembali menenggak obat antidepresannya, berharap mood-nya akan membaik. Ia menunggu. Beberapa minggu terlewat. Hal itu tak kunjung terjadi.

    “Rasanya seperti kehilangan arah dan sangat kesepian, saya merasa seperti tidak punya tempat di planet ini,” papar Carly. “Pikiran untuk bunuh diri makin lama makin nyaring dan nyata. Saya bilang ke diri sendiri jika saya bisa mengakhiri semuanya dan tidak lagi tersiksa dengan pikiran saya sendiri. Saya mulai mencari cara untuk melakukannya dengan metode yang paling tidak menyakitkan.”


    Suatu hari, dia berjalan tanpa tujuan di sekitar area kemah dan menemukan kantung plastik yang tergeletak begitu saja. Saat itulah ada bisikan di kepalanya: cekik dirimu sendiri.

    Ia meraih kantung itu dan menyelinap ke tenda terdekat. Saat itu adalah Kamis siang dan semua orang sedang berenang di sungai—tidak akan ada orang yang mencari dirinya. Dia duduk selama hampir 20 menit sambil berpikir betapa segalanya akan terasa enteng bila dia bisa membungkam pikirannya. “Saya merasa ingin tidur selamanya,” akunya.

    Ia mendekatkan kantung itu ke wajahnya. Mengambil beberapa hela napas. Lalu tubuhnya membeku.

    “Tiba-tiba saya ingin hidup,” ujarnya. “Di momen itu saya berpikir: Saya tidak mau mati. Saya hanya ingin ditolong.”

    Segala pikiran buruk itu menguap secepat mereka datang—hanya kantung plastik yang tergolek lemas di dekatnya yang menjadi satu-satunya bukti atas kejadian yang hampir saja terjadi.



    Liputan media tentang bunuh diri kerap disajikan dengan nada sensasional. Berita tentang Anthony Bourdain dan Kate Spade tahun ini ramai diangkat media dengan begitu detail—fenomena yang menurut sebuah penelitian bisa mendorong lebih banyak kasus bunuh diri susulan. (Setelah Robin Williams bunuh diri di tahun 2014, tingkat bunuh diri di Amerika meningkat sebesar 10 persen dalam empat bulan setelahnya.)

    “Ketika seorang public figure memutuskan bunuh diri, mereka menjadi contoh dari cara paling negatif untuk mengatasi rasa sakit emosional,” ujar John Draper, Ph.D., direktur eksekutif dari The National Suicide Prevention Lifeline. “Saat Anda dihantui rasa ingin bunuh diri atau merasa lemah dan putus asa, lantas Anda mengikuti berita tentang kepergian seseorang yang dikagumi publik dengan begitu tiba-tiba dan mengejutkan, Anda bisa berpikir, “Kalau hal ini terjadi pada mereka, harapan apa yang saya punya?”


    Namun, beberapa cerita tentang bunuh diri justru bisa membangkitkan harapan: Untuk setiap orang yang bunuh diri, ada 280 orang lainnya yang berpikir serius untuk mengakhiri hidup mereka namun mengurungkan niatnya. Data itu dihimpun oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA). Carly adalah satu dari 280 orang tersebut. Pengalaman hampir bunuh diri tersebut menyimpan kekuatan luar biasa, menurut pakar kesehatan mental—dan bahkan mampu menyelamatkan nyawa seseorang.

    “Untuk menemukan jawaban terbaik atas pertanyaan kenapa bunuh diri terus terjadi dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya, mungkin kita harus memindahkan fokus dari orang yang telah meninggal bunuh diri ke mereka yang masih hidup—280 orang lain yang masih selamat,” ujar John. “Baru sedikit dari mereka yang ditanya atau berbicara tentang perjuangan mereka melewati pengalaman nyaris bunuh diri. Menghindari topik itu justru akan memperkuat stigma yang menjadi musuh dari harapan dan proses pemulihan.”


    Sehari setelah Carly hampir mengakhiri hidupnya di tenda, ia terbang pulang ke New York untuk menjalani perawatan mental. Ketika teman-temannya bertanya kenapa ia meninggalkan Panama lebih cepat, dia hanya menjawab sekadarnya tentang depresinya. “Saya tidak pernah mengaku kalau saya dihantui rasa ingin bunuh diri,” ujarnya.

    Banyak orang yang nyaris bunuh diri harus melewati masa setelahnya dalam diam dan sendirian, terlalu malu untuk bicara soal itu karena takut kehilangan teman, keluarga, karier, dan reputasi.


    Di awal 20-an, ketika ia masih bekerja sebagai peneliti di Philadelphia, Heidi Bryan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat: “Saya kehilangan arah dan tidak bahagia,” ucapnya. “Saya benci diri saya sendiri. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat pada semua perasaan negatif dan berusaha melupakannya lewat minuman keras.”

    Satu hari, setelah bertengkar dengan pacarnya, dia berdiri di dapur dan menggenggam segelas anggur merah, menyaksikan pacarnya membanting pintu dengan gusar. Heidi telah menemui psikiater dan mengonsumsi antidepresan, dan di momen itu, insting pertamanya adalah menenggak obatnya. Dia membuka botol dan menumpahkan segenggam pil kecil berwarna pink ke telapak tangannya, lalu memasukkan semua pil itu ke mulutnya, menahannya di antara pipinya sambil merasakan pil-pil tersebut melumer. Dia menunggu sampai semenit penuh. Lalu memuntahkannya. Baru bertahun-tahun kemudian dia menyadari bahwa pengalaman tersebut bukanlah hal yang memalukan, namun menunjukkan kekuatannya—sebuah pencerahan yang tidak hanya menyelamatkannya, tapi juga nyawa orang lain.


    “Orang sering membaca cerita tentang penyintas kanker payudara, serangan jantung, stroke, dan kita tahu cerita pemulihan semacam itu bisa membantu orang lain yang mengalaminya, atau seseorang yang ibunya baru didiagnosa,” ujar Shelby Rowe, manajer program pencegahan bunuh diri pada remaja untuk Oklahoma Department of Mental Health and Substance Abuse Services. “Banyak orang melewati masa krisis setelah percobaan bunuh diri dengan perasaan terisolasi dan sendirian, karena mereka pikir hanya mereka yang melakukannya. Tapi itu tidak benar. Ada jutaan cerita orang yang bertahan hidup yang sayangnya belum terdengar.”

    Bagi banyak orang yang serius mencoba bunuh diri, memilih untuk tetap hidup sama rumitnya dengan perasaan ingin mati. Terkadang harapan itu muncul begitu saja, seperti mendapat telepon dari teman atau mendengarkan lagu yang bermakna di radio.


    48 jam setelah kabar bunuh diri Bourdain menyebar, Amanda Wang sedang duduk di barisan belakang resital piano keponakannya. Putranya yang baru berumur 2 tahun bermain di dekat kakinya, dan Amanda berpikir apakah ia akan mengakhiri hidupnya hari itu juga atau tidak.

    Dia sering dihantui pikiran untuk bunuh diri. Di malam dia mendengar tentang Bourdain, dia mengirim email ke terapisnya: “Dia (Bourdain) adalah orang yang sangat manusiawi dan saya bisa relate terhadapnya. Tapi dia tetap tidak bisa bertahan hidup. Saya bisa merasakan kesedihannya dan hal itu membuat saya ikut cemas, sedih, dan berpikir untuk mengakhiri hidup saya.” Bayangan bunuh diri terus bergumul di benaknya—moncong pistol di pelipisnya atau tali yang mengikat lehernya.


    Ketika Amanda menyaksikan resital piano tersebut dengan perasaan gundah dan tak berdaya, seorang gadis memainkan lagu “So Big/So Small” dari musikal Dear Evan Hansen. “Lagu itu tentang seorang ibu yang ingin berada di samping anaknya,” kenangnya. “Si anak takut ibunya akan pergi, namun sang ibu meyakinkannya bahwa ia tak akan pergi ke mana-mana. Hal itu bergema di dalam diri saya.” Dia memandang putra kecilnya yang sedang memainkan bungkus permen karet, dan ia mulai menangis.

    “Saya menyadari saya juga tidak ingin pergi ke mana-mana, demi anak saya,” ujarnya. “Perasaan menderita tersebut sulit ditangani, tapi ketika mood sedang membaik, Anda akan melakukan apa yang Anda bisa untuk ‘menabung’ harapan dan kekuatan agar saat Anda kembali ke masa suram, Anda punya cukup energi untuk melewatinya.”




    Heidi juga berhasil melewatinya dengan cara memuntahkan semua pil pink itu, tapi butuh waktu lama baginya untuk mengerti bagaimana cara mempertahankan mindset untuk tetap ingin hidup tersebut. Bertahun kemudian, ketika dia sudah sober dan menjalani pernikahan yang bahagia, saudara laki-lakinya bunuh diri. Rasa kehilangan itu membuatnya hancur dan ia kembali diserang perasaan ingin mati.

    “Apapun yang berkecamuk di pikiran saudara saya waktu itu—bahwa keluarga kami akan bisa melewatinya atau hidup kami akan lebih baik tanpanya—saya harap saya bisa bilang kepadanya kalau dia salah,” papar Heidi. “Tapi hal itu juga yang membuat saya sadar, jika dia salah, saya juga salah. Pesan yang ingin saya sampaikan kepadanya saya juga sampaikan ke diri sendiri. Saya punya bukti di hadapan saya kalau saya harus melanjutkan hidup.”

    Satu dari kesalahan terbesar seputar pencegahan bunuh diri adalah hal itu tidak selalu tentang keberuntungan—ada teknik yang bisa kita coba untuk melaluinya, yang sayangnya tidak diketahui banyak orang.

    Selama beberapa tahun, Amanda pindah dari satu psikiater ke psikiater atau terapis lain demi mencari cara untuk melawan pikiran bunuh diri dan depresinya. Tak ada yang manjur. Sejak remaja, ia sering terbangun di pagi hari sambil berpikir apakah dia punya cukup keberanian untuk mati hari itu atau tidak. Dia sering membayangkan cara mengubah peristiwa sehari-hari, seperti menunggu kereta atau menyeberang jalan, menjadi percobaan bunuh diri. Pernah di umur 20-an ketika minum bir bersama teman-temannya di stadion, dia membayangkan dirinya terjatuh dari pinggir balkon.

    Butuh tiga kali masuk rumah sakit baginya sebelum dokter akhirnya mengusulkan Dialectical Behavior Therapy (DBT), yang menangani self-harm dan percobaan bunuh diri dengan menekankan pada skill perilaku, seperti mindfulness yang bisa pasien terapkan untuk mengatur emosi menyakitkan dan keluar dari krisis. “Terapi ini mengajarkan saya bagaimana cara menjalani hidup dengan tendensi bunuh diri,” aku Amanda yang mempraktikkan teknik distraksi seperti mandi air dingin, melakukan push-up, dan menyebut nama-nama buah atau sayuran sesuai abjad setiap pikiran negatif mulai menghantui kepalanya.

    Amanda termasuk mereka yang beruntung.



    “Adalah hal yang mencengangkan melihat adanya jurang antara perawatan berbasis data ilmiah yang secara spesifik ditujukan bagi pasien bertendensi bunuh diri dengan perawatan saat ini yang fokusnya adalah mengurung pasien di rumah sakit dan mencekoki mereka dengan obat,” papar David Jobes, seorang dokter dan direktur dari Laboratorium Pencegahan Bunuh Diri di Catholic University. Para ahli kesehatan mental, menurutnya lebih khawatir terkena tuduhan malpraktik jika seseorang yang tidak pernah dirawat di rumah sakit akhirnya memutuskan bunuh diri, jadi mereka mengambil sikap “sedia payung sebelum hujan” dengan memasukkan pasien mereka ke rumah sakit.  

    David mengembangkan metode yang menargetkan dan mengatasi masalah yang membuat orang ingin bunuh diri dengan nama Collaborative Assessment and Management of Suicidality (CAMS), namun ia mengaku bahwa metode itu hanyalah satu dari “beberapa perawatan psikologis efektif yang tidak dimanfaatkan dengan lebih luas.”

    Perawatan lainnya, Brief Cognitive Behavioral Therapy (BCBT), adalah terapi berbincang 12 sesi bagi mereka yang mencoba bunuh diri dengan fokus ke bagaimana mereka merespons situasi stressful dan mengatur emosi mereka. “Orang-orang suicidal cenderung mengambil keputusan yang justru membuat lebih banyak masalah—pilihan yang tidak membantu, seperti mabuk, menarik diri atau bertahan di hubungan yang berbahaya,” jelas Craig Bryan, direktur eksekutif dari The National Center for Veterans Studies di University of Utah, yang telah menerima dana jutaan dollar untuk meneliti perawatan bagi para veteran perang yang suicidal, termasuk metode BCBT tadi. “Kami bilang ke pasien, ‘Cara berpikir dan pilihan yang Anda buat ini tidak akan menolong Anda, tapi justru membuat Anda tambah kalut dan hal itu yang mendorong keinginan untuk bunuh diri. Jadi mari kita lihat lagi pilihan dan pikiran yang bisa membantu Anda.’”


    Faktanya, baru setengah dari calon psikolog/psikiater dan kurang dari 25 persen pekerja sosial yang dilatih untuk mencegah bunuh diri, menurut laporan American Association of Suicidality tahun 2012. 

    “Kebanyakan terapis hanya mempraktikkan konseling secara umum—bersikap ramah, hangat, menganggukkan kepala, dan bertanya ke pasien tentang perasaan mereka,” cetus Craig. “Mereka tidak dilatih dengan metode lebih kompleks yang terbukti efektif untuk menangani risiko bunuh diri.”

    Kendala lainnya adalah butuh waktu 17 tahun bagi sebuah metode untuk diterima sebagai praktik klinis. Menurut David itu jangka waktu yang terlalu lama bagi metode yang telah teruji efektif.

    Meskipun banyak ahli kesehatan mental yang menyebut bunuh diri termasuk dalam krisis kesehatan publik—bunuh diri adalah penyebab kematian terbanyak nomor 10 di Amerika Serikat (terbesar kedua di antara umur 10 sampai 34 tahun) dan terus meningkat setiap tahunnya sejak 1999—mempelajarinya secara ilmiah belum menjadi prioritas. Tahun lalu The National Institutes of Health menghabiskan lebih banyak untuk meneliti asma dibanding bunuh diri dan pencegahannya.


    Ashley Womble berhasil mengendalikan tendensi bunuh dirinya berkat Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang mirip dengan BCBT.

    10 tahun lalu ia menjalani impiannya, bekerja sebagai jurnalis di New York City, jauh dari masa kecilnya yang kurang bahagia di Texas ketika seorang anggota keluarganya didiagnosis dengan masalah medis yang serius. Sang anggota keluarga menolak perawatan dan hidup sebagai gelandangan, dan Ashley merasa ikut bertanggung jawab atas hal itu. Dia tidak bisa fokus bekerja, dan ketika tidak sedang di kantor, dia akan berbaring di kasur dan bersembunyi di balik selimut sambil membayangkan bagaimana rasanya mati. “Fantasi untuk meninggalkan dunia ini begitu menggoda,” akunya. Beberapa bulan kemudian, fantasi tersebut berkembang menjadi rencana nyata. Apa pil yang harus ia telan? Berapa banyak? Adakah orang yang akan merindukannya? 

    Curiga dengan fokusnya yang terus menurun, bosnya pun mengajaknya bicara dan bertanya apa yang salah dengannya. Hari berikutnya, Ashley menemui psikiater yang mendiagnosis ia menderita depresi dan memberinya obat. “Butuh waktu sebelum obat itu bereaksi dan tidak instan seperti sulap,” kenangnya. Dan dia masih berjuang dengan kesehatan mentalnya. Mengikuti terapi CBT adalah titik balik baginya yang membantunya mengenali pemicu dan menghilangkan pikiran negatif yang muncul. Setiap hujan turun, insting pertama Ashley adalah khawatir tentang anggota keluarganya yang gelandangan—apakah dia sendirian di luar sana? Basah kuyup dan menggigil? “CBT membantu saya berpikir, ini cuma hujan. Cara ini membantu saya menghilangkan pemicu negatif tersebut.”


    Komunitas kesehatan mental mungkin berkembang dengan sangat perlahan, namun ada lebih banyak orang dari yang Anda kira—teman, rekan kerja, tetangga—yang telah menghadapi momen terkelam mereka dan kini berani mengenangnya.

    “Saya cerita ke sahabat saya tentang apa yang terjadi di Panama dan dia langsung menangis,” ujar Carly. “Saya merasa hal ini terlalu menakutkan untuk diceritakan ke orang lain.” Dan untuk waktu lama, dia menyimpan sendiri cerita itu, namun kemudian: “Satu hal paling menyakitkan tentang kepergian Anthony Bourdain dan Kate Spade adalah tidak ada orang di hidup mereka yang tahu apa yang mereka rasakan. Kita hidup di masyarakat di mana bicara soal kesehatan mental masih dianggap tabu dan penderitanya harus bersembunyi di kegelapan dan keheningan.”


    Carly pun dengan berani bicara melalui Jed Foundation, organisasi kesehatan mental nonprofit yang berfokus membantu para remaja dan dewasa muda. Ia pun kini secara terbuka bicara tentang kondisinya pada teman-teman dan rekan kerjanya. “Tidak ada orang yang memperlakukan saya dengan berbeda,” tukasnya. “Butuh perjuangan untuk perlahan mengurangi rasa malu itu. Saya tidak menganggap saya seorang pemberani. Saya hanya orang yang bicara tentang pengalaman yang saya alami.”

    Heidi juga telah melewati 20 tahun terakhir dengan cara yang sama. Dia turut mendirikan organisasi pencegahan bunuh diri Prevent Suicide Pennsylvania dan bekerja sebagai pelatih/pembicara pencegahan bunuh diri. “Awalnya saya bahkan tidak tahu jika banyak orang lain di luar sana yang punya pengalaman yang sama dengan saya,” ungkapnya.


    Orang-orang tersebut ternyata banyak di luar sana dan cerita mereka penting untuk didengar. Bukan karena akhir ceritanya, tapi karena cerita mereka masih akan berlanjut.



    Jika Anda atau orang yang Anda kenal merasakan keinginan untuk melakukan bunuh diri, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.


    Beberapa instansi, LSM, dan komunitas yang bisa Anda hubungi:

    Indopsycare. Email: [email protected]

    International Wellbeing Center. SMS/WhatsApp: 081290529034

    Yayasan Pulih. E-counseling: [email protected]

    Save Yourselves. Email: [email protected]


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com. Alih Bahasa: Alexander Kusumapradja. Foto: Hadis Safari via Unsplash.com)